Tudung Manto Menekat Ekonomi Pesisir Lingga Ke Level Internasional
- 04 Okt 2026 23:53 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Selama ini, ekonomi Kepri kerap dibayangkan hanya berputar pada Batam, Karimun, dan Tanjungpinang, tiga wilayah dengan pelabuhan, kawasan industri, bandara, dan perusahaan. Ekonomi yang tumbuh dari warisan budaya dan kekayaan pesisir jarang diperhitungkan. Namun, anggapan ini dipatahkan, lewat sehelai kain bernama Tudung Manto dari Lingga nan jauh di sana.
Tudung Manto adalah selendang penutup kepala, warisan Melayu Daik Lingga, ditekati benang kelingkan di atas kain sifon, sutra, atau ceruti. Warnanya menyimpan makna, kuning untuk keturunan raja, hijau untuk Syarifah, merah untuk bangsawan, putih untuk yang suci seperti dalam acara pernikahan maupun khitanan, ungu untuk dewasa, dan hitam untuk masyarakat awam.
Warisan wastra Melayu itu, tumbuh dari rumah seorang perempuan bernama Leni Rusnika di Kampung Tembaga, Jalan Masjid Sultan Lingga. Dari tangan dinginnya, Tudung Manto terbang jauh ke Jakarta, Kalimantan, Malaysia, Singapura, Australia, Beijing, bahkan ikut dibawa ke Mekah.
Harganya mulai Rp2,5 juta untuk ukuran standar 1,5 meter x 60 sentimeter, dan bisa mencapai Rp4 juta untuk ukuran lebih besar dengan motif paling rapat, yakni pucuk rebung. Sedangkan yang paling murah, dengan motif kelok paku dihargai sekitar Rp1 juta hingga Rp2,5 juta rupiah untuk ukuran yang lebih kecil.
Perempuan yang lahir 41 tahun yang lalu itu, dulunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang menunggu uang bulanan dari suami. Kini dia tidak hanya memiliki penghasilan secara mandiri namun juga membangun ekosistem dengan memberdayakan perempuan setempat. Sebuah langkah yang patut diperhitungkan untuk dijadikan contoh bagaimana perempuan pesisir tak kehilangan jati dirinya saat modernitas bisa diakses melalui ponsel.
Leni Rusnika masih ingat kalimat tetangganya hari itu, saat ia meminjam Tudung Manto untuk menghadiri acara adat di kabupaten. Tetangganya mengizinkan, tapi nada bicaranya membuat Leni tak nyaman.
“Saya ini kan orang Dabok, Kak. Jadi pas meminjam, dia cakap, bagaimana dia dipinjam, gitulah dikembalikan,” ujar Leni menirukan.
Kejadian itu terjadi pada 2019. Tujuh tahun kemudian, Leni memimpin kelompok pengrajin yang menekat selendang bersulam benang emas dari rumahnya. Rasa getir saat meminjam tidak membuatnya marah. Ia justeru penasaran, belajar, lalu jatuh cinta pada kerajinan itu dan dari sanalah muncul pesanan yang tiada putus hingga saat ini.
Pada 2021, Leni memberanikan diri membentuk kelompok sendiri bersama empat ibu rumah tangga di lingkungannya. Kini anggotanya dua belas orang. Kelompok itu ia namai Rumah Tekat Encek Zulaika.
Sehelai Kain Yang Banyak Tangan

Secara historis, Tudung Manto memang bukan sekadar produk fesyen. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat Tudung Manto sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dalam domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional. Tudung Manto tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Melayu Kepri namun juga Malaysia, sebab DNA sejarah yang tak mampu dilepaskan dari kedua negara ini membuatnya sama-sama memiliki wastra tersebut. Namun yang membuat Tudung Manto Lingga berbeda adalah teknik menekat dan motif yang khas.
Menurut Leni, membuat Tudung Manto bukan pekerjaan yang bisa dikejar dengan mesin. Kain harus dibentangkan, motif disusun, kemudian benang kelingkan ditempatkan satu per satu, ketelitian pengrajin menjadi bagian dari harga. Semakin rumit pengerjaannya maka semakin mahal harga.
Motif seperti kelopak, bunga kundur dan pucuk rebung membutuhkan tingkat ketelitian yang berbeda. Bagi perajin baru, motif pucuk rebung termasuk yang sulit karena susunan dan kerapihannya harus dijaga. Satu karya dapat menghabiskan waktu sekitar dua sampai tiga minggu. Untuk pekerjaan tertentu, waktunya bisa lebih panjang.
“Jadi kalau yang murah itu motif kelok paku, senang je nak buatnya kak. Sebab seminggu je dah cukup, dah bisa kami kasih ke pemesan. Harganya mulai dari 1 juta sampai 1,5 juta, ukurannya pun lebih kecil dari yang besar,” jelas Leni dalam logat Melayu Kepri
Persoalan harga justeru tidak membuat usaha Leni kehilangan orderan, melainkan bahan baku yang membuatnya harus memesan lebih dahulu ketimbang kelompok lain. Selain bahan yang langka, pun ketika sudah mendapatkannya harga menjadi berkali lipat. Terlebih sejak perang Iran dan Amerika Serikat membuat kelompok Leni harus menaikkan harga produksi.
“Dulu itu, gampang je pesan bahan utama Kak. Kami kan pesan dari Singapura adalah warga sini yang punya kawan di sana, jadi bolak-balek ke sini. Bahan yang mahal itu benang kelingkan itu, dulu waktu Covid harganya sekitar Rp350 ribu per kemasan kini sejak perang-perang inilah susah dicari dan pun kalau dapat mencapai sekitar Rp1,4 juta,” beber Leni.
Leni melanjutkan, ketika bahan baku tersendat, produksi ikut terhenti meskipun pesanan selalu ada. Itulah salah satu alasan mengapa perjalanan kelompok Leni tidak selalu tumbuh lurus. Kelompok yang pernah beranggotakan 12 orang itu kemudian menyusut setelah sebagian perajin memilih pekerjaan lain. Ada yang bekerja di perusahaan, toko, restoran maupun staf dapur MBG.
“Yang kami tau ye Kak, benang kelingkan itu kabarnya diproduksi dari Turki dan India kak, kalau di negara kite saya tak tau. Nah saat orderan masuk banyak, kami banyak pula menolak, sebab bahan baku itu tak ada. Itu bukan kelompok kami saja kak, hampir semua kelompok disini. Akhirnya kawan kami pun harus keluar, mereka ada yang kerja PT, jaga toko, jaga restoran pinggir laut itu, ada juga yang kerja MBG kak,” jelasnya.
Leni tidak memaksa mereka kembali. Baginya, mempertahankan kualitas lebih penting daripada sekadar memperbanyak jumlah anggota. Kini sekitar enam orang masih aktif bersamanya, mengerjakan tekat sekaligus menjahit produk pendukung seperti baju kurung. Di tengah keterbatasan itu, pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri. Namun Leni menyadari bahwa mempertahankan pasar membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan membuat Tudung Manto.
Leni membutuhkan peralatan, pengetahuan tentang pasar, desain, pengembangan produk dan akses kepada pihak yang bisa membuka jalan lebih luas. Di titik inilah Bank Indonesia masuk dalam perjalanan kelompok tersebut.
Bank Indonesia Menyelamatkan Tudung Manto Leni
Leni pertama kali mengenal program Bank Indonesia melalui jejaring yang menghubungkannya dengan kegiatan pembinaan UMKM. Ia kemudian diminta mengirimkan dua orang untuk mengikuti pelatihan. Awalnya Leni sempat menjelaskan bahwa keahliannya adalah teknik membuat Tudung Manto, bukan menjahit atau membuat pakaian. Namun, jawaban yang sederhana membuat ekosistem Tudung Manto terselamatkan.
“Jadi waktu itu dari Dekranasda telefon, kami disuruh ikut pelatihan menjahit, tapikan Tudung Manto bukan dijahit pakai mesin kak. Ujungnya kami juga cakap sama orang Bank Indonesia yang handle, namanya Pak Jaja, kata beliau belajar saja dulu. Itu yang buat kami senang belajar kak sama orang BI ini,” tutur Leni.
Selama ini, menurut Leni, persoalan yang dihadapinya bukan hanya soal kemauan bekerja. Ada jarak antara keterampilan tradisional yang ia kuasai dengan kebutuhan usaha yang semakin berkembang. Program pembinaan dari Bank Indonesia Kepri kemudian membawanya pada pelatihan, coaching, kurasi, inkubasi dan pengembangan pemasaran. Leni juga beberapa kali mengikuti kegiatan di luar Lingga. Yang paling berkesan baginya justru ketika BI datang langsung ke Daik.
“Kalau ada kegiatan, kami kadang dipanggil. Kalau biaya perjalanan ditanggung, saya pergi. Kalau tidak, kadang saya biayai sendiri. Tapi pas orang BI datang ke Daik itulah kak, senang betul kami. Kakak terbayang kan, jauh jarak itu, selama ini kan kami cuma taunya mereka pasti datang kalau Batam, Tanjung Pinang dan Karimun, nah pas tau nak ke Lingga, berdebar hati ini,” katanya sambil terkekeh.
Pertemuan-pertemuan itu membuat Leni merasa bahwa jarak geografis tidak semestinya menjadi batas bagi pelaku usaha kecil untuk mendapatkan pendampingan. Jarak 250 kilometer dari Batam ke Lingga yang dapat ditempuh melalui laut dan darat justeru mengubah anggapan bahwa ekonomi Kepri hanya berputar pada ketiga kota/kabupaten itu saja.
Kedatangan Bank Indonesia Kepri menjadi kesempatan bagi Leni untuk mencurahkan isi hatinya, tak disangka gayung pun bersambut, kelompok Leni mendapatkan bantuan 5 mesin jahit dari BI Kepri lengkap dengan lima mesin obras. Dari bantuan inilah produk turunan Tudung Manto tercipta memperkuat kapasitas produksi Rumah Tekat Encek Zulaika.
Mesin hanya salah satu bagian dari kebutuhan kelompok Leni, namun mereka tetap membutuhkan bahan baku, modal kerja, pasar dan kemampuan mengembangkan produk. Tudung Manto tetap dibuat dengan teknik tekat kelingkan. Motif dan karakter Melayu tetap dipertahankan. Namun keterampilan tersebut dapat dikembangkan menjadi baju kurung, busana dan produk fesyen lain.

Menekat Tudung Manto Yang Belum Selesai
Menekat Tudung Manto tidak hanya soal keahlian yang dilatih, melainkan rasa yang tertuang dalam setiap motifnya. Kelangkaan bahan baku, bukan satu-satunya alasan pesanan Tudung Manto tak dapat diselesaikan, namun juga akses permodalan.
Leni bahkan membayangkan usaha tersebut bisa berkembang jauh lebih besar apabila memiliki modal yang cukup. Sebab, tempat produksi sudah ada, keterampilan sudah ada, perajin masih ada dan pasar pun sudah mengenal produk mereka. Yang kurang adalah kemampuan untuk memperbesar kapasitas tanpa mengorbankan kualitas.
Bagi pengrajin sebuah warisan budaya yang pengerjaannya membutuhkan waktu berminggu-minggu, menjadi bagian dari ekonomi modern bukan perkara mengubahnya menjadi produksi massal. Melainkan, membuat produk tradisional tetap bernilai ketika pasar berubah, tanpa menghilangkan tangan manusia yang membuatnya.
Kini Leni membayangkan rumah produksinya suatu hari dapat berkembang menjadi galeri. Di sana, orang bukan hanya datang membeli selembar Tudung Manto namun juga melihat bagaimana prosesnya menjaga warisan Melayu pesisir yang bisa menjadi bagian kehidupan ekonomi yang tidak meninggalkan identitasnya. Jarak yang jauh dari episentrum ekonomi Kepri, menjadi bukti bahwa dirinya dan Tudung Manto serta produk turunannya layak diperhitungkan, selama masih ada yang mau menekatnya, helai demi helai.
“Kalau nak kesini senang je, alamat kami di Kampung Tembaga, Jalan Masjid Sultan Lingga Kampung Tembaga, RT 001/RW 002 Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Kalau nomor kami dibagi pun boleh 085374243904, naman kami Leni ye, bukan Zulaika, ahaha,” katanya sambil tertawa sembari menutup obrolan bersama RRI Batam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....