Tradisi Menghormati Harimau Masih Hidup, Ancaman Jerat Tetap Mengintai
- 29 Jul 2026 09:52 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Di Bengkulu, harimau bukan sekadar satwa liar, melainkan memiliki tempat istimewa dalam budaya masyarakat dan masih dihormati hingga kini. Di sejumlah daerah, harimau disapa dengan sebutan penuh penghormatan seperti ninik, nenek atau mamak, bahkan masyarakat masih mengenal kisah tentang tujuh manusia harimau yang berasal dari salah satu kabupaten di Bengkulu.
Tradisi tersebut menjadi gambaran bahwa harimau dipandang sebagai bagian dari warisan budaya yang patut dihormati. Namun, penghormatan yang diwariskan secara turun-temurun itu belum mampu menghapus ancaman terhadap kelestarian harimau di alam liar.
Jerat yang dipasang di kawasan hutan masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan satwa dilindungi tersebut. Ketua Yayasan Lingkar Inisiatif, Iswadi, mengatakan jerat harimau masih kerap ditemukan di sejumlah kawasan hutan.
"Selain jerat banyak lagi faktor kematian harimau, seperti perburuan liar. Atau dugaan meracun harimau, karena jika bangkai harimau masih ada itu indikasi racun yang kuat," katanya, 29 Juli 2026.

Foto: Ketua Yayasan Lingkar Inisiatif Bengkulu, Iswadi, saat di RRI, bertepatan dengan agenda Global Tiger Day, 29 Juli 2026.
Pihaknya secara rutin, bersama organisasi Tiger Heart, menurunkan tim untuk menggelar operasi sapu jerat, yakni membersihkan jerat yang dipasang untuk menangkap harimau maupun satwa liar lainnya. Dalam sepekan terakhir, tim telah menyisir lima titik di kawasan hutan untuk melakukan kegiatan tersebut.
Selain mengangkat jerat, tim juga melakukan pemantauan satwa liar menggunakan kamera jebak (camera trap). Koordinator Tiger Heart Bengkulu, Fajrimus Bima Putra, mengatakan kegiatan itu bertujuan merekam aktivitas satwa liar sekaligus mendokumentasikan hasil tangkapan kamera jebak.
Menurut Fajrimus, tidak hanya harimau yang dipantau selama kegiatan berlangsung. Aktivitas berbagai jenis satwa liar juga dicatat dan direkam sebagai bagian dari pengumpulan data untuk mengevaluasi kondisi populasi harimau serta satwa liar lainnya di habitat alaminya.
Berdasarkan hasil pemantauan sepanjang 2026, sedikitnya telah terjadi lima kasus harimau yang menjadi korban jerat maupun peracunan hingga menyebabkan kematian. Harimau yang terperangkap jerat tidak selalu mati di lokasi, tetapi sebagian yang berhasil diselamatkan mengalami luka permanen hingga cacat fisik yang membuat mereka sulit bertahan hidup di alam liar.
Kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena populasi harimau di Bengkulu diperkirakan hanya tersisa sekitar 25 hingga 40 ekor. Ancaman terhadap harimau juga terus meningkat akibat menyusutnya kawasan jelajah mereka.
Alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan pertambangan, serta aktivitas ilegal di kawasan hutan, menyebabkan habitat harimau semakin terfragmentasi. Hutan yang sebelumnya memiliki keanekaragaman vegetasi kini berubah menjadi kawasan yang lebih homogen sehingga populasi satwa mangsa ikut menurun dan harimau semakin kesulitan memperoleh makanan.
"Konflik yang terjadi saat ini tidak hanya jerat, tapi alokasi kawasan menjadi perkebunan baik skala kecil maupun besar baik ilegal maupun legal. Sehingga kawasan habitat yang seharusnnya menjadi ekosistem satwa terganggu," ujar Fajrimus.
Sebagai predator puncak, harimau memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Keberadaan satwa ini menjadi indikator bahwa keanekaragaman hayati di suatu kawasan masih terpelihara sehingga upaya pelestarian harimau tidak hanya berarti menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga keberlangsungan seluruh ekosistem hutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....