Bappisus dan Arah Baru Pemerintahan Prabowo-Gibran

  • 20 Okt 2025 19:39 WIB
  •  Batam

KBRN, Batam: Satu tahun sudah duet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memegang tampuk kekuasaan. Banyak yang awalnya ragu, menganggap kombinasi senior–muda ini hanya simbol politik. Namun setahun berjalan, justru muncul dinamika baru: stabilitas politik tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,12%, dan kepercayaan publik melonjak di atas 80%. Ini bukan sekadar angka ini adalah tanda bahwa publik mulai melihat kerja nyata, bukan sekadar retorika.

Salah satu faktor penting di balik stabilitas tersebut adalah peran strategis BAPPISUS (Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus). Lembaga ini kini tampil sebagai “garda bersih-bersih” di tengah derasnya arus proyek pembangunan nasional.

Di era di mana publik makin sensitif terhadap isu korupsi dan efisiensi anggaran, BAPPISUS muncul sebagai instrumen pengawasan yang efektif, progresif, dan berani.

Di bawah instruksi langsung Presiden Prabowo, BAPPISUS diperintahkan untuk memastikan tidak ada kebocoran anggaran dan manipulasi proyek. Kebijakan ini sejalan dengan prinsip adaptive governance (Ansell & Gash, 2018), yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas-lembaga dan kemampuan pemerintah beradaptasi secara cepat terhadap risiko penyimpangan.

Pendekatan ini menandai pergeseran paradigma dari birokrasi yang reaktif menuju birokrasi adaptif dan antisipatif, yang menekankan pencegahan sebelum masalah terjadi. Tak heran, koordinasi BAPPISUS dengan lembaga seperti KPK dan Bea Cukai kini semakin erat, menunjukkan model cross-sector collaborative governance yang nyata, bukan sekadar simbolik (Emerson & Nabatchi, 2020).

Meski demikian, opini publik perlu tetap kritis. Lembaga pengawasan yang kuat seperti BAPPISUS harus berjalan seiring dengan prinsip open government dan digital accountability, sebagaimana disarankan oleh teori digital-era governance (Dunleavy & Margetts, 2023). Dalam konteks ini, kekuasaan pengawasan tidak boleh menjadi alat kontrol sepihak, tetapi harus terhubung dengan sistem audit terbuka, data transparency, dan partisipasi publik digital. Langkah Presiden Prabowo yang menekankan audit daring, keterbukaan data proyek, dan pelaporan publik dapat dibaca sebagai bentuk transformasi menuju pemerintahan kolaboratif berbasis transparansi digital, suatu ciri utama pemerintahan modern abad ke-21.

Yang menarik, duet Prabowo-Gibran terlihat mencoba memadukan karisma politik lama dengan gaya digital era baru. Gibran, dengan komunikasi ringkas dan lugasnya, menjadi simbol efisiensi dan kedekatan generasi muda dengan pemerintah. Sementara Prabowo tetap tampil sebagai figur simbolik-pemersatu dan penjaga arah kebijakan strategis. Kombinasi ini memberi kesan keseimbangan antara ideologi dan pragmatisme.

Dalam satu tahun ini, publik telah melihat transformasi: dari janji persatuan menuju aksi pembangunan yang terukur. Program-program sosial seperti subsidi pangan, pendidikan vokasi, dan penguatan UMKM berjalan serentak di banyak daerah. Meski belum sempurna, arah kebijakan menunjukkan konsistensi, bahwa pemerintahan ini ingin dikenal bukan karena jargon, tapi karena capaian konkret.

BAPPISUS dalam konteks ini menjadi simbol moral baru. Bukan lembaga superpower, melainkan watchdog yang bergerak cepat, berkoordinasi lintas instansi, dan berani membuka data. Seperti yang disampaikan Kepala BAPPISUS dalam beberapa forum, “pembangunan tanpa pengawasan adalah undangan bagi penyimpangan.” Kalimat itu kini menjadi semacam mantra baru bagi birokrasi era Prabowo–Gibran.

Refleksi satu tahun pemerintahan ini mengajarkan dua hal. Pertama, bahwa politik persatuan tidak cukup diucapkan, tapi harus diwujudkan melalui mekanisme pemerintahan yang adil dan bersih. Kedua, bahwa pengawasan yang kuat seperti BAPPISUS justru memperkuat legitimasi pemerintah di mata publik, karena rakyat kini menuntut kecepatan dan integritas, bukan sekadar janji dan citra.

Pemerintahan Prabowo-Gibran mungkin belum sempurna. Tetapi arah perubahannya jelas: dari politik pencitraan menuju politik kinerja. Dan bila arah ini konsisten, maka BAPPISUS bukan sekadar lembaga teknokratis, melainkan simbol kebangkitan tata kelola baru, yang menempatkan kejujuran dan efektivitas sebagai dua sisi mata uang yang sama.

Setahun pemerintahan Prabowo-Gibran bukan sekadar soal stabilitas ekonomi dan politik, melainkan tentang bagaimana negara membangun trust baru melalui mekanisme pengawasan yang modern dan inklusif. BAPPISUS adalah representasi konkret dari semangat itu, bekerja senyap, tapi berdampak nyata.

Opini ditulis oleh Yasmin N.H.

(Pakar Perang Asimetris Alumni Master Pertahanan Universitas Pertahanan Jakarta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....