Lionel Messi Bersiap Jalani Laga Terakhir Bersama Timnas Argentina

  • 05 Okt 2026 14:34 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Lionel Messi akan menjalani pertandingan terakhirnya bersama Timnas Argentina saat menghadapi Benin di Stadion Monumental, Buenos Aires, Selasa. Penampilan tersebut sekaligus menjadi penutup perjalanan panjang sang megabintang yang selama lebih dari 20 tahun memperkuat tim nasional.

Dilansir dari Reuters, perjalanan Messi bersama Argentina tidak selalu berjalan mulus. Sebelum menjadi ikon sepak bola negaranya, keberadaan pemain asal Rosario itu bahkan sempat tidak begitu dikenal oleh federasi sepak bola Argentina. Ketika masih remaja, Messi justru mengembangkan kariernya di Spanyol bersama Barcelona.

Jurnalis sekaligus penulis Argentina, Sergio Levinsky, menggambarkan perjalanan tersebut sebagai rangkaian fase yang sangat berbeda. Ia mengatakan Messi harus melewati masa sulit sebelum akhirnya mendapatkan tempat istimewa di hati masyarakat Argentina.

"Dia melewati begitu banyak momen yang benar-benar merupakan era yang sangat berbeda. Pada awalnya dia sangat menderita bersama tim nasional. Dia benar-benar harus melewati masa-masa sulit itu," kata Levinsky kepada Reuters.

Salah satu kisah yang menggambarkan bagaimana Argentina awalnya terlambat menyadari potensi Messi terjadi pada Piala Dunia U-17 2003 di Finlandia. Argentina kalah 2-3 dari Spanyol pada semifinal setelah pertandingan berlangsung hingga perpanjangan waktu.

Dalam pertandingan tersebut, Cesc Fabregas tampil menonjol dengan mencetak dua gol. Fabregas saat itu merupakan rekan Messi di akademi La Masia Barcelona. Seusai laga, Fabregas disebut menyampaikan komentar kepada delegasi Argentina mengenai pemain muda yang mereka miliki di Barcelona.

"Anda kalah dari kami karena kami memiliki pemain terbaik Anda di Barcelona dan dia adalah seorang jenius."

Pelatih Argentina U-20 ketika itu, Hugo Tocalli, juga mengingat bagaimana pihak Argentina berusaha mengenali sosok Messi. Dalam sebuah pertemuan bulan lalu, Tocalli menceritakan bahwa kepala koki tim Spanyol pernah mengatakan Argentina membutuhkan "seorang anak yang bermain di Barcelona" untuk memenangi turnamen.

Menemukan Messi dan keluarganya pun bukan perkara mudah. Omar Souto, salah satu pegawai AFA, harus menggunakan direktori telepon Rosario untuk melacak keberadaan keluarga Messi yang tinggal di Spanyol.

Namun, pencarian itu sempat diwarnai kesalahan nama. Souto justru menanyakan seseorang bernama Leonardo.

"Namanya bukan Leonardo, tetapi Lionel," kata Souto sebagaimana dikutip dalam dokumenter Messi: The Forgotten Tape.

Kekeliruan serupa bahkan terjadi ketika AFA berkomunikasi dengan Barcelona. Levinsky menyebut federasi Argentina pernah mengirim faks untuk menanyakan pemain bernama "Mecci". Nama Messi ditulis dengan dua huruf "c" karena ketika itu ada dugaan bahwa sang pemain mungkin memiliki latar belakang Italia.

Dari Keraguan Menuju Ikon Nasional

Messi akhirnya mulai mengenakan seragam Argentina pada 2004 ketika tampil dalam dua laga persahabatan bersama tim U-20. Meski demikian, kehadirannya belum langsung mendapat penerimaan penuh.

Setahun kemudian, Messi bahkan belum menjadi pilihan utama ketika Argentina memulai Piala Dunia U-20 di Belanda. Ia berada di bangku cadangan saat Argentina kalah pada pertandingan pembuka.

"Ada penolakan yang kuat untuk memanggil pemain yang tidak bermain di negara tersebut," kata Levinsky. "Dia harus melawan kecurigaan sejak awal dan anggapan bahwa dirinya adalah orang asing karena tinggal di Spanyol."

Keraguan tersebut kemudian berkembang menjadi kritik ketika performa Messi bersama Argentina dianggap tidak sehebat penampilannya bersama Barcelona. Sebagian pendukung bahkan menyebutnya "pecho frio", istilah yang digunakan untuk menggambarkan pemain yang dianggap kurang memiliki semangat atau keberanian.

Momen penting dalam perubahan pandangan publik terjadi ketika Argentina menghadapi Kolombia pada kualifikasi Piala Dunia 2011. Dalam pertandingan tersebut, Messi membantu Argentina membalikkan keadaan setelah tertinggal.

"Dia kelelahan, bahkan sampai muntah, tetapi pada akhirnya dia berhasil menang," kata Levinsky. "Itu adalah pertama kalinya para penggemar melihatnya dengan cara yang berbeda."

Dukungan publik terhadap Messi semakin terasa beberapa tahun kemudian. Setelah Argentina kalah dari Chile melalui adu penalti pada final Copa America 2016, Messi sempat menyatakan pensiun dari tim nasional.

Keputusan itu justru membuat masyarakat Argentina meminta pemain tersebut kembali. Menurut Levinsky, publik mulai memahami bahwa Messi bukan penyebab kegagalan Argentina mencapai gelar juara.

"Orang-orang menyadari bahwa dia bukan penyebab kekalahan. Dia justru orang yang membawa mereka ke final," ujar Levinsky.

Perubahan besar kemudian terjadi di bawah arahan Lionel Scaloni. Messi tidak hanya menjadi kapten, tetapi juga figur sentral bagi generasi baru Argentina. Bersama Scaloni, ia memimpin Argentina meraih dua gelar Copa America dan akhirnya menjadi juara Piala Dunia 2022.

Kedudukannya sebagai pemimpin tim membuat Messi kerap disandingkan dengan legenda Argentina lainnya, Diego Maradona. Namun, Levinsky menilai kedua pemain tersebut sebaiknya tidak ditempatkan dalam persaingan sederhana mengenai siapa yang lebih hebat.

"Ini adalah Messi dan Maradona," katanya. "Keduanya adalah pemain jenius di era yang berbeda."

Levinsky menilai hubungan Messi dengan masyarakat Argentina juga memiliki karakter berbeda dibandingkan hubungan Maradona dengan publik. Jika kecintaan terhadap Maradona muncul begitu kuat sejak awal, penerimaan terhadap Messi justru terbentuk melalui proses panjang.

Sebagian besar masa perkembangan Messi berlangsung di luar Argentina. Namun, seiring waktu, prestasi dan perjuangannya bersama tim nasional membuat jarak tersebut semakin mengecil.

"Messi seperti tiba-tiba mengetahui bahwa Anda memiliki seorang anak laki-laki berusia 18 tahun," kata Levinsky. "Anda harus mulai mencintainya tanpa pernah mengetahui bahwa dia ada. Itu adalah cinta yang dibangun secara perlahan."

Kini, setelah lebih dari dua dekade mengenakan seragam Argentina dan melewati berbagai fase dalam karier internasionalnya, Messi bersiap mengucapkan salam perpisahan. Perjalanan yang dahulu dimulai dengan pencarian seorang pemain muda dari Rosario tersebut akhirnya berkembang menjadi kisah panjang antara seorang pesepak bola dan negaranya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....