Warga Rempang Gelar Atraksi Budaya dan Orasi Suarakan “Rempang Berdaulat"

  • 28 Mei 2026 21:14 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Masyarakat dari berbagai kampung di Pulau Rempang menggelar atraksi budaya dan orasi pada malam Iduladha 1447 H/2026. Kegiatan yang berlangsung di Kampung Sungai Raya, Kelurahan Sembulang, itu mengusung tajuk “Semarak Cahaya, Rempang Berdaulat, Rempang takkan Lenyap”.

Ratusan warga mulai memadati lokasi kegiatan sejak Selasa 26 Mei 2026 malam sekitar pukul 19.30 WIB. Mereka datang dari sejumlah kampung di Pulau Rempang menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat, hingga area kegiatan dipenuhi peserta menjelang pukul 20.00 WIB.

Kegiatan dibuka dengan doa bersama yang dipimpin warga Kampung Pasir Panjang, sebelum dilanjutkan dengan orasi terbuka yang diikuti perwakilan berbagai kampung. Dalam orasi tersebut, warga kembali menegaskan penolakan terhadap rencana relokasi terkait proyek pengembangan kawasan Rempang Eco-City.

Sejumlah seruan seperti “Rempang bukan tanah kosong”, “tolak relokasi”, dan “tolak transmigrasi lokal” bergema dalam kegiatan tersebut. Warga menilai kampung-kampung di Pulau Rempang merupakan ruang hidup yang telah mereka huni secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Selain orasi, kegiatan juga diisi dengan pertunjukan seni dan atraksi budaya, mulai dari tari tradisional, pembacaan puisi, hingga musik perkusi. Warga juga menyalakan obor yang mengiringi jalannya acara sebagai simbol solidaritas.

Koordinator Umum Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu, Sukri, dalam sambutannya mengajak masyarakat memperkuat solidaritas antar kampung dalam menghadapi rencana pengembangan kawasan di Pulau Rempang.

Menurutnya, kebersamaan antarwarga menjadi modal utama dalam mempertahankan kampung dan ruang hidup yang telah diwariskan oleh leluhur.

“Semakin banyak kampung yang bergabung dalam AMAR-GB, maka akan semakin kuat perjuangan kita. Mari kita berjalan bersama,” kata Sukri.

Tokoh masyarakat Pulau Rempang, Gerisman Ahmad, dalam kesempatan yang sama mengingatkan warga untuk tetap berpegang pada sejarah dan nilai-nilai perjuangan leluhur dalam menjaga kampung halaman.

Menurutnya, sejarah menjadi pedoman penting dalam menentukan sikap masyarakat saat ini terhadap perubahan yang terjadi di wilayah mereka.

“Kalau kita tidak ingat sejarah, hidup kita tidak ada arah,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, warga dari berbagai kampung seperti Sungai Buluh, Pasir Panjang, Sembulang Hulu, Sembulang Pasir Merah, Sembulang Camping, Sembulang Mekar Lestari, Pantai Tiga Puteri, Sungai Raya, hingga Pantai Melayu turut menyuarakan sikap serupa. Mereka menegaskan komitmen untuk terus memperjuangkan kampung mereka dengan cara-cara yang disebut tetap berada dalam koridor hukum.

Selain orasi, sejumlah puisi yang dibacakan warga juga menyinggung pengalaman mereka dalam konflik di Pulau Rempang, sekaligus menjadi ajakan untuk mempertahankan ruang hidup dan identitas komunitas di wilayah tersebut.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....