Polibatam Mulai Ukur Dampak Kampus, Tak Lagi Hanya Hitung Lulusan dan Penelitian
- 04 Sep 2026 00:09 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Politeknik Negeri Batam mulai mengubah cara mengukur keberhasilan perguruan tinggi. Tidak hanya melihat jumlah lulusan, mahasiswa maupun penelitian, kampus kini turut menghitung dampak sosial, ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan dari keberadaannya.
Hal tersebut disampaikan Direktur Politeknik Negeri Batam Bambang Hendrawan dalam Pagelaran Teknovasi 2026 di Kampus Polibatam, Senin, 31 Agustus 2026. Pagelaran tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan pendidikan vokasi, industri, inovasi dan masyarakat.
Bambang mengatakan perubahan ukuran keberhasilan tersebut mengikuti arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong perguruan tinggi melihat dampak keberadaannya. Menurutnya, ukuran tersebut menjadi bagian dari pertanggungjawaban kampus kepada masyarakat.
“Jadi kita tidak mengukur lagi berapa jumlah lulusan, berapa jumlah penelitian gitu ya, berapa jumlah mahasiswa tapi kita sudah mengukur dampaknya,” kata Bambang.
Untuk dampak sosial, Polibatam antara lain melihat hasil dari program afirmasi bagi mahasiswa. Program tersebut mencakup penerima KIP Kuliah dan afirmasi bagi mahasiswa dari daerah tertinggal, terdepan dan terluar.
Bambang menyebut lulusan dari program afirmasi tersebut menunjukkan tingkat penyerapan kerja lebih dari 87 persen dalam waktu kurang dari satu tahun setelah lulus. Selain itu, terdapat 470 mahasiswa yang aktif sebagai relawan dengan estimasi 37.600 jam pengabdian efektif.
Menurutnya, dampak sosial juga terlihat dari kontribusi kampus terhadap kebijakan publik. Polibatam mencatat sembilan kontribusi kebijakan publik yang didukung melalui 26 penelitian dan kajian kolaboratif.
Bambang menilai pengukuran dampak membuat perguruan tinggi perlu melihat lebih jauh manfaat aktivitas akademik yang dilakukan. Penelitian, misalnya, tidak cukup hanya selesai sebagai laporan, tetapi perlu dilihat apakah hasilnya benar-benar digunakan oleh masyarakat atau mitra.
“Dampak ekonomi tingkat kebekerjaan kita 86,9% di tahun 2025 ada 51 produk penelitian yang dimanfaatkan,” ujarnya.
Ia mengatakan pendekatan serupa juga diterapkan dalam melihat dampak ekonomi dan lingkungan. Dengan cara tersebut, keberadaan kampus diharapkan dapat terlihat melalui manfaat yang dirasakan di luar lingkungan akademik.
Pengukuran tersebut masih dinilai sebagai tahap awal oleh Polibatam. Namun, Bambang menegaskan proses tersebut akan terus dikembangkan agar kontribusi perguruan tinggi dapat terlihat secara lebih konkret.
Langkah tersebut sekaligus menempatkan pendidikan vokasi bukan sekadar sebagai lembaga yang menghasilkan tenaga kerja, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang berkontribusi terhadap kebutuhan industri, masyarakat dan pembangunan daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....