Candi Borobudur: Jejak Sejarah dan Perjalanan Spiritual di Magelang
- 30 Sep 2026 09:06 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Magelang - Candi Borobudur bukan sekadar bangunan kuno yang menjadi tujuan wisata di Jawa Tengah. Monumen Buddha yang dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi ini menyimpan jejak sejarah, seni, arsitektur, sekaligus gambaran perjalanan spiritual dalam tradisi Buddhis. Berada di Kabupaten Magelang, Borobudur bersama Candi Mendut dan Candi Pawon ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari Borobudur Temple Compounds, Situs Warisan Dunia pada 1991.
Sejarah pembangunan Borobudur masih menyisakan sejumlah pertanyaan. UNESCO memperkirakan monumen ini dibangun pada masa Dinasti Syailendra, tetapi belum ada bukti yang dapat memastikan secara rinci siapa yang memerintahkan atau bagaimana proses pembangunannya. Borobudur kemudian digunakan sebagai situs keagamaan Buddha sebelum ditinggalkan sekitar abad ke-10 hingga ke-15.
Pada 1814, keberadaan bangunan tersebut kembali diketahui setelah Thomas Stamford Raffles memperoleh informasi mengenai struktur besar di sekitar Magelang dan menugaskan H.C. Cornelius untuk membuka kawasan yang tertutup vegetasi. Pemugaran besar kemudian dilakukan pada 1907–1911 dan kembali pada 1973–1983 melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNESCO.
| Baca juga: Hari Kemerdekaan Tajikistan |
Dari sisi arsitektur, Borobudur dibangun mengelilingi sebuah bukit alami dan memiliki susunan bertingkat yang berbeda dari candi dengan ruang utama tertutup. Pengunjung bergerak melalui teras-teras persegi sebelum mencapai tiga pelataran melingkar dan stupa utama di puncak. Di sepanjang jalur tersebut terdapat ribuan panel relief.
Balai Konservasi Borobudur mencatat 1.460 panel relief cerita dan 1.212 panel relief dekoratif, serta 504 arca Buddha. Relief seperti Karmawibhangga, Lalitavistara, Jataka-Avadana, dan Gandavyuha disusun sebagai rangkaian cerita yang secara tradisional dibaca dengan berjalan searah jarum jam atau pradaksina.
Susunan bangunan Borobudur juga berkaitan erat dengan filosofi Buddhis. UNESCO menjelaskan pembagian vertikalnya melalui tiga ranah, yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu berada di bagian dasar dan menggambarkan kehidupan yang masih terikat keinginan duniawi, sementara Rupadhatu pada lima teras persegi menggambarkan tahap ketika manusia mulai melepaskan keterikatan tersebut tetapi masih berada dalam dunia bentuk.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Arupadhatu, yang diwujudkan melalui tiga pelataran melingkar dan stupa utama sebagai gambaran alam tanpa bentuk. Karena itu, perjalanan dari dasar menuju puncak dapat dibaca sebagai simbol perjalanan spiritual menuju pembebasan, sepeti dilansir dari Indonesiatravel.id.
Bagian atas Borobudur memperlihatkan perubahan karakter arsitektur yang cukup mencolok. Setelah melewati dinding-dinding penuh relief di bagian bawah, pengunjung tiba di tiga pelataran melingkar yang dikelilingi 72 stupa berlubang. Masing-masing stupa memiliki arca Buddha di dalamnya dan mengarah menuju stupa utama di titik tertinggi. Tidak hanya menjadi unsur visual, susunan tersebut memperkuat kesan perjalanan dari ruang yang padat dengan gambaran kehidupan menuju ruang yang lebih terbuka dan sederhana.
Borobudur juga tidak berdiri sebagai monumen tunggal. Candi Mendut dan Candi Pawon merupakan bagian dari kawasan Warisan Dunia yang sama dan memiliki hubungan spasial dengan Borobudur. Mendut dikenal dengan kelompok arca Buddha monumental di ruang utamanya, sedangkan Pawon merupakan candi yang berukuran lebih kecil dan berada di antara Mendut dan Borobudur. Di sekitar kawasan ini, warisan Borobudur juga berkembang melalui berbagai karya kerajinan. Relief dan unsur visual candi telah menjadi inspirasi bagi perajin dalam membuat batik, pahatan kayu dan bambu, gerabah, serta anyaman.
Bagi wisatawan, Candi Borobudur berada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, dan dapat dicapai melalui perjalanan darat dari Yogyakarta. Wisatawan yang datang melalui Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo juga perlu melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan darat. Pengunjung perlu memperhatikan jenis tiket karena akses ke pelataran berbeda dengan tiket untuk naik ke struktur candi.
Jadwal, kuota, dan harga tiket dapat berubah sehingga sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi pengelola sebelum berkunjung. Dengan sejarah panjang, ribuan relief, arsitektur yang sarat makna, serta keterkaitannya dengan Mendut dan Pawon, Borobudur menawarkan lebih dari sekadar pemandangan sebuah candi menjadi ruang untuk membaca kembali jejak peradaban dan cara manusia pada masa lalu memaknai kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....