Orang Tua Diminta Mendampingi Anak Menggunakan Gawai Saat Belajar

  • 29 Jun 2026 15:32 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Penggunaan gawai pada anak tidak selalu berdampak negatif. Selama disertai pendampingan dan pengaturan waktu yang baik, perangkat digital justru dapat menjadi media belajar yang efektif bagi anak yang mengalami kesulitan belajar.

Dosen dan Kepala Program Studi Sistem Informasi Institut Teknologi Batam (ITEBA), Alvendo Wahyu Aranski, mengatakan masih banyak orang tua yang menganggap teknologi sebagai penyebab utama menurunnya kemampuan belajar anak. Padahal, menurutnya, yang menjadi persoalan adalah kurangnya pendampingan selama anak menggunakan teknologi.

Ia menjelaskan anak tidak cukup hanya diberikan telepon pintar atau tablet tanpa arahan. Orang tua perlu mengetahui apa yang sedang dipelajari anak melalui perangkat tersebut dan menghubungkannya kembali dengan aktivitas belajar di rumah.

"Yang jelek bukan gamenya. Yang jelek adalah manajemen waktunya. Kemudian dia main tidak ditemani. Dia pakai komputer sebebasnya, itu yang perlu kita waspadai," ujar Alvendo.

Ia mencontohkan setelah anak selesai menonton video edukasi atau bermain permainan yang mengandung unsur pembelajaran, orang tua dapat mengajak anak mengulang kata-kata, huruf, atau warna yang baru dipelajari melalui permainan sederhana di rumah.

Menurutnya, pendampingan tersebut akan membantu memperkuat kemampuan motorik, membaca, menulis, maupun berhitung anak. Sebaliknya, apabila anak dibiarkan menggunakan gawai tanpa interaksi, manfaat teknologi tidak akan diperoleh secara maksimal.

Alvendo juga mendorong orang tua membuat rutinitas penggunaan teknologi di rumah. Anak diberikan jadwal yang jelas mengenai kapan boleh menggunakan gawai dan kapan harus berinteraksi bersama keluarga maupun melakukan aktivitas fisik.

Ia menilai rutinitas tersebut sangat membantu terutama bagi anak yang mengalami gangguan konsentrasi atau ADHD. Dengan aktivitas yang terstruktur, anak lebih mudah mengendalikan fokus dan memahami tanggung jawab hariannya.

"Kita bikin sebuah rutinitas digital. Kita kasih waktu kapan dia boleh menggunakan teknologi, kemudian ada batasannya. Setelah itu dia harus bermain dengan kita. Anak yang tidak dekat dengan orang tuanya, kita mau secanggih apa pun teknologinya, hasilnya akan kembali lagi," katanya.

Melalui pendampingan yang konsisten, Alvendo meyakini teknologi dapat menjadi alat yang memperkuat proses belajar sekaligus membantu anak mengembangkan potensi yang dimilikinya, bukan menggantikan peran orang tua maupun guru.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....