Dari Densus 88 Ke Rumah Tahfiz, Jalan Pengabdian Seorang Perwira Polisi
- 20 Jun 2026 23:53 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Di balik desingan peluru yang pernah ia lepaskan di hutan Aceh dan pegunungan Papua, ada ledakan tajwid yang lahir dari sebuah rumah di Taman Raya, Blok G1 Nomor 8, Kelurahan Belian, Batam, Kepulauan Riau.
Setiap petang, di rumah tiga lantai itu, dua puluh lima anak duduk bersila, mengulang hafalan ayat suci yang belum rampung setelah hampir empat tahun mereka menjalaninya. Targetnya 30 juz dalam dua setengah tahun.
Pemilik rumah ini bukan kiai, namun seorang pria yang kerap membawa senjata laras panjang. Namanya AKBP Paksi Eka Saputra, S.IP., S.I.K., M.M, perwira menengah Polri yang kini menjabat Kasubdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Kepulauan Riau, unit yang belakangan sibuk membongkar penyelundupan daging ilegal, barang bekas impor, hingga benih lobster di perairan Kepri.
Sekilas, dunia penegakan hukum dan ruang belajar Al-Qur'an tampak berada di dua kutub yang berbeda. Yang satu akrab dengan penyelidikan, penggerebekan, dan operasi lapangan. Yang lain dipenuhi suara anak-anak yang mengeja ayat demi ayat.
Namun bagi Paksi, keduanya berangkat dari tujuan yang sama yakni menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Awalnya, yang ingin ia bangun bukanlah rumah Tahfiz.
Pada 2022, ketika pandemi Covid-19 masih menyisakan dampak di berbagai sektor kehidupan, Paksi justru memulai sebuah proyek sosial yang cukup besar. Ia berencana mendirikan panti asuhan untuk menampung anak-anak yatim dan terlantar. Rumah pribadinya dijadikan titik awal.
Seluruh proses administrasi diselesaikan satu per satu. Dokumen diurus ke Dinas Sosial, notaris dilibatkan, dan izin operasional berhasil diperoleh. Secara administratif, semuanya berjalan lancar.
Namun realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan harapan.
"Banyak yang disalahgunakan oleh pengurusnya," kata Paksi singkat, ketika ditemui diruang kerjanya, Kamis, 18 Juni 2026.
Ia tidak menjelaskan lebih jauh persoalan yang terjadi. Namun yang pasti, panti asuhan itu tidak berkembang seperti yang dibayangkannya sejak awal.
Alih-alih menghentikan niat berbagi, pengalaman tersebut justru mengubah arah pengabdiannya.
Pada 2023, panti asuhan itu ditutup. Di tempat yang sama, lahirlah Rumah Tahfiz Raudhatul Jannatil Insani. Nama itu berarti Taman Surga bagi Manusia.
Menurut Paksi, keputusan tersebut berangkat dari pertimbangan yang sangat personal. Ia melihat pengasuhan anak di panti memiliki batas waktu. Anak-anak tumbuh, lulus sekolah, melanjutkan pendidikan atau bekerja, lalu menjalani hidup masing-masing.
Sementara pendidikan Al-Qur'an, menurut keyakinannya, memiliki dampak yang jauh lebih panjang.
"Akan menjadi amal jariyah yang panjang. Kalau saya dirikan panti asuhan, pahalanya tidak seperti rumah Tahfiz. Kalau rumah Tahfiz, sampai akhirat pahala itu mengalir," ujarnya.
Baginya, rumah Tahfiz adalah investasi yang nilainya tidak diukur oleh keuntungan materi, jabatan, ataupun usia. Ia berharap setiap ayat yang dihafal para santri akan menjadi mata rantai kebaikan yang terus hidup bahkan ketika dirinya sudah tidak lagi bertugas sebagai polisi.
Pilihan jalan hidup itu terasa semakin menarik ketika menengok perjalanan karier Paksi di kepolisian.
Dari Rencong sampai Nemangkawi
Sejak awal, ia adalah polisi yang sangat akrab dengan bedil. Pada 2003, ia terlibat dalam Operasi Tegak Rencong I di Aceh ketika konflik bersenjata dengan Gerakan Aceh Merdeka masih berlangsung. Penugasan itu menjadi salah satu pengalaman awalnya menghadapi situasi berisiko tinggi.
Empat tahun kemudian, ia bergabung dengan Detasemen Khusus 88 Anti Teror. Selama delapan tahun, ia terlibat dalam berbagai operasi pemberantasan terorisme bersama sejumlah nama yang kemudian menjadi tokoh penting di tubuh Polri.
Kariernya berlanjut ke Satgas Merah Putih sebelum akhirnya bertugas dalam Operasi Nemangkawi di Papua pada 2018 hingga 2019. Selama sekitar satu setengah tahun, ia memimpin anggota Korps Brimob dalam berbagai penugasan di wilayah yang dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Dalam perjalanan panjang itu, berbagai jenis senjata pernah berada di tangannya. Glock 17 menjadi salah satu favoritnya karena sederhana dan mudah digunakan. Selain itu, AK-47, AK-102, M4, Steyr, hingga MP5 juga pernah menjadi bagian dari kesehariannya saat bertugas.
Namun di balik pengalaman tempur tersebut, Paksi memegang satu prinsip yang tidak pernah berubah.
"Penggunaan senjata itu pilihan terakhir sebenarnya. Prosedurnya berlapis, mulai dari peringatan, perintah menyerah, baru tindakan tegas jika nyawa benar-benar terancam," katanya.
Dedikasi itu membawanya menerima dua Pin Emas Kapolri, penghargaan tertinggi yang diberikan institusi kepada personel berprestasi. Satu penghargaan diperolehnya saat bertugas di bidang anti-terorisme, dan satu lagi saat tergabung dalam Satgas Merah Putih.
Menariknya, penghargaan berikutnya justru datang dari aktivitas yang berbeda.
Perhatian terhadap pembinaan Rumah Tahfiz Raudhatul Jannatil Insani membuatnya kembali mendapat pin emas dark Kapolri. Sebuah pengakuan bahwa pengabdiam hadir melalui ruang belajar sederhana yang dipenuhi suara anak-anak menghafal Al-Qur'an.
Di rumah Tahfiz itu, tidak ada seleksi berdasarkan status sosial ataupun kemampuan ekonomi keluarga.
Sebagian santri merupakan anak yatim. Sebagian berasal dari keluarga sederhana. Sebagian lagi merupakan anak-anak sekitar yang tertarik belajar Al-Qur'an.
"Saya tidak pilih anak orang susah atau anak orang kaya. Yang penting dia mau belajar Al-Qur'an, cinta Al-Qur'an, silakan. Saya kasih gratis," kata Paksi.
Seluruh santri mendapatkan fasilitas yang sama. Seragam disediakan tanpa biaya. Mereka juga memperoleh makan dan camilan setiap hari.
Sistem pembelajarannya dibuat fleksibel. Santri dapat tetap bersekolah formal seperti biasa atau mengikuti program pendidikan kesetaraan melalui lembaga yang bekerja sama dengan jaringan pendidikan berbasis pesantren.
Bangunan yang digunakan pun berkembang secara bertahap. Rumah tipe 60 meter persegi itu kini telah berdiri tiga lantai. Sebagian ruangan difungsikan sebagai tempat belajar, sementara area lain digunakan sebagai asrama bagi santri yang tinggal menetap.
Pembangunan aula di lantai dua masih menunggu ketersediaan dana.
Hingga kini, operasional rumah Tahfiz lebih banyak ditopang oleh dukungan personal. Bantuan datang dari rekan-rekan sesama anggota Polri, mulai dari pimpinan seperti Kapolda Kepri hingga kolega yang pernah bekerja bersama Paksi di berbagai satuan.
Di balik semua itu, ada satu sosok yang selalu hadir mendampingi. Istrinya. Sebagai seorang Ibu Bhayangkari, sang istri tentulah menjadi support system yang tak terlihat namun turut menjaga marwah kepolisian.
Antara Dua Dunia
Di siang hari, Paksi bisa saja berada dalam rapat yang membahas penyelundupan barang ilegal atau menghadiri konferensi pers mengenai pengungkapan kasus. Namun di sore hari bisa saja dia berada ditengah-tengah santri.
Meski terlihat kontras, AKBP Paksi tidak menganggap keduanya bertentangan. Sebaliknya, ia melihat keduanya sebagai bentuk pengabdian yang berbeda.
Kadang melalui seragam dan kewenangan negara. Kadang melalui sebuah rumah sederhana yang dipenuhi suara anak-anak menghafal Al-Qur'an.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....