Penyebab Wabah Menari 1518 Masih Diperdebatkan hingga Kini (Bagian 2)
- 30 Jun 2026 20:58 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Lebih dari lima abad setelah Wabah Menari 1518 terjadi di Strasbourg, para peneliti masih belum mencapai kesepakatan mengenai penyebab peristiwa tersebut.
Artikel Wikipedia menyebut sejumlah penjelasan pernah muncul pada masa itu, mulai dari kerasukan roh jahat, hukuman Tuhan, hingga keyakinan bahwa darah yang terlalu panas menjadi penyebab seseorang terus menari. Saat itu dipercaya bahwa darah yang panas dapat didinginkan dengan terus menari sebelum akhirnya beristirahat.
Peristiwa serupa juga disebut pernah terjadi di wilayah lain pada Abad Pertengahan, termasuk di Cölbigk, Sachsen, pada abad ke-11. Sementara pada abad ke-15 di Apulia, Italia, seorang perempuan yang digigit laba-laba tarantula dipercaya harus terus menari sebagai bagian dari pengobatan.
Di kalangan peneliti modern, salah satu teori menyebut wabah tersebut mungkin dipicu oleh keracunan jamur ergot, yang dapat tumbuh pada biji-bijian seperti gandum hitam. Jamur itu menghasilkan senyawa psikoaktif ergotamine, yang memiliki hubungan kimia dengan LSD.
Namun, sejarawan John Waller menilai teori tersebut kurang meyakinkan. Dalam artikelnya di The Lancet, Waller berpendapat orang yang mengalami keracunan ergot kecil kemungkinannya mampu menari selama berhari-hari. Ia juga menyebut teori itu tidak menjelaskan mengapa hampir seluruh wabah menari terjadi di sepanjang Sungai Rhine dan Moselle, wilayah yang memiliki kondisi iklim dan hasil pertanian yang berbeda.
Waller kemudian mengemukakan teori lain, yakni bahwa wabah tersebut merupakan bentuk gangguan gerakan psikogenik yang terjadi secara massal atau penyakit psikogenik massal.
Menurutnya, masyarakat Alsace saat itu hidup dalam tekanan berat akibat kelaparan dan penyakit. Kondisi tersebut, ditambah kepercayaan yang kuat terhadap hal-hal supranatural, diduga membuat sebagian orang mengalami kondisi kesadaran yang berubah sehingga kehilangan kendali atas perilaku mereka.
Artikel Wikipedia juga menyebut sedikitnya tujuh wabah menari lain pernah dilaporkan di kawasan yang sama pada Abad Pertengahan. Dalam berbagai catatan, para penari digambarkan berada dalam keadaan seperti kesurupan.
Meski telah menjadi bahan penelitian selama bertahun-tahun, artikel tersebut menegaskan bahwa penyebab pasti Wabah Menari 1518 masih belum diketahui.
Peristiwa itu terus menjadi inspirasi berbagai karya budaya populer, termasuk film pendek "Strasbourg 1518" karya Jonathan Glazer pada 2020, lagu "Choreomania" dari Florence and the Machine pada 2022, buku fiksi "The Dancing Plague: A Collection of Utter Speculation", lagu "RATKING 1518" dari duo rap Grim Salvo pada 2024, video musik proyek SAGES oleh Loreen dan Ólafur Arnalds pada 2025, serta lagu "Died of Dancing" dari grup rock progresif Australia Toehider.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....