Industri Linen dari Eropa hingga Menjadi Komoditas Dunia

  • 30 Jun 2026 18:20 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Linen tetap menjadi salah satu bahan tekstil yang bernilai tinggi hingga memasuki era modern. Selama berabad-abad, kain berbahan serat rami ini terus digunakan sebagai bahan pakaian dan berkembang menjadi komoditas penting di berbagai negara.

Penggunaan linen sebagai pakaian masih bertahan hingga abad ke-16. Sejumlah artefak bersejarah yang terbuat dari linen masih dapat ditemukan, termasuk topi yang dikenakan Kaisar Charles V dan disimpan setelah wafatnya pada 1558.

Perkembangan industri linen kemudian mendapat dorongan besar di Irlandia setelah pencabutan Dekrit Nantes pada 1685. Banyak pengungsi Huguenot dari Prancis menetap di Kepulauan Inggris dan membawa teknik produksi linen yang lebih maju. Salah satu tokoh penting adalah Louis Crommelin, yang ditunjuk sebagai pengawas industri linen kerajaan Irlandia.

Crommelin menetap di Lisburn, kota yang kemudian berkembang menjadi pusat produksi linen dunia. Pada masa Victoria, sebagian besar linen dunia diproduksi di kota tersebut hingga Lisburn mendapat julukan Linenopolis.

Meski industri linen telah berkembang di wilayah Ulster, Crommelin melakukan berbagai pembaruan dalam teknik penenunan. Upayanya mendorong pemerintah membentuk Dewan Pengawas Produsen Linen Irlandia pada 1711 untuk mengembangkan industri tersebut secara lebih luas. Hingga kini, sejarah industri linen Irlandia terus didokumentasikan, salah satunya melalui proyek Living Linen yang dibentuk pada 1995 untuk menghimpun kesaksian para pekerja industri linen di Ulster.

Memasuki abad ke-18 dan ke-19, industri linen menjadi salah satu sektor penting dalam perekonomian Eropa. Revolusi Industri di Inggris dan Jerman mengubah sistem produksi dari kerajinan rumahan menjadi manufaktur berbasis mesin di pabrik-pabrik, sehingga meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan.

Di benua Amerika, linen juga menjadi komoditas penting sejak dibawa oleh para pemukim pertama ke wilayah koloni. Kain ini digunakan secara luas dalam kehidupan rumah tangga dan menjadi salah satu aset yang bernilai. Gerakan produksi rumahan turut mendorong masyarakat menanam rami dan memintal benang sendiri untuk memenuhi kebutuhan pakaian keluarga. Hingga dekade 1830-an, banyak petani di wilayah utara Amerika Serikat masih membudidayakan tanaman rami sebagai bahan baku linen.

Dilansir dari Wikipedia, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Rusia muncul sebagai produsen utama rami serat dunia. Negara itu pernah menghasilkan sekitar 80 persen produksi rami serat global, sekaligus menjadikan linen sebagai salah satu komoditas ekspor terpenting bagi perekonomiannya.

Pengakuan terhadap pentingnya linen sebagai salah satu serat alami juga diberikan di tingkat internasional. Pada Desember 2006, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan tahun 2009 sebagai Tahun Internasional Serat Alami untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap linen dan berbagai serat alami lainnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....