Klien Bapas Baubau jadi Duta Konservasi di SMP Satu Atap Melai One

  • 27 Jul 2026 16:49 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Wakatobi — Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Baubau kembali menunjukkan langkah inovatif dalam proses pembimbingan dan reintegrasi sosial.

Menggandeng Klien Pemasyarakatan yang memiliki keahlian dan kepedulian lingkungan serta bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Wakatobi, Bapas Baubau menghadirkan Klien Pemasyarakatan sebagai Duta Konservasi dalam kegiatan sosialisasi edukasi satwa yang dilindungi di SMP Satu Atap Melai One, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Senin 27 Juli 2026.

Acara yang menyasar para siswa kelas VII SMP Satu Atap Melai One ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman sejak dini mengenai pentingnya menjaga satwa dan hewan yang dilindungi di wilayah pesisir serta kepulauan Wakatobi.

Pada kesempatan tersebut, klien pemasyarakatan Bapas Baubau yang dihadirkan sebagai "Duta Konservasi" membagikan wawasan dan pengalaman terkait pentingnya menjaga ekosistem serta hewan yang dilindungi, sekaligus memberikan motivasi kepada para siswa agar tidak melakukan tindakan yang merusak alam.

Kehadiran sang Duta Konservasi memberikan sudut pandang nyata dan edukatif bagi para peserta didik.

Kepala Bapas Kelas II Baubau, Mustar Taro menyampaikan pelibatan Klien dalam agenda kemasyarakatan dan edukasi seperti ini merupakan bagian dari program reintegrasi sosial berbasis pemberdayaan positif.

Menurutnya, Sinergi antara edukasi lingkungan melalui program Duta Konservasi dan pendampingan berkelanjutan dari Bapas Baubau ini diharapkan mampu memberikan dampak positif, tidak hanya bagi proses pemulihan diri para klien, tetapi juga bagi kemajuan dan kesadaran masyarakat lokal di Wakatobi tentang pentingnya menjaga satwa dan lingkungan

"Kami ingin mengubah stigma masyarakat terhadap Klien Pemasyarakatan. Melalui kegiatan ini, Klien tidak hanya menjalani masa pembimbingan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata dan nilai tambah bagi masyarakat luas, salah satunya dengan menjadi agen edukasi pelestarian satwa yang dilindungi," ujarnya.

Para siswa terlihat antusias mengikuti jalannya materi, bertanya mengenai cara melaporkan perdagangan satwa ilegal, hingga mengenali ciri-ciri satwa yang tidak boleh dipelihara secara bebas.

Melalui sinergi ini, Bapas Baubau berharap edukasi sejak dini di tingkat sekolah dapat menumbuhkan generasi muda yang peka terhadap isu lingkungan, sekaligus membuktikan bahwa setiap individu yang sedang menjalani pembimbingan memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....