Perkembangan Kacamata, dari Batu Permata hingga Lensa Bifokal

  • 30 Jun 2026 18:18 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Kacamata yang dikenal luas saat ini merupakan hasil perkembangan panjang yang berlangsung selama berabad-abad. Catatan sejarah menunjukkan, penggunaan alat bantu penglihatan telah dikenal sejak masa Kekaisaran Romawi.

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan awal penggunaan alat bantu tersebut adalah Kaisar Nero, yang memerintah Romawi pada tahun 54 hingga 68 Masehi. Menurut sejumlah catatan sejarah, Nero menggunakan batu permata cekung ketika membaca maupun menyaksikan pertunjukan. Namun, tidak diketahui secara pasti apakah ia mengalami gangguan penglihatan.

Sejumlah sejarawan menyebut bangsa Tiongkok sebagai masyarakat pertama yang menggunakan bentuk kacamata yang menyerupai desain modern. Kacamata pada masa itu memiliki lensa kristal berbentuk oval berukuran besar dengan bingkai yang dibuat dari tempurung kura-kura. Agar tetap terpasang, lensa diikat menggunakan kawat berbobot, dikaitkan ke telinga, dipasang pada topi, atau disangkutkan di pelipis.

Meski demikian, fungsi kacamata pada masa itu bukan untuk membantu penglihatan. Bagi masyarakat Tiongkok kuno, kacamata lebih sering digunakan sebagai simbol keberuntungan atau untuk menampilkan kesan berwibawa. Bahkan, sebagian orang hanya mengenakan bingkainya tanpa menggunakan lensa.

Dilansir dari Wikipedia, penggunaan kacamata sebagai alat bantu penglihatan mulai berkembang di Eropa pada abad ke-13. Kacamata saat itu masih menggunakan lensa dari kristal atau batu bening, tetapi difungsikan untuk membantu melihat dengan lebih jelas.

Model awal yang digunakan di Eropa berupa kaca pembesar yang dipegang dengan tangan. Selanjutnya berkembang menjadi dua lensa yang dilengkapi gagang, kemudian diubah menggunakan pita atau tali yang diikatkan ke kepala. Pada periode berikutnya muncul model penjepit hidung atau pince-nez, sebelum akhirnya berkembang menjadi kacamata dengan gagang melengkung yang disangkutkan di telinga seperti yang digunakan hingga sekarang.

Sejarah juga mencatat nama Abbas Ibn Firnas pada abad ke-9 sebagai salah satu tokoh yang mengembangkan lensa untuk membantu penglihatan. Ia disebut berhasil memproduksi lensa bening yang kemudian dibentuk dan diasah menjadi batu bundar untuk membantu kegiatan membaca. Alat tersebut dikenal sebagai reading stone atau batu membaca.

Menjelang akhir abad ke-13, penggunaan kaca sebagai bahan lensa mulai menggantikan batu transparan karena dinilai memberikan hasil yang lebih baik. Sejumlah penelitian, termasuk yang dikemukakan ilmuwan dan sejarawan Inggris Sir Joseph Needham, menyebut teknologi pembuatan kacamata telah berkembang di Tiongkok sekitar seribu tahun lalu sebelum kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Eropa, pada masa perjalanan Marco Polo sekitar tahun 1270. Meski demikian, penemu pertama kacamata belum dapat dipastikan, meskipun banyak yang meyakini para pengrajin kaca berperan besar dalam pengembangannya.

Perkembangan penting berikutnya terjadi pada 1784 ketika ilmuwan Amerika Benjamin Franklin memperkenalkan kacamata bifokal. Inovasi tersebut memungkinkan pengguna melihat dengan jelas pada jarak dekat maupun jarak jauh menggunakan satu pasang kacamata, dan menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan teknologi optik.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....