Perubahan Perilaku: Arah Baru Gerakan Literasi yang Berdampak

  • 31 Mar 2026 15:48 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Di tengah semakin masifnya program literasi di Indonesia, satu hal penting perlu menjadi refleksi bersama: keberhasilan literasi tidak cukup diukur dari aktivitas, tetapi dari perubahan perilaku yang dihasilkan. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Selama ini, berbagai inisiatif literasi telah menunjukkan kemajuan yang patut diapresiasi. Akses terhadap bahan bacaan semakin terbuka, ruang belajar semakin banyak, dan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan literasi terus meningkat. Namun, di balik capaian tersebut, masih terdapat tantangan mendasar yang perlu dijawab bersama, yaitu bagaimana memastikan literasi benar-benar berdampak pada perubahan cara berpikir dan bertindak masyarakat.

Perubahan perilaku menjadi indikator penting karena di situlah literasi menemukan maknanya. Seseorang yang literat bukan hanya yang gemar membaca, tetapi juga yang mampu bersikap kritis terhadap informasi, bijak dalam mengambil keputusan, serta bertanggung jawab dalam menyebarkan pengetahuan. Dalam konteks ini, literasi berfungsi sebagai fondasi pembentukan karakter dan kualitas sumber daya manusia.

Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kepulauan Riau, Harken, menekankan bahwa arah gerakan literasi ke depan perlu lebih berfokus pada dampak nyata di masyarakat.

“Literasi tidak boleh berhenti pada kegiatan membaca semata. Ukuran keberhasilannya adalah ketika masyarakat mulai berubah, lebih kritis, lebih selektif terhadap informasi, dan lebih aktif dalam belajar. Di situlah literasi benar-benar hidup,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sebagai pengingat bahwa literasi adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan pendekatan yang adaptif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan strategi agar literasi tidak hanya bersifat programatik, tetapi menjadi budaya yang mengakar.

Pertama, pendekatan literasi perlu lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Materi bacaan dan kegiatan literasi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan lokal, sehingga masyarakat merasa dekat dan terdorong untuk terlibat secara aktif. Literasi yang kontekstual akan lebih mudah mendorong perubahan kebiasaan.

Kedua, penguatan peran komunitas, khususnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM), menjadi sangat penting. TBM memiliki posisi strategis sebagai ruang belajar yang dekat dengan masyarakat. Lebih dari sekadar menyediakan buku, TBM dapat menjadi pusat interaksi, diskusi, dan pengembangan kapasitas masyarakat.

Harken juga menambahkan bahwa TBM harus terus bertransformasi agar mampu menjawab tantangan zaman.

“TBM harus menjadi ruang yang hidup, bukan hanya tempat membaca, tetapi tempat bertukar gagasan, berdiskusi, dan membangun kesadaran kritis. Jika ini berjalan, maka perubahan perilaku akan terjadi secara alami,” jelasnya.

Ketiga, literasi perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, komunitas, dan sektor swasta perlu bergerak bersama dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Sinergi ini penting agar upaya literasi tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan.

Keempat, pemanfaatan teknologi digital harus dioptimalkan sebagai sarana literasi. Di era informasi saat ini, kemampuan literasi digital menjadi sangat penting. Masyarakat tidak hanya perlu mengakses informasi, tetapi juga mampu memilah, memverifikasi, dan memanfaatkannya secara produktif.

Kelima, diperlukan dukungan kebijakan yang mendorong pembudayaan literasi secara berkelanjutan. Regulasi daerah yang berpihak pada penguatan literasi dapat menjadi landasan penting dalam membangun ekosistem yang lebih terarah dan terukur.

Dengan pendekatan yang lebih konstruktif dan berorientasi pada dampak, gerakan literasi memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan sosial yang mampu mendorong perubahan. Literasi tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan literasi terletak pada sejauh mana ia mampu membentuk manusia yang berpikir kritis, bersikap bijak, dan bertindak bertanggung jawab. Perubahan perilaku bukan hanya tujuan akhir, tetapi juga proses yang terus dibangun melalui kebiasaan dan lingkungan yang mendukung.

Jika literasi mampu menghadirkan perubahan tersebut, maka ia tidak hanya menjadi program, tetapi menjadi gerakan yang benar-benar memberi dampak bagi kemajuan masyarakat dan pembangunan yang berkelanjutan.***

Penulis: Harken (Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kepulauan Riau)

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....