FIFA Batalkan Rencana Privatisasi Saham Komersial setelah Gelombang Penolakan
- 03 Agt 2026 12:24 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - FIFA resmi membatalkan rencana kontroversial untuk menjual sebagian saham dari unit komersial barunya kepada investor swasta setelah mendapat penolakan luas dari berbagai konfederasi sepak bola dunia, asosiasi anggota, klub, hingga tokoh-tokoh olahraga. Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang mengakui bahwa proyek tersebut justru memicu perpecahan di dunia sepak bola.
Sebelumnya, FIFA berencana membentuk perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola seluruh aktivitas komersial organisasi, termasuk hak siar, sponsor, tiket, lisensi, serta penyelenggaraan turnamen seperti Piala Dunia. Melalui skema tersebut, FIFA ingin melepas hingga 20 persen kepemilikan kepada investor swasta dengan target pendanaan sekitar US$4,2 miliar, yang membuat valuasi FFE mencapai sekitar US$20 miliar.
Infantino menegaskan bahwa tujuan utama proyek tersebut adalah meningkatkan dana pengembangan sepak bola global. Namun, setelah mendengarkan berbagai masukan dari asosiasi anggota dan para pemangku kepentingan, FIFA memutuskan untuk menghentikan rencana tersebut demi menjaga persatuan organisasi.
Gelombang penolakan dipimpin oleh UEFA yang menyebut gagasan tersebut sebagai upaya "menjual jiwa sepak bola". UEFA bahkan mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila proposal tersebut tetap dilanjutkan. Penolakan serupa kemudian datang dari CONCACAF dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), sehingga mayoritas anggota FIFA tidak memberikan dukungan terhadap proyek tersebut.
Kontroversi juga memicu gejolak internal di tubuh FIFA. Sejumlah pejabat senior dikabarkan kecewa dengan proses penyusunan proposal yang dinilai kurang transparan. Salah satu penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, bahkan mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap rencana privatisasi tersebut.
Meski proyek telah dibatalkan, dampaknya terhadap kepemimpinan Gianni Infantino diperkirakan masih akan berlanjut. Sejumlah tokoh sepak bola menilai kepercayaan terhadap Presiden FIFA telah menurun drastis, sementara beberapa konfederasi mulai mendorong perubahan tata kelola organisasi menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya pada 2027.
Keputusan ini sekaligus menutup sementara wacana privatisasi sebagian bisnis komersial FIFA. Bagi banyak pihak, pembatalan tersebut dianggap sebagai kemenangan bagi prinsip bahwa kompetisi sepak bola internasional, khususnya Piala Dunia, harus tetap berada di bawah kendali penuh organisasi sepak bola dan tidak menjadi aset yang diperdagangkan kepada investor swasta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....