Filosofi Ikan Utuh dalam Tradisi Tahun Baru Imlek

  • 16 Feb 2026 19:04 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya identik dengan lampion merah dan angpau. Di meja makan keluarga, setiap hidangan yang tersaji menyimpan doa dan harapan, salah satu sajian yang hampir tak pernah absen adalah ikan utuh.

Dikutip dari Ninevibe, bagi masyarakat Tionghoa, ikan bukan sekadar lauk. Ia adalah simbol kelimpahan, keberuntungan, dan kesinambungan rezeki di tahun yang baru.

Dalam bahasa Mandarin, ikan disebut . Pelafalannya serupa dengan kata yang berarti “lebih” atau “surplus”. Kesamaan bunyi inilah yang kemudian melahirkan filosofi: semoga selalu ada kelebihan rezeki dari tahun ke tahun.

Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat Tiongkok hidup sebagai bangsa agraris dan perikanan. Sungai-sungai besar seperti Sungai Kuning dan Sungai Yangtze menjadi sumber kehidupan. Ikan melambangkan hasil tangkapan melimpah, tanda kesejahteraan bagi keluarga.

Dalam mitologi Tiongkok, dikenal kisah ikan yang melompati Gerbang Naga (Longmen) dan berubah menjadi naga. Cerita ini menjadi simbol perjuangan dan keberhasilan bahwa ketekunan akan berbuah kesuksesan. Karena itu, ikan juga dimaknai sebagai lambang transformasi dan pencapaian.

Tradisi menyajikan ikan telah berlangsung sejak masa Dinasti Han. Dalam perayaan Tahun Baru Imlek, ikan utuh disajikan sebagai doa agar rezeki terus mengalir.

Dalam ritual penghormatan leluhur, termasuk saat Qingming, ikan juga menjadi bagian dari persembahan. Hidangan ini melambangkan rasa syukur sekaligus harapan akan berkah yang berkelanjutan bagi keluarga.

Uniknya, dalam tradisi Imlek, ikan tidak dihabiskan seluruhnya pada malam pergantian tahun. Sebagian disisakan untuk keesokan hari sebagai simbol bahwa rezeki tidak pernah habis.

Penyajian ikan tidak dilakukan sembarangan. Ada nilai simbolis yang dijaga:

1. Disajikan utuh

Kepala melambangkan awal yang baik, ekor melambangkan akhir yang sukses. Harapannya, perjalanan hidup sepanjang tahun berjalan lancar dari awal hingga akhir.

2. Arah kepala ikan

Kepala biasanya diarahkan kepada orang yang dituakan atau tamu kehormatan sebagai bentuk penghormatan.

3. Dimakan bersama

Ikan dinikmati seluruh anggota keluarga. Kebersamaan ini melambangkan harmoni dan persatuan.

4. Sebagian disisakan

Sisa ikan menjadi simbol “kelebihan” yang berlanjut di tahun baru.

Beberapa jenis ikan memiliki makna tersendiri dan kerap hadir di meja Imlek:

- Bandeng, melambangkan kelimpahan karena durinya yang banyak diibaratkan rezeki berlimpah.

- Gurame, dengan ukuran besar dan daging lembut, dimaknai sebagai simbol kemakmuran.

- Kerapu, termasuk ikan bernilai tinggi, melambangkan kekayaan dan status.

- Kakap merah, warna merahnya identik dengan keberuntungan dan kebahagiaan dalam budaya Tionghoa.

Ikan utuh dalam perayaan Imlek bukan hanya tradisi turun-temurun. Ia adalah simbol doa, harapan, dan optimisme keluarga menyongsong tahun baru.

Dari meja makan sederhana hingga jamuan besar, ikan selalu hadir sebagai pengingat: semoga rezeki berlebih, kehidupan harmonis, dan keberuntungan terus menyertai sepanjang tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....