Mengenal Pelanduk Napu, Mamalia Mungil Penghuni Hutan Asia Tenggara

  • 31 Agt 2026 22:47 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Di balik lebatnya hutan Asia Tenggara, terdapat mamalia mungil yang mungkin tidak banyak dikenal masyarakat. Hewan itu adalah pelanduk napu (Tragulus napu), atau yang lebih umum disebut napu maupun napuh.

Pelanduk napu merupakan mamalia kecil yang termasuk kelompok ungulata berteracak genap dan berada dalam famili Tragulidae. Hewan ini masih berkerabat dekat dengan pelanduk jawa dan kancil. Dilansir dari Wikipedia bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris pelanduk napu dikenal dengan nama Greater mouse-deer.

Dari sisi ukuran, pelanduk napu tergolong lebih besar dibanding sejumlah jenis pelanduk lainnya. Tinggi bahunya sekitar 30 hingga 35 sentimeter, dengan panjang kepala dan tubuh sekitar 50 hingga 60 sentimeter. Sementara itu, panjang ekornya berkisar 7 hingga 8 sentimeter dengan berat tubuh umumnya sekitar 4 hingga 6 kilogram.

Ciri lain yang mudah dikenali terdapat pada warna rambutnya. Bagian atas tubuh pelanduk napu berwarna abu-abu hingga jingga dengan ujung rambut berwarna kehitaman, sehingga tubuhnya tampak seperti memiliki pola berbintik kasar. Bagian bawah tubuhnya berwarna putih dengan sedikit warna kecokelatan, sementara bagian dada memiliki bercak cokelat. Berbeda dari banyak mamalia jantan yang memiliki tanduk, pelanduk napu jantan justru memiliki taring.

Habitat pelanduk napu berada di kawasan hutan, termasuk hutan sekunder. Hewan ini juga terkadang memasuki kawasan perkebunan. Di sejumlah wilayah, pelanduk napu lebih sering ditemukan di dataran tinggi dibandingkan dataran rendah. Di Bangka bagian selatan, misalnya, hewan tersebut lebih banyak dijumpai di kawasan hutan rawa.

Dalam satu tahun, pelanduk napu umumnya melahirkan satu kali dengan satu anak, meskipun dalam sejumlah kasus dapat melahirkan dua anak. Masa kehamilannya berlangsung sekitar 152 hingga 172 hari. Makanannya antara lain rumput, daun semak rendah, dan buah-buahan yang jatuh ke tanah.

Pelanduk napu memiliki wilayah persebaran yang cukup luas di Asia Tenggara. Hewan ini dapat ditemukan di Thailand, Semenanjung Malaya, serta sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatra dan Kalimantan. Bahkan, populasi liar pelanduk napu masih dilaporkan ditemukan di Singapura, khususnya di kawasan Pulau Ubin.

Keberadaan pelanduk napu tidak terlepas dari kondisi habitatnya. Pembukaan hutan dapat mengurangi ruang hidup satwa tersebut dan berpotensi memengaruhi kelestariannya. Meski dikenal dapat dijinakkan dan memiliki potensi untuk dibudidayakan, informasi mengenai perilaku pelanduk napu, terutama pada musim kawin serta penyakit yang dapat menyerangnya, masih perlu diteliti lebih lanjut.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, keberadaan satwa seperti pelanduk napu menjadi bagian dari keanekaragaman hayati yang perlu diperhatikan. Kelestarian habitat menjadi salah satu faktor penting agar mamalia kecil ini tetap dapat ditemukan hidup liar di hutan-hutan Asia Tenggara.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....