Usaha Tempe Rumahan Bertahan di tengah Kebutuhan Pasar
- 31 Agt 2026 15:02 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Aktivitas produksi tempe masih menjadi bagian dari geliat usaha pangan rumahan di kawasan Panorama, Kota Bengkulu. Salah satu usaha yang dikelola keluarga Aldi terus menjalankan proses produksi dengan menyesuaikan jumlah tempe yang dibuat berdasarkan kebutuhan pasar.
Adapun bahan utama yang digunakan dalam pembuatan tempe tersebut adalah kedelai dan ragi. Meski terlihat sederhana, proses pengolahannya membutuhkan sejumlah tahapan dan waktu sebelum tempe siap dipasarkan.
Aldi menjelaskan, proses dimulai dari pemilihan dan perebusan kedelai. Setelah itu, kedelai menjalani proses fermentasi awal menggunakan cuka selama kurang lebih 12 jam. Kedelai kemudian digiling, dicuci hingga bersih, lalu dicampur dengan ragi.
“Setelah diberi ragi, kedelai kemudian dibungkus dan didiamkan sekitar dua hari. Dari proses itu nantinya jamur putih akan tumbuh dan membentuk tempe,” ujar Aldi pada Senin, 31 Agustus 2026.
Untuk penjualan, menurtunya, sebagian besar tempe yang diproduksi disalurkan langsung ke Pasar Panorama. Sedangkan jumlah produksi menyesuaikan pesanan rutin yang diterima sehingga bahan baku dan proses pengolahan dapat disiapkan sesuai kebutuhan.
Tempe yang dibuat memiliki beberapa ukuran, mulai dari sekitar 7 ons hingga 1 kilogram. Harga jualnya disebut mulai dari Rp10 ribu per bungkus, sementara harga kedelai sebagai bahan baku saat ini berada di kisaran Rp550 ribu per karung dengan berat 50 kilogram.
Dari aktivitas produksi tersebut, Aldi menyebut omzet kotor usaha keluarganya berada di kisaran Rp6 juta hingga Rp7 juta per hari. Meski demikian, angka tersebut bergantung pada jumlah pesanan dan kondisi penjualan.
Menurut nya usaha ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari aktivitas ekonomi keluarga yang telah dijalankan secara berkelanjutan. Ke depannya ia berharap kegiatan produksi dapat terus berjalan dan berkembang mengikuti kebutuhan konsumen.
Salah seorang pembeli, Hana, mengatakan dirinya telah membeli tempe dari usaha tersebut selama sekitar satu tahun. Dimana tempe biasanya dibeli untuk kebutuhan konsumsi keluarga, termasuk ketika ada kegiatan atau hajatan.
Hanya menambahkan, salah satu hal yang menjadi pertimbangannya adalah kondisi tempe yang dinilai cukup padat sehingga tidak mudah hancur ketika dipotong.
“Kalau di sini kedelainya padat, berbeda dengan yang lain. Kalau dipotong juga tidak mudah hancur dan jamurnya matang sempurna,” tutur Hana.
Penulis : Beta Mahasiswa Magang UMB.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....