Pasca Operasi Merah Putih, Lingkar Inisiatif Ungkap Hutan Seblat Masih Dirambah

  • 27 Agt 2026 08:16 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Lembaga Lingkar Inisiatif Indonesia mengingatkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni untuk segera menunaikan janjinya memulihkan habitat Gajah Sumatera di Bengkulu. Peringatan tersebut disampaikan karena kawasan Bentang Alam Seblat dinilai masih mengalami perusakan yang mengancam keselamatan satwa langka.

"Sampai hari ini, janji Menhut Raja Juli Antoni, menurut kami belum ditunaikan secara utuh. Bentang Alam Seblat, nyatanya terus dirusak dan mengancam hidup satwa langka," kata Ketua Lingkar Inisiatif Indonesia, Iswadi di Bengkulu, Selasa 25 Agustus 2026.

Iswadi menjelaskan bahwa janji tersebut disampaikan Raja Juli Antoni saat mengawal Operasi Merah Putih pada akhir tahun 2025. Komitmen tersebut mencakup pemulihan kawasan bernilai ekologis tinggi yang menjadi habitat penting bagi Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera.

Namun, situasi di lapangan hingga pertengahan tahun 2026 dinilai belum menunjukkan perubahan berarti usai operasi tersebut. "Fakta hari ini, dari hasil temuan kami di lapangan. Perambahan masih terjadi. Ada banyak pondok baru di lokasi yang sudah ditertibkan," kata Iswadi.

Berdasarkan hasil patroli tim Lingkar Inisiatif hingga Juli 2026, aktivitas masyarakat yang merusak kawasan hutan masih terus ditemukan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi merusak kantong habitat satwa dilindungi di kawasan Bentang Alam Seblat.

Iswadi membeberkan adanya 37 titik perambahan dengan estimasi luasan lebih dari 200 hektare serta lima titik pembalakan liar. Selain itu, ditemukan pula satu titik pertambangan tanpa izin (PETI) di kawasan Hutan Produksi Air Teramang.

"Dan sedikitnya ada 18 pondok peladang baru di lokasi yang sudah ditertibkan. Mereka tersebar di Hutan Produksi Air Teramang, HPT Air Ipuh I, HP Air Rami dan HPT Lebong Kandis. Jadi, situasinya seperti mati satu tumbuh seribu," kata Iswadi.

Temuan pondok perambah di kawasan Bentang Alam Seblat. (Foto: Lingkar Inisiatif)

Berbagai temuan tersebut mengindikasikan bahwa penertiban melalui Operasi Merah Putih belum memberikan efek jera kepada para perambah. Akibatnya, upaya perusakan habitat gajah dan satwa liar lainnya di kawasan Seblat masih terus terjadi.

Iswadi merasa khawatir penanganan yang tidak serius dari Kementerian Kehutanan akan membuat upaya penyelamatan satwa menjadi sia-sia. Kekhawatiran ini diperkuat oleh temuan bangkai dua ekor Gajah Sumatera dan satu ekor Harimau Sumatera pada April 2026 lalu.

"Kami mendesak, Menhut bertindak lebih serius. Jangan sampai semua sia-sia. Tidak boleh lagi ada kerusakan atau pun kematian satwa langka di Bentang Alam Seblat," ujar Iswadi.

Bentang Alam Seblat dengan luasan lebih dari 150 ribu hektare merupakan salah satu kantong terakhir gajah di Bengkulu. Saat ini tutupan hutan di kawasan gabungan tersebut tersisa 59 persen akibat perambahan, perkebunan sawit, pertambangan, dan pembalakan liar.

Padahal, Kementerian Kehutanan telah menggelar Operasi Merah Putih pada Desember 2025 yang memusnahkan 113 pondok serta 17 ribu tanaman sawit. Penertiban tersebut juga mengamankan dua unit alat berat serta menangkap 12 orang terduga pelaku perambahan.

Meski demikian, kematian dua gajah dan satu harimau justru tetap terjadi di area yang diklaim telah dibersihkan pada April 2026. Berdasarkan hasil identifikasi, dua ekor gajah sumatera tersebut kuat dugaan mati akibat mengalami keracunan bahan kimia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....