Dari Frankenstein hingga Sepeda: Warisan Tak Terduga "Tahun Tanpa Musim Panas"
- 30 Jun 2026 21:12 WIB
- Batam
Bagian 3
RRI.CO.ID, Batam - Bencana iklim yang dipicu letusan Gunung Tambora pada 1815 tidak hanya membawa kelaparan dan penderitaan. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas" juga meninggalkan jejak panjang dalam dunia seni, sastra, ilmu pengetahuan, hingga teknologi.
Salah satu kisah paling terkenal bermula pada musim panas 1816 di tepi Danau Jenewa, Swiss.
Cuaca yang terus diguyur hujan dan udara dingin memaksa sejumlah penulis Inggris menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam Villa Diodati. Di antara mereka terdapat penulis muda Mary Shelley, penyair Lord Byron, penyair Percy Bysshe Shelley, serta dokter John William Polidori.
Untuk mengusir kebosanan, kelompok itu mengadakan tantangan menulis cerita horor.
Dari pertemuan itulah Mary Shelley mendapat inspirasi untuk menulis Frankenstein, novel yang kemudian dianggap sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah sastra modern sekaligus pelopor fiksi ilmiah.
Lord Byron, yang juga terinspirasi oleh langit gelap dan suasana suram akibat perubahan iklim, menulis puisi berjudul Darkness. Puisi tersebut menggambarkan dunia yang kehilangan sinar Matahari, dipenuhi kegelapan, serta dilanda kehancuran akibat gagal panen dan kelaparan, gambaran yang mencerminkan pengalaman banyak orang pada masa itu.
Sementara itu, Polidori mengembangkan cerita yang kemudian menjadi novel pendek The Vampyre, karya yang kelak memengaruhi lahirnya tokoh vampir modern, termasuk karakter Dracula.
Dampak Tambora juga terekam dalam karya seni rupa.
Partikel abu vulkanik yang bertahan lama di atmosfer menciptakan matahari terbenam dengan warna merah dan jingga yang jauh lebih mencolok dibandingkan biasanya. Fenomena tersebut diyakini memengaruhi karya sejumlah pelukis Eropa, termasuk J. M. W. Turner dan Caspar David Friedrich, yang banyak menampilkan langit dramatis dan suasana kelam dalam lukisan mereka setelah 1815.
Penelitian modern bahkan menemukan hubungan antara peningkatan aktivitas vulkanik dengan dominasi warna merah dalam berbagai lukisan yang dibuat antara abad ke-16 hingga awal abad ke-20.
Di bidang teknologi, krisis pangan akibat gagal panen juga memunculkan inovasi yang tidak terduga.
Kelangkaan gandum menyebabkan harga pakan kuda melonjak, sementara banyak hewan mati karena kekurangan makanan. Kondisi itu mendorong penemu asal Jerman, Karl Drais, mencari alat transportasi yang tidak bergantung pada kuda.
Hasilnya adalah draisine, kendaraan roda dua tanpa pedal yang digerakkan dengan kaki. Temuan tersebut kemudian berkembang menjadi cikal bakal sepeda modern.
Perubahan iklim ekstrem juga ikut membentuk perjalanan sejarah Amerika Serikat.
Dilansir dari Wikipedia, ribuan keluarga meninggalkan New England menuju wilayah barat untuk mencari lahan pertanian yang lebih produktif. Arus migrasi ini mempercepat pembukaan kawasan Midwest, termasuk wilayah yang kemudian menjadi negara bagian Indiana dan Illinois.
Sejumlah sejarawan juga menilai perpindahan penduduk tersebut turut memengaruhi perkembangan gerakan sosial, termasuk gerakan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat pada dekade-dekade berikutnya.
Lebih dari dua abad setelah letusan Tambora, "Tahun Tanpa Musim Panas" masih menjadi salah satu contoh paling nyata tentang bagaimana satu peristiwa alam dapat memicu perubahan global.
Erupsi gunung api di sebuah pulau di Indonesia mampu mengubah iklim dunia, memengaruhi produksi pangan lintas benua, memicu migrasi manusia, mempercepat inovasi teknologi, hingga melahirkan karya sastra yang tetap dibaca jutaan orang hingga sekarang.
Bagi para ilmuwan, peristiwa 1816 juga menjadi pengingat bahwa sistem iklim Bumi saling terhubung. Gangguan besar di satu wilayah dapat menghasilkan konsekuensi yang dirasakan masyarakat di seluruh dunia pelajaran yang dinilai tetap relevan ketika dunia kini menghadapi tantangan perubahan iklim pada abad ke-21.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....