Selamatkan Pangan, Dinas KP2KH Kepri Ajak Masyarakat Stop Boros Pangan

  • 25 Jun 2026 15:28 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemerintah provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan (KP2KH) menggelar rapat koordinasi Gerakan Selamatan Pangan (GSP) provinsi Kepri tahun 2026 yang digelar di hotel Harmoni One Batam pada Kamis 25 Juni 2026.

Rapat koordinasi tersebut dibuka langsung oleh Kepala Dinas KP2KH Kepri, Rika Azmi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai badan, instansi serta lembaga terkait.

Kepala Dinas KP2KH Kepri, Rika Azmi mengatakan rapat koordinasi ini digelar dalam rangka menguatkan kolaborasi dan sinergi untuk mengurangi food loss dan waste (FLW). Ia juga mengajak kepada semua untuk stop boros pangan.

“Indonesia merupakan Negara ke-2 terbesar penghasil sampah makanan di dunia. Begitupun juga di Kepri, sampah makanan di Kepri masih tinggi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan Food Waste adalah sampah makanan yang hasilkan dari proses distribusi dan pemasaran, konsumsi (rumah tangga, restoran, hotel, catering dan lainnya).

“Food Loss itu sampah makanan yang dihasilkan dari proses produksi, pasca panen dan penyimpanan, pemprosesan dan pengemasan,” jelasnya.

Menurutnya beberapa dampak dari sampah makanan, diantaranya kehilangan energy. Kehialangan energy akibat FLW terjadi pada tahun 2000-2019 yaitu setara dengan porsi makan 61-125 juta orang pertahun.

“Dampak lainnya kehilangan ekonomi. Kehilangan ekonomi dari FLW tahun 2000-2019 yaitu 213-551 triliun rupiah pertahun atau setara dengan 4-5 persen PDB Indonesia pertahun. Dampak terakhir dari sampah makanan ini yaitu emisi gas rumah kaca. Selama 20 tahun, total emisi dari FLW di Indonesia yaitu 1.702.9 mt CO2 ek atau setara dengan luas pulau jawa dan NTB jika ditanami pohon,” tambahnya.

Ia mengajak semua untuk stop boros pangan dengan melakukan langkah-langkah, seperti ambil makanan secukupnya dengan gizi seimbang dan habiskan. Kemudian bawa pulang makanan jika tersisa, bijak berbelanja pangan, donasikan makanan berlebih kepada yang membutuhkan, dan terakhir olah kembali dan manfaatkan pangan yang berpotensi terbuang menjadi menu yang variasi dengan tetap memperhatikan cara pengelolaan agar tidak rusak kandungan gizinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....