Karhutla Berulang Setiap Tahun, Ada Apa di Balik Asap?
- 14 Sep 2026 11:21 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam -Karhutla kembali menjadi persoalan yang muncul setiap musim kemarau. Bagi masyarakat Kepulauan Riau, persoalan ini tidak selalu berarti api berada di wilayah sendiri. Asap dari wilayah lain dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di Batam dan daerah lain di Kepri.
BMKG menyebut musim kemarau 2026 datang lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebanyak 451 Zona Musim atau 64,5 persen wilayah diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal, sementara 57,2 persen wilayah berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang dari biasanya.
Kondisi kering membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. Terlebih, BMKG menyebut pengaruh El Niño pada 2026 turut memperkuat kondisi kering dan meningkatkan risiko karhutla. Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi 5.019 titik panas di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan Barat, Papua Selatan dan Riau.
Karhutla tidak semata-mata persoalan cuaca. Musim kemarau memang menciptakan kondisi yang mudah terbakar, tetapi tetap diperlukan sumber api. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan ketika asap sudah terlihat. Edukasi masyarakat mengenai larangan pembakaran lahan, pengawasan kawasan rawan, kesiapsiagaan pemerintah dan pengelolaan lahan menjadi bagian penting untuk memutus siklus karhutla.
BMKG melalui sistem SPARTAN bahkan memberikan informasi mengenai tingkat bahaya kebakaran berdasarkan kondisi meteorologis. Sistem ini membantu menunjukkan apakah kondisi cuaca mendukung terjadinya kebakaran apabila terdapat sumber api. Dampak karhutla juga dapat dirasakan daerah yang tidak menjadi lokasi kebakaran. Pada periode 11–17 September 2026, BMKG masih mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kondisi atmosfer yang relatif kering membuat asap lebih mudah bertahan dan menyebar.
Di Batam, pemantauan BMKG pada 12 September 2026 mencatat konsentrasi PM2,5 sebesar 32,6 µg/m³, berada pada kategori sedang. Dampaknya terhadap kesehatan juga perlu diperhatikan. Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat 7.245 kasus ISPA pada Agustus 2026, meningkat 19,5 persen dibandingkan Juli yang mencapai 6.061 kasus.
Di tingkat Provinsi Kepri, kasus ISPA hingga awal September 2026 mencapai 3.230 kasus, meningkat dari 3.022 kasus pada Agustus. Dinkes Kepri mengimbau masyarakat menggunakan masker dan mengurangi paparan udara yang tercemar, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
Karhutla yang berulang setiap tahun seharusnya menjadi momentum untuk melihat persoalan dari sisi yang lebih luas. Mengapa lahan mudah terbakar? Dari mana sumber api berasal? Apakah masyarakat memahami risiko pembakaran lahan? Bagaimana pengawasan kawasan rawan? Dan seberapa cepat pemerintah merespons titik panas sebelum berubah menjadi kebakaran besar?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menunggu kabut asap muncul. Masyarakat juga memiliki peran. Tidak membakar lahan atau sampah sembarangan, segera melaporkan titik api, mengikuti informasi kualitas udara, serta mengurangi aktivitas luar ruangan ketika udara memburuk merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Karhutla bukan siklus yang harus diterima sebagai “bencana tahunan”. Dengan pencegahan, pengawasan, penegakan aturan dan kesadaran masyarakat, mata rantai api–asap–gangguan kesehatan dapat diputus.
Sebab, ketika asap kembali datang setiap tahun, yang perlu diperbaiki bukan hanya cara memadamkan api, tetapi juga cara mencegah api itu muncul.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....