Perekonomian Kota Batam Menunjukkan Kinerja Positif

  • 09 Sep 2026 11:55 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam -Perekonomian Kota Batam menunjukkan kinerja positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Batam tumbuh 6,76 persen sepanjang 2025, dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp253,64 triliun. Pertumbuhan tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen pada tahun yang sama.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu langsung dirasakan sama oleh seluruh masyarakat. Di tengah meningkatnya aktivitas investasi, industri dan perdagangan, masyarakat tetap menghadapi persoalan biaya hidup dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan.

Kondisi tersebut terlihat dari perkembangan inflasi Kota Batam. BPS mencatat, pada Juli 2026 Batam mengalami inflasi tahunan sebesar 4,33 persen, meskipun secara bulanan mengalami deflasi 0,26 persen. Angka inflasi tahunan ini menunjukkan bahwa tingkat harga secara umum masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya menunjukkan bertambahnya nilai produksi barang dan jasa dalam suatu wilayah. Angka tersebut belum otomatis berarti seluruh rumah tangga mengalami kenaikan pendapatan dengan persentase yang sama.

Di Batam, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh berbagai aktivitas produksi, perdagangan, investasi dan sektor lainnya. BPS sendiri dalam publikasi PDRB menurut pengeluaran menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi daerah mencakup konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, perubahan inventori serta ekspor dan impor.

Dengan kata lain, ekonomi bisa tumbuh karena investasi dan aktivitas dunia usaha meningkat, sementara sebagian masyarakat masih harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga dengan harga barang dan jasa yang mereka hadapi.

BP Batam mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp44,01 triliun berdasarkan LKPM, tumbuh 72,83 persen dibandingkan 2024. Sementara berdasarkan perhitungan investasi riil dengan metode bottom-up, nilainya mencapai Rp69,30 triliun.

Tren tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Semester I 2026, BP Batam mencatat realisasi investasi sebesar Rp29,89 triliun berdasarkan LKPM. Investasi tersebut turut berkaitan dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja, dari 30.979 orang pada Semester I 2025 menjadi 40.943 orang pada Semester I 2026, atau bertambah 9.964 tenaga kerja.

Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi riil melalui penciptaan kesempatan kerja.

Namun, bertambahnya lapangan kerja juga perlu dilihat bersama dengan kualitas pekerjaan, tingkat pendapatan, serta kemampuan pendapatan tersebut mengejar biaya kebutuhan hidup.

Ada beberapa alasan mengapa pertumbuhan ekonomi belum tentu langsung terasa di tingkat rumah tangga.

Pertama, kenaikan harga mengurangi daya beli. Ketika pendapatan tetap atau meningkat lebih lambat dibandingkan kebutuhan pengeluaran, masyarakat tetap merasa terbebani meskipun perekonomian daerah tumbuh.

Kedua, manfaat pertumbuhan ekonomi tidak selalu terdistribusi secara merata. Investasi dapat meningkatkan produksi dan membuka lapangan pekerjaan, tetapi manfaat ekonominya bergantung pada keterlibatan masyarakat, jenis pekerjaan yang tersedia, serta tingkat pendapatan yang diperoleh.

Ketiga, struktur pengeluaran rumah tangga berbeda-beda. Keluarga dengan porsi pengeluaran besar untuk makanan, transportasi, perumahan atau kebutuhan pendidikan akan lebih sensitif terhadap perubahan harga.

Karena itu, angka pertumbuhan ekonomi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran kesejahteraan masyarakat. Indikator seperti inflasi, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, pendapatan dan konsumsi rumah tangga juga penting diperhatikan.

Batam saat ini berada pada posisi yang menarik. Di satu sisi, ekonomi tumbuh kuat dan investasi meningkat. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Batam 2025 mencapai 6,76 persen, sedangkan BP Batam melaporkan investasi dan penyerapan tenaga kerja terus meningkat.

Di sisi lain, tekanan harga masih menjadi bagian dari realitas ekonomi masyarakat. Bahkan, inflasi Batam pada Juli 2026 sebesar 4,33 persen lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional pada Agustus 2026 yang tercatat 3,19 persen. Perbandingan ini memang menggunakan bulan yang berbeda sehingga tidak dapat digunakan sebagai perbandingan langsung, tetapi menunjukkan bahwa dinamika harga daerah perlu dilihat secara khusus.

Artinya, tantangan Batam ke depan bukan hanya bagaimana mempertahankan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut semakin terasa dalam kehidupan masyarakat.

Peningkatan investasi perlu diikuti dengan penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal, penguatan UMKM, pengendalian inflasi serta pembangunan infrastruktur yang mampu menekan biaya logistik dan biaya hidup.

Dengan demikian, pertanyaan “ekonomi tumbuh, mengapa masyarakat masih merasa berat?” tidak selalu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi gagal. Pertanyaan tersebut justru menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan perlu diukur dari seberapa jauh pertumbuhan ekonomi mampu meningkatkan pendapatan, daya beli, kesempatan kerja dan kualitas hidup masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....