Kue Batang Buruk, Kudapan Renyah Warisan Budaya Melayu

  • 07 Mar 2026 08:45 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Kue Batang Buruk merupakan salah satu kudapan tradisional yang berasal dari wilayah Kepulauan Riau, khususnya Pulau Bintan, dan juga dikenal di beberapa daerah di Provinsi Riau. Meski namanya terdengar unik bahkan terkesan kurang menarik, kue ini justru memiliki cita rasa manis gurih serta menyimpan kisah budaya yang menarik untuk diketahui.

Secara tampilan, kue Batang Buruk berbentuk silinder kecil berwarna kuning keemasan. Teksturnya renyah dan rapuh sehingga mudah hancur saat digigit.

Bagian luarnya dilapisi serbuk kacang hijau yang dicampur gula halus sehingga memberikan rasa manis dan aroma khas. Perpaduan tekstur renyah dengan taburan kacang hijau inilah yang menjadikan kue Batang Buruk digemari sebagai camilan tradisional masyarakat Melayu.

Tidak hanya soal rasa, kue ini juga memiliki cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Dikutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia melalui laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, penamaan Batang Buruk berkaitan dengan kisah legenda dari Kerajaan Bintan sekitar 450 tahun silam. Kisah tersebut menceritakan tentang Wan Sendari, putri sulung Baginda Raja Tua, yang menaruh hati kepada seorang panglima muda bernama Raja Andak.

Namun, cinta Wan Sendari tidak berbalas. Raja Andak justru memilih adik kandungnya, Wan Inta, sebagai pasangan hidup. Kesedihan membuat Wan Sendari menghabiskan waktunya di dapur istana bersama para dayang. Dari tangan sang putri kemudian tercipta sebuah kue yang unik, yakni kue yang mudah hancur ketika digigit.

Suatu ketika kue tersebut dihidangkan dalam sebuah jamuan kerajaan. Ketika para tamu mencicipinya, serpihan kue berjatuhan karena teksturnya yang rapuh. Hanya Raja Andak yang mampu memakannya dengan hati-hati tanpa membuat remahannya jatuh. Dari peristiwa itulah lahir ungkapan filosofi Melayu: “Biar pecah di mulut, jangan pecah di tangan.”

Ungkapan tersebut mengandung makna tentang pentingnya menjaga adab, kesabaran, dan kelembutan dalam bertindak. Filosofi inilah yang kemudian melekat pada kue Batang Buruk sebagai simbol kehalusan budi dalam budaya Melayu.

Selain sarat makna budaya, kue Batang Buruk juga cukup mudah dibuat dengan bahan-bahan sederhana.

Bahan-bahan:

- Tepung gandum

- Tepung beras

- Tepung kelapa (kelapa parut sangrai yang dihaluskan)

- Mentega secukupnya

- Air secukupnya

- Serbuk kacang hijau sangrai

- Gula halus

- Susu bubuk

Cara Membuat:

1. Campurkan tepung gandum, tepung beras, dan tepung kelapa dalam satu wadah.

2. Tambahkan mentega dan air, kemudian uleni hingga adonan kalis.

3. Pipihkan adonan hingga tipis lalu potong memanjang berbentuk persegi kecil.

4. Gulung adonan menggunakan batang silinder hingga membentuk tabung kecil berongga.

5. Goreng dalam minyak panas hingga berwarna kuning keemasan, kemudian tiriskan.

6. Campurkan serbuk kacang hijau, gula halus, dan susu bubuk.

7. Gulingkan kue yang sudah dingin ke dalam campuran tersebut hingga seluruh permukaan tertutup rata.

Simpan kue Batang Buruk dalam wadah tertutup agar tetap renyah. Kudapan ini cocok disajikan sebagai teman minum teh atau hidangan saat perayaan hari besar.

Kue Batang Buruk menjadi salah satu bukti bahwa kuliner tradisional tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang diwariskan turun-temurun dalam budaya masyarakat Melayu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....