100 Hari Pimpin BEM Polibatam, Aidil - Luthfi Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan
- 12 Jul 2026 11:44 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Seratus hari pertama kepemimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Batam (Polibatam) menjadi momentum bagi Presiden Mahasiswa M. Aidil Azhar dan Wakil Presiden Mahasiswa Sulthonah Luthfi untuk meletakkan fondasi organisasi yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berdampak.
Mengusung visi “Harmonis, Inklusif, dan Berdampak”, kepengurusan BEM Polibatam periode 2025/2026 tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan kegiatan mahasiswa, tetapi juga memperkuat peran mahasiswa sebagai mitra pembangunan melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, alumni, dan masyarakat.
Dalam laporan 100 hari kerjanya, BEM Polibatam mencatat sejumlah program prioritas yang telah berjalan, mulai dari Vocation Diplomat School, transparansi anggaran organisasi, Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM), hingga pengawalan implementasi konversi SKS melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).
Presiden Mahasiswa Polibatam, M. Aidil Azhar, mengatakan bahwa 100 hari pertama merupakan tahap membangun budaya organisasi yang sehat sekaligus membuktikan komitmen yang telah disampaikan kepada mahasiswa saat proses pemilihan.
“Kami ingin membangun BEM yang bukan hanya dikenal karena program kerjanya, tetapi juga karena manfaat yang benar-benar dirasakan mahasiswa. Organisasi mahasiswa harus menjadi ruang tumbuh, ruang belajar, sekaligus ruang untuk melahirkan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Aidil.
| Baca juga: Info Cuaca Batam - Minggu, 5 Juli 2026 |
Menurut Aidil, salah satu langkah yang dinilai strategis adalah pengawalan konversi SKS bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi. Baginya, kebijakan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap pengalaman kepemimpinan, pengabdian, dan manajemen organisasi yang diperoleh mahasiswa di luar ruang kelas.
Selain itu, melalui Vocation Diplomat School, BEM menghadirkan tokoh dari pemerintah daerah dan kalangan pelaku usaha untuk berbagi pengalaman mengenai kepemimpinan, diplomasi, komunikasi, hingga pentingnya membangun jejaring profesional.
“Mahasiswa vokasi tidak cukup hanya menguasai kompetensi teknis. Mereka juga perlu memiliki kemampuan membangun kolaborasi, kepemimpinan, dan komunikasi agar mampu menjadi SDM yang siap bersaing serta mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah,” ujarnya.
Aidil juga menilai transparansi anggaran yang mulai dipublikasikan melalui media sosial BEM merupakan bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang akuntabel.
“Kami ingin mahasiswa mengetahui bagaimana organisasi bekerja dan mengelola anggaran. Transparansi adalah bagian dari komitmen kami untuk membangun kepercayaan dan tata kelola organisasi yang baik,” tambahnya.
| Baca juga: Info Cuaca Batam - Sabtu, 4 Juli 2026 |
Sementara itu, Wakil Presiden Mahasiswa Sulthonah Luthfi menegaskan bahwa BEM ingin menghadirkan wajah baru organisasi kemahasiswaan yang lebih dekat dengan kebutuhan mahasiswa sekaligus lebih responsif terhadap isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa organisasi mahasiswa hanya identik dengan kegiatan seremonial atau penyelenggara acara. BEM harus mampu menjadi ruang pelayanan, pemberdayaan, advokasi, sekaligus menjadi jembatan kolaborasi antara kampus dengan berbagai pihak,” ujar Luthfi.
Menurutnya, semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kolaborasi yang telah dibangun bersama alumni, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan sektor industri.
Salah satunya diwujudkan melalui forum diskusi mengenai pengelolaan sampah yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebagai ruang bertukar gagasan mengenai tantangan pembangunan di Kota Batam.
“Mahasiswa memiliki kapasitas untuk memberikan gagasan, inovasi, bahkan solusi terhadap persoalan daerah. Kami ingin BEM menjadi ruang yang mendorong lahirnya pemimpin muda yang peduli terhadap pembangunan Batam dan Kepulauan Riau,” kata Luthfi.
| Baca juga: Info Cuaca Batam - Selasa, 16 Juni 2026 |
Ia menambahkan, organisasi mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara dunia akademik dan masyarakat. Melalui berbagai program pengabdian, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di kampus untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, BEM mengakui masih terdapat sejumlah tantangan pada awal kepengurusan, di antaranya partisipasi organisasi mahasiswa dalam beberapa kegiatan yang belum optimal akibat benturan jadwal dengan agenda masing-masing organisasi.
Aidil mengatakan evaluasi tersebut akan menjadi perhatian dalam penyusunan agenda selanjutnya.
“Kami akan memperkuat komunikasi dengan seluruh organisasi mahasiswa agar setiap program dapat disusun secara lebih kolaboratif. Kami percaya semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula dampak yang dapat diberikan kepada mahasiswa maupun masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, BEM Polibatam akan melanjutkan sejumlah agenda strategis, seperti Polibatam Fair, inaugurasi mahasiswa baru, penguatan kolaborasi antarorganisasi mahasiswa, serta memperluas program pengabdian kepada masyarakat.
Luthfi berharap seluruh mahasiswa dapat mengambil peran dalam menciptakan perubahan positif.
“Kami percaya mahasiswa bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga bagian dari penggeraknya. Ketika kampus, mahasiswa, alumni, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu berjalan bersama, maka akan lahir inovasi dan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi Batam, Kepulauan Riau, dan Indonesia,” tutupnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....