Wasapadai Infeksi HMPV, Berikut Penjelasannya

  • 17 Jun 2026 19:03 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID,Bengkulu – Baru-baru ini Human Metapneumovirus (HMPV) menjadi salah satu virus pernapasan yang menyita perhatian dunia medis. Meskipun telah lama ada, HMPV kembali mendapat sorotan menyusul laporan kasus yang menyerang anak-anak di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Mengutip dari laman resmi Kemenkes RI HMPV berasal dari keluarga Paramyxoviridae, serupa dengan virus campak dan gondong. Virus ini berbeda dengan SARS-CoV-2, penyebab Covid-19 yang berasal dari keluarga Corona.

Virus yang sama-sama menular melalui saluran napas, namun gejala HMPV biasanya tidak menyebabkan kasus parah, kecuali pada individu dengan sistem kekebalan yang sangat lemah. Berbeda dengan Covid-19 yang dapat menyebabkan kerusakan luas pada jaringan paru-paru, HMPV cenderung tidak memiliki potensi fatal yang serupa.

Kasus HMPV ini rutin ditemukan, khususnya di negara-negara dengan sistem surveilans genomik yang baik. Kasus HMPV ini rutin ditemukan setiap tahunnya terutama di musim dingin namun dengan tingkat kematian yang sangat rendah. HMPV juga sudah lama ditemukan di Indonesia, HMPV adalah virus lama yang memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa.

Cara mencegahnya adalah dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker. Sama seperti COVID-19, kita dapat mengatasi virus ini dengan baik.

HMPV adalah jenis virus pernapasan umum yang termasuk dalam famili virus yang disebut Pneumoviridae kelompok yang sama dengan Respiratory Syncytial Virus (RSV). HMPV adalah virus yang menyerang saluran pernapasan, mirip dengan virus penyebab flu dan pneumonia.

Merangkum dari laman resmi Kemenkes RI berikut gejala virus :

  1. Batuk
  2. Demam
  3. Pilek
  4. Sesak napas
  5. Pilek
  6. Hidung tersumbat
  7. Sakit tenggorokan

Beikrut kelompok yang rentan terinfeksi HMPV :

  1. Bayi baru lahir.
  2. Anak-anak di bawah 5 tahun.
  3. Orang yang berusia lebih dari 65 tahun.
  4. Orang dengan asma yang menggunakan steroid.
  5. Mereka yang menderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
  6. Mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena kondisi seperti kanker atau HIV atau yang telah menjalani transplantasi organ.

Berikut langkah-langkah pencegahannya :

  1. Mencuci tangan dengan sabun.
  2. Menghindari kerumunan
  3. Memakai masker saat beraktivitas di ruangan padat maupun di luar ruangan dengan banyak orang berkerumun.
  4. Menerapkan etika batuk dan bersin.
  5. Segera akses layanan kesehatan jika ada gejala batuk pilek.
  6. Membatasi aktivitas saat sakit.
  7. Menghindari asap rokok.
  8. Meningkatkan imunitas dengan makan makanan bergizi, istirahat cukup, olahraga rutin serta kelola stres.

Pada kasus ringan HMPV, terapi mencakup istirahat, hidrasi yang cukup, dan obat pereda gejala seperti antipiretik untuk demam. Jika gejala berupa hidung tersumbat atau batuk, dekongestan dan pelembap udara dapat membantu meringankan ketidaknyamanan

Pada kasus berat HMPV, terutama pada pasien dengan pneumonia atau hipoksemia, terapi oksigen diperlukan untuk mempertahankan saturasi oksigen yang optimal. Pasien yang dirawat di rumah sakit mungkin membutuhkan ventilasi mekanis non-invasif.

Atau invasif tergantung pada tingkat kegagalan pernapasan. Penggunaan kortikosteroid dapat dipertimbangkan dalam kasus dengan peradangan parah, tetapi harus hati-hati karena potensi imunosupresi.

Manajemen pada kelompok rentan, seperti anak-anak kecil, lansia, dan individu imunokompromais, memerlukan pendekatan khusus. Terapi eksperimental seperti Imunoglobulin Intravena (IVIG) dan ribavirin aerosol telah digunakan dengan hasil yang bervariasi.

Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis paru, imunologi, dan perawatan intensif sangat penting. Hal ini untuk memastikan manajemen yang terkoordinasi dan hasil yang optimal pada pasien dengan HMPV.

Sumber Kemenkes RI

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....