Efek Berganda MBG: Dari Gizi Anak hingga Ekonomi Desa

  • 12 Mei 2026 12:05 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Ketika jutaan kotak makan bergizi mulai berderet di ruang-ruang kelas Indonesia setiap pagi, ada yang lebih besar dari sekadar program makan siang yang sedang berlangsung. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, menyimpan dua ambisi besar sekaligus, yaitu membangun kualitas sumber daya manusia dari dalam, dan menggerakkan roda ekonomi dari bawah. Dua ambisi yang selama ini sering dianggap mustahil diraih dalam satu program.

Gizi sebagai Fondasi, Stunting sebagai Musuh Bersama

Indonesia menghadapi musuh lama yang belum takluk yaitu 'stunting'. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8 persen, turun tipis dari 21,5 persen tahun sebelumnya. Artinya, hampir satu dari lima anak Indonesia masih mengalami gagal tumbuh akibat kekurangangizi kronis.

BGN sendiri mencatat sekitar 60 persen anak Indonesia belum memiliki akses terhadap menu gizi seimbang, dan hampir tidak pernah mengonsumsi susu karena keterbatasan daya beli keluarga. MBG dirancang untuk menjawab tantangan ini secara langsung.

Program ini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga balita dan ibu hamil. Dua kelompok yang paling rentan dalam rantai siklus stunting.

Dengan melibatkan ahli gizi dalam setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memastikan menu memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG), MBG menunjukkan pendekatan yang serius dan berbasis ilmu pengetahuan.

"BGN menegaskan bahwa program ini menyasar dua fase kritis kehidupan yaitu 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk mencegah stunting dan mengoptimalkan perkembangan otak".

Ketika Satu Program Menggerakkan Banyak Sektor

Program ini bukan hanya soal memberi makan anak, BGN adalah mesin penggerak ekonomi desa yang bekerja diam-diam namun konsisten. MBG mampu menggerakkan rantai pasok pangan di daerah, membuka peluang usaha baru, dan meningkatkan perputaran ekonomi lokal secara signifikan.

UMKM, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan pemasok lokal telah dilibatkan dalam rantai pasok MBG. Bahan baku diprioritaskan dari sumber lokal: petani, peternak, nelayan, dan koperasi daerah mendapatkan permintaan yang stabil dan berkelanjutan.

Uang negara yang dibelanjakan untuk MBG tidak berhenti di satu titik 'ia berputar', mengalir dari dapur SPPG ke pasar desa, dari pasar desa ke ladang petani, dari petani ke keluarga mereka. Inilah yang para ekonom sebut sebagai multiplier effect.

Komitmen Jangka Panjang

Tentu saja, program sebesar MBG tidak berjalan tanpa hambatan. Terdapat sejumlah insiden keracunan makanan yang menjadi sorotan. Pemerintah merespons dengan mengerahkan 5.000 koki profesional dari Indonesian Chef Association (ICA) ke seluruh SPPG mulai Oktober 2025 untuk memastikan pengolahan makanan lebih higienis.

Dengan alokasi anggaran yang sangat besar mencerminkan bahwa pemerintah menempatkan MBG bukan sebagai program musiman, melainkan sebagai komitmen jangka panjang. Anak yang hari ini duduk di bangku SD sambil menikmati makan siang bergizi adalah generasi yang kelak akan menentukan apakah Indonesia Emas 2045 hanya menjadi slogan atau sungguh-sungguh terwujud.

Penulis: Waode Azfari Azis

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....