Cegah Stunting, Politeknik Baubau Latih Kader Posyandu lewat Program GEMILANG
- 17 Agt 2026 17:15 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Politeknik Baubau kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan dampak bagi masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemberdayaan Kader Posyandu dalam Program GEMILANG (Gizi, Edukasi, Makanan Inovatif Laut Anak Nutrisi Golden)" di Kelurahan Kolese.
Program yang dilaksanakan sepanjang Mei hingga Agustus 2026 ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.
Ketua Program Pengabdian kepada Masyarakat, Wa Ode Nurul Mutia, S.Tr.Keb., M.Keb mengatakan, kegiatan ini menyasar kader Posyandu sebagai mitra strategis dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas masyarakat, khususnya dalam pemenuhan gizi anak, pencegahan stunting, pemanfaatan pangan lokal, serta pengembangan inovasi makanan bergizi.
“Program GEMILANG mengintegrasikan aspek gizi, edukasi, inovasi pangan, keterampilan kader, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program ini adalah pengolahan Bakso Ikan GEMILANG, yang memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai alternatif lauk bergizi bagi anak,”jelas Wa Ode Nurul Mutia, Senin, 17 Agustus 2026.

Diawali Pemetaan Pengetahuan dan Keterampilan Kader
Pelaksanaan program dirancang secara sistematis melalui beberapa tahapan. Tahap pertama dilaksanakan pada 25 Mei 2026 melalui pretest aspek manajemen serta aspek sosial kemasyarakatan, khususnya untuk mengetahui kemampuan dan pengetahuan awal kader.
Hasil pretest menunjukkan pengetahuan kader sebesar 51 persen, aspek manajerial 55 persen, dan aspek keterampilan 49 persen.
“Pretest diarahkan untuk mengidentifikasi pemahaman kader mengenai gizi, stunting, pemanfaatan bahan pangan lokal, serta kemampuan keterampilan dalam mendukung pelayanan dan edukasi masyarakat,”jelas Nurul Mutia.
Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim dalam menyusun materi dan strategi pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan kader Posyandu yang tertuang dalam Modul GEMILANG.
Capacity Building: Dari Edukasi Gizi hingga Praktik Inovasi Pangan
Nurul Mutia mengatakan, tahap kedua dilaksanakan pada 9 Juni 2026 melalui kegiatan Capacity Building (Hulu). Kegiatan ini mencakup edukasi gizi, pelatihan antropometri, serta pengenalan dan penggunaan modul sebagai sarana inovasi pangan lokal berbahan dasar ikan.
“Para kader mendapatkan penguatan mengenai konsep gizi seimbang, strategi penanganan dan pencegahan stunting, pengukuran antropometri, serta teknik menyampaikan pesan kesehatan secara efektif kepada masyarakat,”katanya.
Tidak berhenti pada teori, peserta juga mengikuti praktik pembuatan Bakso Ikan GEMILANG. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkenalkan pemanfaatan potensi pangan lokal pesisir sebagai alternatif makanan bergizi yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga.
Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi kader Posyandu bukan hanya sebagai pelaksana kegiatan pelayanan, tetapi juga sebagai agen edukasi dan penggerak perubahan perilaku masyarakat dalam pemenuhan gizi anak.

Post-test dan Evaluasi Mengukur Perkembangan Kapasitas Kader
Nurul Mutia mengatakan mengungkapkan, tahap ketiga dilaksanakan pada 17 Juli 2026 melalui post-test dan evaluasi. Tahap ini dilakukan untuk mengukur perkembangan pengetahuan dan keterampilan kader setelah mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan.
Evaluasi mencakup aspek manajemen dan aspek sosial kemasyarakatan, termasuk kemampuan keterampilan kader dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama program.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kapasitas kader menjadi 100 persen, dengan rerata sebelumnya 51,67 persen. Peningkatan terutama terlihat dalam pemahaman pentingnya pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber nutrisi serta keterampilan dalam mendukung edukasi gizi dan pencegahan stunting di masyarakat.
Diperkuat dengan Serah Terima Aset dan Pendampingan Lapangan
Nurul Mutia mengatakan, tahap keempat dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 melalui penyerahan dan serah terima aset, penandatanganan berita acara, serta pemantauan lapangan.
“Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan hasil dan sarana pendukung program dapat dimanfaatkan oleh mitra secara berkelanjutan setelah kegiatan utama selesai,”jelasnya.
Program tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Pengetahuan, keterampilan, dan sarana yang telah diberikan diarahkan agar terus dimanfaatkan dalam aktivitas Posyandu dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan juga akan dilanjutkan dengan pemantauan lapangan secara berkala setiap bulan.

Kolaborasi Dosen, Mahasiswa dan Kader Posyandu
Program GEMILANG dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Politeknik Baubau yang berkolaborasi dengan kader Posyandu sebagai mitra masyarakat, dengan tim pelaksana terdiri atas Ketua Wa Ode Nurul Mutia, S.Tr.Keb., M.Keb., serta anggota Bdn. Hilda Sulistia Alam, SST., M.Tr.Keb., Abel Haryanto, SE., MM., Anggun Kirana, dan Wa Ode Tasya N. Maedani. Mitra dalam kegiatan ini adalah Mufiat selaku Ketua Kader Posyandu GARUDA.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan menjadi bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman. Mahasiswa memperoleh kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat, membantu pelaksanaan kegiatan, serta memahami proses pemberdayaan masyarakat dari tahap persiapan hingga evaluasi.
Mengubah Potensi Pangan Lokal Menjadi Inovasi Bernilai Gizi dan Ekonomi
Nurul Mutia menjelaskan, salah satu kekuatan utama Program GEMILANG adalah pendekatannya yang tidak hanya berorientasi pada edukasi kesehatan, tetapi juga mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal.
“Kawasan pesisir memiliki sumber daya perikanan yang potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan. Melalui inovasi Bakso Ikan GEMILANG, bahan pangan lokal tersebut diolah menjadi produk yang lebih menarik dan mudah diterima oleh anak maupun keluarga,”tuturnya.
Dari perspektif pemberdayaan masyarakat, inovasi tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Penguatan kemasan, branding, kualitas produk, serta pemasaran digital dapat menjadi langkah lanjutan untuk meningkatkan daya saing produk pangan lokal.
Dengan demikian, GEMILANG tidak hanya membawa pesan tentang gizi dan kesehatan, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan keterampilan dan potensi ekonomi masyarakat.

Politeknik Baubau Dorong PkM yang Berdampak
Nurul Mutia mengatakan, pelaksanaan Program GEMILANG menjadi salah satu wujud nyata komitmen Politeknik Baubau dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui kegiatan pengabdian yang berbasis kebutuhan masyarakat.
“Melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dan dukungan pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, semoga kegiatan ini memberikan dampak berkelanjutan bagi kader Posyandu dan masyarakat Kelurahan Kolese,”harapnya.
Menurut Nurul Mutia, program ini sekaligus memperlihatkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menghadirkan inovasi dan solusi atas persoalan nyata di lingkungan sekitar.
Sementara itu, Mufiat, selaku Ketua Kader Posyandu GARUDA, mengatakan program tersebut memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada para kader.
“Kami diajarkan, dari yang tidak tahu, menjadi tahu, karena diajarkan dari awal menguliti ikan sampai proses pembuatan baksonya hingga jadi. Dari segi aspek manajerial kami diajarkan tentang pembukuan sederhana dan packing. Dari segi keterampilan, kami diajarkan tentang software antropometri untuk pengukuran status gizi anak,”kata Mufiat.
Dengan memperkuat kapasitas kader, mengembangkan edukasi gizi, memanfaatkan potensi pangan lokal, serta memperkenalkan inovasi makanan bergizi, Nurul Mutia berharap, program GEMILANG dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat yang dapat dikembangkan lebih lanjut di wilayah lain.
Pada akhirnya, semoga program GEMILANG mampu membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan stunting dan peningkatan kualitas gizi anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi merupakan gerakan bersama yang membutuhkan kolaborasi perguruan tinggi, kader Posyandu, keluarga, pemerintah, dan masyarakat,”tutup Nurul Mutia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....