Kenali Gejala Sindrom Asperger pada Anak
- 19 Jul 2026 10:35 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID,Bengkulu - Menurut studi yang diterbitkan oleh Cureus Journal, sindrom Asperger ini ditandai dengan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, gangguan dalam keterampilan komunikasi, serta pola perilaku yang terbatas dan repetitif. Meskipun penyebab pasti dari sindrom Asperger masih belum diketahui, banyak penelitian menemukan bahwa faktor keturunan dan lingkungan kemungkinan besar berperan dalam perkembangan sindrom ini.
Studi juga menunjukkan bahwa sindrom Asperger sering kali muncul bersamaan dengan gangguan neuropsikiatri lainnya, seperti perilaku obsesif-kompulsif, gangguan tidur, sindrom Tourette ADHD, dan gangguan kecemasan. Hal ini dapat mengakibatkan dampak psikologis yang lebih besar bagi individu yang mengalaminya, termasuk kesulitan dalam mengelola stres, berinteraksi dalam situasi sosial, serta menurunnya kemampuan intelektual dan tanggung jawab.
Melansir dari laman Kemekes RI secara umum sindrom asperger adalah gangguan neurologis atau saraf yang tergolong ke dalam gangguan spektrum autisme. Gangguan spektrum autisme atau yang lebih dikenal autisme merupakan gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Selain faktor keturunan, peneliti juga masih mengidentifikasi faktor lainnya, seperti infeksi virus, obat-obatan, komplikasi selama kehamilan, atau polusi udara yang mungkin juga berperan dalam perkembangan kondisi ini. Gejala sindrom Asperger pada anak dapat dilihat dari sikapnya yang pasif, sulit berbicara, dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain.
Gejala ini perlu dikenali dan ditangani sejak awal. Bila tidak, anak dengan sindrom Asperger akan sulit mengembangkan potensinya dan sulit bersosialisasi.
Merangkum dari laman resmi Kemenkes RI sindrom ini memiliki gejala-gejala yang tidak terlalu berat dibandingkan dengan jenis penyakit autisme lainnya. Di balik kecerdasan yang dimiliki pengidap sindrom ini, ada beberapa tanda atau gejala yang khas, yaitu :
Sulit berinteraksi
Pengidap sindrom ini mengalami kecanggungan dalam melakukan interaksi sosial, baik dengan keluarga maupun orang lain. Jangankan berkomunikasi, bahkan untuk melakukan kontak mata saja agak sulit.
Baca juga: Campak Anak Waspadai GejalanyaTidak ekspresif
Pengidap kondisi ini jarang menampilkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang berkaitan dengan ungkapan. Ketika bahagia, pengidapnya akan susah untuk tersenyum atau tidak bisa tertawa meskipun menerima suatu candaan yang lucu, pengidap juga akan berbicara dengan nada yang datar-datar saja.
Kurang peka
Saat berinteraksi dengan orang lain, pengidap sindrom ini hanya berfokus menceritakan diri sendiri. Mereka tidak punya ketertarikan dengan apa yang dimiliki oleh lawan bicara. Pengidapnya bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas hobi yang disenanginya, misalnya membicarakan tentang klub, pemain, dan pertandingan sepak bola yang disukainya kepada lawan bicara.
Obsesif, repetitif, dan kurang menyukai perubahan
Rutin melakukan hal yang sama secara berulang-ulang (repetitif) dan tidak menerima perubahan pada sekitarnya adalah ciri khas pengidap sindrom ini. Salah satu tanda yang paling terlihat adalah suka mengonsumsi jenis makanan yang sama selama beberapa waktu, atau lebih suka berdiam diri di dalam kelas ketika jam istirahat berlangsung.
Gangguan motoric
Anak yang mengidap sindrom ini mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya, jika dibandingkan dengan anak seusianya. Oleh karena itu, mereka sering tampak kesulitan saat melakukan kegiatan-kegiatan biasa, seperti menangkap bola, mengendarai sepeda, atau memanjat pohon.
Baca juga: Mata Memerah dan Faktor PenyebabnyaGangguan fisik atau koordinasi
Kondisi fisik pengidap sindrom ini tergolong lemah. Salah satu tandanya adalah gaya berjalan pengidap cenderung kaku dan mudah goyah.
Penderita sindrom Asperger tidak mengalami gangguan kemampuan kognitif atau bahasa. Sebagian anak penderita sindrom ini bahkan bisa memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi dan menyimpan bakat di bidang tertentu, seperti matematika, sains, atau musik.
Merangkum dari laman resmi Kemenkes RI sebagian besar kasus Sindrom Asperger memang tidak dapat dicegah dan disembuhkan, namun ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup anak. Berikut Lankah-langkahnya :
Terapi perilaku
Terapi perilaku dilakukan untuk mendukung perubahan pola berpikir pada anak dengan sindrom Asperger, sehingga ia dapat mengontrol emosi dan perilaku tidak wajar yang kerap dilakukan berulang kali, misalnya menggoyangkan badan ke depan dan belakang ketika ia marah atau panik.
Latihan kemampuan sosial
Latihan ini dapat melatih kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain dan menunjukkan ekspresinya. Sesi latihan tersebut bisa diadakan secara perorangan atau berkelompok.
Melalui latihan kemampuan sosial, terapis akan melatih anak dengan sindrom Asperger untuk melakukan kontak mata ketika berbicara, menunjukkan rasa empati, atau melakukan kerja sama dalam kelompok.
Terapi wicara
Terapi wicara bertujuan untuk mengasah kemampuan komunikasi penderita sindrom Asperger. Mulai dari cara menggunakan intonasi yang tepat saat berbicara hingga mengenali arti dari perilaku atau bahasa tubuh yang ditunjukkan lawan bicaranya.
Terapi okupasi
Terapi okupasi diperlukan dalam rangka meningkatkan kemampuan motorik anak dengan sindrom Asperger guna memperbaiki koordinasi tubuhnya. Dengan begitu, ia dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih efisien, misalnya cara berjalan dengan sikap yang benar dan cara menangkap bola.
Terapi keluarga
Keluarga menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan terapi sindrom Asperger. Dalam terapi ini, keluarga akan diajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan anak penderita sindrom Asperger guna mendukung kemampuan sosialnya.
Terapi obat-obatan
Penggunaan obat-obatan dapat dipertimbangkan apabila terdapat gejala tertentu atau gangguan penyerta yang memengaruhi kondisi emosional, perilaku, maupun kesehatan mental pada individu dengan sindrom Asperger. Pemberian obat dilakukan sesuai evaluasi dan rekomendasi dokter.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....