Baluran, Savana Jawa dan Jejak Kehidupan Satwa Liar
- 30 Sep 2026 09:06 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Situbondo - Hamparan rumput terbuka dengan latar perbukitan membuat Taman Nasional Baluran kerap dijuluki Africa van Java. Namun, daya tarik kawasan konservasi di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, sebenarnya jauh lebih luas daripada savananya.
Baluran merupakan salah satu taman nasional pertama di Indonesia dan menjadi habitat berbagai satwa khas Jawa, termasuk banteng, rusa timor, ajag, kerbau liar, dan merak hijau. Gunung Baluran menjadi bagian penting dari lanskap kawasan, sementara kondisi iklim yang relatif kering di bagian timur Jawa turut membentuk karakter savana dan hutan musim yang menjadi ciri khasnya.
Sejarah konservasi Baluran telah dimulai sejak masa Hindia Belanda. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem mencatat A.H. Hoogerwerf mengusulkan kawasan tersebut sebagai hutan lindung pada 1930. Tujuh tahun kemudian, tepatnya 23 September 1937, pemerintah kolonial menetapkan sekitar 25.000 hektare kawasan Baluran sebagai suaka margasatwa.
Setelah Indonesia merdeka, status perlindungannya terus berkembang hingga pada 6 Maret 1980 Baluran ditetapkan sebagai salah satu dari lima taman nasional pertama di Indonesia, bersama Gunung Leuser, Ujung Kulon, Gunung Gede Pangrango, dan Komodo. Data KSDAE yang lebih mutakhir mencatat luas kawasan Baluran sekitar 30.266 hektare.
Savana Bekol menjadi lanskap yang paling mudah dikenali ketika membicarakan Baluran. Padang rumput terbuka ini menjadi habitat bagi berbagai satwa dan menghadirkan pemandangan yang berubah mengikuti musim. Saat kemarau, rerumputan cenderung mengering dan memberikan warna khas savana, sementara musim hujan mengubahnya menjadi hamparan hijau. Dari sinilah sebutan Africa van Java banyak digunakan untuk menggambarkan suasana Baluran. Namun, istilah tersebut merupakan bagian dari branding pariwisata, bukan klasifikasi ekologis.
Di luar savana, Baluran juga memiliki hutan musim, evergreen forest, hutan pantai, dan mangrove yang menunjukkan keragaman ekosistem dalam satu kawasan, sepeti dilansir dari Indonesiatravel.id.
Perjalanan di Baluran kemudian dapat dilanjutkan menuju Pantai Bama, yang memperlihatkan sisi berbeda dari taman nasional tersebut. Kawasan pesisir ini memiliki pantai, mangrove, serta habitat berbagai jenis burung dan primata. Jalur menuju Bama melewati sejumlah tipe vegetasi sehingga pengunjung dapat melihat perubahan lanskap dari kawasan daratan menuju pesisir.
Baluran juga memiliki sejumlah lokasi lain seperti Gua Jepang, Talpat, Balanan, Bilik, dan Sejileh. Keragaman tersebut membuat pengalaman berkunjung tidak hanya berpusat pada savana, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara kawasan pegunungan, hutan, padang rumput, hingga ekosistem pantai.
Bagi pengunjung, salah satu daya tarik terbesar Baluran adalah kesempatan melihat satwa liar di habitat alaminya. Banteng Jawa menjadi salah satu satwa penting yang mendapat perhatian dalam program konservasi, termasuk melalui pusat pembinaan populasi dan breeding semi-alami yang dikembangkan di kawasan tersebut.
Selain banteng, Baluran menjadi habitat rusa timor, kijang, ajag, kerbau liar, monyet, lutung, serta berbagai jenis burung seperti merak hijau, ayam hutan merah, dan rangkong. Namun, keberadaan satwa tidak berarti mereka selalu dapat ditemukan saat berkunjung. Kemunculan satwa dipengaruhi musim, waktu, kondisi habitat, dan perilaku alaminya.
Taman Nasional Baluran berada di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, di dekat jalur utama yang menghubungkan Situbondo dan Banyuwangi. Pintu masuk wisata utama berada di kawasan Batangan, Desa Wonorejo, dengan jalur yang menghubungkan Batangan, Savana Bekol, hingga Pantai Bama. Baluran dapat dicapai melalui perjalanan darat dari Situbondo maupun Banyuwangi.
Tarif tiket, jam kunjungan, serta akses menuju kawasan dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola dan kondisi konservasi, sehingga informasi terbaru sebaiknya diperiksa sebelum perjalanan. Kawasan juga dapat ditutup sementara untuk pemulihan ekosistem, pemeliharaan fasilitas, atau alasan keselamatan.
Mengunjungi Baluran pada akhirnya bukan hanya tentang mencari latar foto yang menyerupai lanskap Afrika. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana savana, hutan, mangrove, pantai, dan satwa liar dapat hidup dalam satu bentang alam yang saling berkaitan. Karena itu, wisatawan perlu menjaga jarak dari satwa, tidak memberi makan atau mencoba menarik perhatian hewan untuk berfoto, serta tetap berada di jalur yang telah ditentukan. Dengan cara tersebut, pengalaman menikmati lanskap Africa van Java dapat berjalan beriringan dengan tujuan utama Baluran sebagai kawasan konservasi yang menjaga kekayaan alam Jawa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....