Pancasila dan Literasi: Api yang Tak Boleh Padam
- 02 Jun 2026 10:26 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Satu Juni kembali menyapa kita menemani jalan sunyi ditengah keramaian, jalan yang kita pilih dalam berjuang membudayakan gerakan literasi, satu Juni tidak sekadar mengenang sebuah pidato yang disampaikan Bung Karno 81 tahun lalu. Diatas panggung sidang BPUPKI, melontarkan untaian mutiara pemikiran dengan memperkenalkan lima prinsip dasar negara.
Hari ini kita hadir untuk menyalakan kembali api yang diwariskan kepada bangsa ini: api pemikiran, api persatuan, dan api perjuangan melalui ilmu pengetahuan.
Bangsa ini lahir dari tangan para pembaca. Para pendiri republik bukan hanya pejuang yang mengangkat senjata, tetapi juga pemburu gagasan yang menaklukkan dunia melalui buku, tulisan, diskusi, dan pemikiran kritis, mereka membaca dunia sebelum mengubah dunia.
Karena itu, pertanyaan yang harus kita jawab hari ini adalah: "apa arti memperingati Hari Lahir Pancasila jika masih ada anak-anak Indonesia yang kesulitan mengakses buku? Apa arti menghafal lima sila jika budaya membaca semakin terpinggirkan oleh budaya serba instan?"
Hari ini kita tegaskan dengan lantang; Gerakan literasi adalah gerakan mengamalkan Pancasila.
Sila Pertama:
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Literasi mengajarkan manusia untuk mengenal, memahami, dan menghayati nilai-nilai ketuhanan secara lebih mendalam. Membaca memperluas wawasan keagamaan, menghindarkan kita dari fanatisme sempit, ujaran kebencian, dan pemahaman yang dangkal, orang yang gemar membaca akan lebih bijaksana dalam beragama, mereka tidak mudah menghakimi, tidak mudah terprovokasi, dan tidak mudah menggunakan agama sebagai alat permusuhan. Membangun literasi berarti membangun masyarakat yang beriman sekaligus berilmu.
Sila Kedua:
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Buku mengajarkan kita memahami kehidupan orang lain, dari setiap lembaran halaman yang dibacaaa, kita belajar empati, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Ketika kita menghadirkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), kita sedang memperjuangkan hak mereka untuk memperoleh pengetahuan yang sama, kita sedang memastikan bahwa kemiskinan tidak menjadi alasan seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar. Literasi adalah bentuk nyata keberadaban.
Sila Ketiga:
Persatuan Indonesia
Indonesia berdiri di atas ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya. Apa yang menyatukan semuanya?
Salah satunya adalah literasi. Di Taman Bacaan Masyarakat anak-anak, pelajar, mahasiswa dan masyarakat dari latar belakang berbeda duduk bersama tanpa melihat suku, agama, status sosial, maupun pilihan politik orang tuanya. Mereka dipersatukan oleh rasa ingin tahu dan semangat belajar. Literasi membangun ruang dialog yang sehat, mempertemukan perbedaan, dan menguatkan rasa kebangsaan. Ketika buku sampai ke pulau-pulau terluar, terpencil dan terdepan, sejatinya kita sedang mengirimkan pesan bahwa tidak ada satu pun anak bangsa yang ditinggalkan.
Sila Keempat:
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Demokrasi yang sehat tidak lahir dari masyarakat yang malas membaca, demokrasi membutuhkan warga yang mampu berpikir kritis, memeriksa informasi, menghargai perbedaan pendapat, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, bukan emosi.
Literasi adalah benteng pertama melawan hoaks, fitnah, propaganda, dan manipulasi informasi. Bangsa yang kuat literasinya akan melahirkan masyarakat yang dewasa dalam berdemokrasi.
Sila Kelima:
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Selama masih ada anak-anak, pelajar mahasiswa dan masyarakat yang kesulitan mendapatkan buku, selama masih ada daerah yang minim akses bacaan, maka perjuangan menghadirkan keadilan sosial belum selesai. Keadilan bukan hanya soal ekonomi, keadilan juga berarti pemerataan akses terhadap ilmu pengetahuan. Ketika pegiat TBM membawa buku ke pulau-pulau kecil, ketika Taman Bacaan Masyarakat hadir di kampung-kampung, desa dan perkotaan, ketika masyarakat bergotong royong menyediakan ruang baca bagi generasi muda, maka sesungguhnya kita sedang menghadirkan keadilan sosial dalam bentuk yang paling nyata.
Hari ini, jangan biarkan Pancasila hanya menjadi teks yang dihafalkan setiap upacara. Jangan biarkan Pancasila hanya menjadi pajangan berdebu di dinding sekolah dan kantor pemerintahan. Hidupkan Pancasila di rak-rak buku. Hidupkan Pancasila di Taman Bacaan Masyarakat. Hidupkan Pancasila dalam budaya membaca. Hidupkan Pancasila dalam semangat berbagi pengetahuan.
Karena bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang hanya paling banyak sumber daya alamnya, melainkan bangsa yang paling tinggi kualitas manusianya. Dan kualitas manusia tidak lahir dari kebetulan, namun lahir dari budaya membaca, budaya belajar, dan budaya berpikir.
Maka pada Hari Lahir Pancasila ini, mari kita jadikan literasi sebagai jalan perjuangan baru. Membaca bukan sekadar kegiatan intelektual, Membaca adalah tindakan kebangsaan. Membaca adalah tindakan peradaban. Membaca adalah cara kita menjaga api Pancasila tetap menyala dari generasi ke generasi. Dirgahayu Pancasila.***
Penulis : Harken, Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kepulauan Riau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....