Brem, Kudapan Tradisional Madiun yang Meleleh di Mulut
- 05 Mei 2026 15:23 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Bentuknya persegi panjang dengan warna putih gading, tersusun rapi dalam kemasan sederhana. Inilah brem, kudapan tradisional bercita rasa manis yang telah dikenal sejak masa penjajahan Belanda.
Pada masa itu, brem bukan makanan untuk semua kalangan, melainkan hanya dinikmati oleh masyarakat golongan berada. Bagi sebagian besar rakyat yang hidup dalam keterbatasan, kebutuhan utama lebih difokuskan pada bahan pangan pokok seperti nasi, jagung, gandum, atau umbi-umbian, karena itu, brem pernah menjadi simbol kemewahan pada zamannya. Kini, harganya relatif terjangkau dan mudah ditemukan di berbagai daerah.
Saat ini, brem tidak hanya dikenal di Jawa Timur, tetapi juga di Jawa Tengah dan Bali. Di Solo dan Wonogiri, brem umumnya berbentuk bulat pipih menyerupai kerupuk. Inovasi rasa pun terus berkembang, mulai dari cokelat, stroberi, melon, jeruk, hingga durian, untuk menyesuaikan selera pasar. Sementara itu, di Bali, brem hadir dalam bentuk minuman beralkohol dengan cita rasa khas asam-pahit.
Dikutip dari Indonesia kaya, Brem berasal dari Kabupaten Madiun, khususnya Desa Kaliabu dan Desa Bancong. Nama “brem” diyakini berasal dari kata “peram” dalam bahasa Jawa, yang merujuk pada proses fermentasi bahan selama beberapa hari. Dalam pelafalan sehari-hari, “peram” terdengar seperti “prem”, yang kemudian berkembang menjadi “brem”.
Meski bahan bakunya sederhana, yakni beras ketan putih, ragi tape, dan soda kue, proses pembuatannya memerlukan waktu cukup lama. Fermentasi yang berlangsung hingga tujuh hari menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi produsen kecil. Hal ini membuat jumlah produsen brem tidak berkembang pesat.
Proses pembuatan brem diawali dengan mencuci beras ketan hingga bersih, kemudian dikukus selama 20 menit. Setelah itu, ketan dicuci kembali dan dikukus selama kurang lebih 1,5 jam hingga matang sempurna. Tahapan ini berpengaruh pada warna akhir brem yang dihasilkan.
Ketan yang telah matang kemudian didinginkan di atas kain. Setelah benar-benar dingin, barulah ditambahkan ragi untuk proses fermentasi. Jika ragi ditambahkan saat ketan masih hangat, rasa brem dapat menjadi terlalu asam.
Selanjutnya, ketan disimpan dalam wadah tertutup selama tujuh hari hingga berubah menjadi tape ketan yang lunak dan mengandung banyak cairan. Cairan inilah yang menjadi bahan utama pembuatan brem. Tape kemudian diperas untuk diambil airnya, lalu disaring agar lebih jernih.
Air tape tersebut direbus hingga terpisah antara air dan sarinya, kemudian diaduk selama beberapa jam hingga mengental menjadi pasta. Setelah mencapai konsistensi yang diinginkan, adonan dibentuk umumnya persegi panjang atau bulat pipih, lalu dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven sebelum dikemas.
Ampas tape ketan yang tersisa tidak terbuang percuma. Bahan ini dapat dimanfaatkan sebagai campuran pembuatan bolu kukus, menghasilkan kue tradisional dengan aroma khas yang menggugah selera.
Kini, brem menjadi salah satu oleh-oleh khas yang identik dengan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kudapan ini cocok dinikmati sebagai teman bersantai. Teksturnya yang awalnya padat dan sedikit berpasir akan langsung meleleh di mulut saat digigit.
Cita rasanya manis dengan sentuhan asam yang khas dari hasil fermentasi. Meski melalui proses yang menghasilkan alkohol pada tape, kadar alkohol dalam brem sangat rendah sehingga tidak menimbulkan efek memabukkan.
Berbagai inovasi rasa yang terus berkembang menjadikan brem tetap relevan di tengah perubahan selera masyarakat. Kudapan tradisional ini pun tetap bertahan sebagai warisan kuliner yang unik dan bernilai sejarah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....