Anak Tuli Sulit Laporkan Kekerasan, Kemen PPPA Dorong Layanan Ramah Disabilitas
- 30 Sep 2026 09:06 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Akses bahasa isyarat menjadi salah satu kunci agar anak penyandang disabilitas Tuli dapat menyampaikan ketika mengalami kekerasan, perundungan, sakit, maupun kondisi yang membuat mereka merasa tidak aman.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengatakan hambatan komunikasi dapat membuat anak penyandang disabilitas kesulitan menyampaikan kondisi yang mereka alami, termasuk ketika membutuhkan perlindungan.
“Jangan sampai ada korban yang sebenarnya ingin berbicara tetapi tidak menemukan cara untuk menyampaikan pengaduannya,” ujar Arifah dalam Kampanye Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026, dikutip RRI.CO.ID, Rabu.
Menurut Arifah, kemampuan berkomunikasi bukan sekadar persoalan teknis bagi anak Tuli. Akses tersebut berkaitan langsung dengan pemenuhan hak anak karena memungkinkan mereka memperoleh informasi, belajar, menyampaikan pendapat, mengambil keputusan mengenai dirinya, hingga berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Ia mencontohkan, anak yang memiliki akses komunikasi memadai dapat menyampaikan ketika merasa takut, tidak nyaman, sakit, mengalami perundungan atau menghadapi kekerasan. Sebaliknya, keterbatasan komunikasi di lingkungan sekitar dapat menjadi hambatan ketika anak membutuhkan pertolongan.
Karena itu, Kementerian PPPA mendorong layanan perlindungan perempuan dan anak, termasuk SAPA 129, dapat diakses secara setara oleh perempuan dan anak penyandang disabilitas.
“Layanan yang ramah disabilitas bukanlah layanan tambahan. Inklusivitas harus menjadi bagian dari kualitas layanan itu sendiri,” tegas Arifah.
Pengajar Bahasa Isyarat Indonesia dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) DKI Jakarta, Iwan Satriyawan Setyohadi, menjelaskan Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO merupakan bahasa alami komunitas Tuli yang memiliki karakteristik kebahasaan tersendiri dan tidak bersifat universal.
Menurut Iwan, kemampuan berbahasa isyarat juga perlu diikuti pemahaman terhadap budaya Tuli. Dengan begitu, komunikasi tidak berhenti pada kemampuan menggunakan sejumlah gerakan tangan, tetapi menjadi jembatan antara komunitas Tuli dan masyarakat luas.
“Dengan mempelajari bahasa isyarat, kita tidak hanya mendapatkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan teman Tuli, tetapi juga belajar memahami budaya Tuli dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif,” ujarnya.
Kampanye Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026 mengusung tema “Bahasa Tanpa Batas, Perlindungan untuk Semua”. Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan kementerian/lembaga, organisasi penyandang disabilitas, guru, pendamping, juru bahasa isyarat serta anak penyandang disabilitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....