Lulusan Sarjana Diminta Siapkan “Triple Readiness” Hadapi Disrupsi AI

  • 28 Apr 2026 21:49 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyatakan bahwa ijazah akademik tidak lagi menjadi jaminan utama untuk memenangkan persaingan di pasar kerja global yang semakin dinamis. Ia mengimbau lulusan perguruan tinggi untuk membekali diri dengan strategi “Triple Readiness” guna menghadapi disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan.

Pernyataan tersebut disampaikan Yassierli saat memberikan orasi ilmiah dalam acara wisuda program sarjana dan magister di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu, 25 April 2026. Dalam pidatonya, ia menyoroti perubahan besar dalam lanskap dunia kerja yang dipicu oleh perkembangan teknologi.

Mengutip data dari LinkedIn, Yassierli menyebutkan bahwa sekitar 80 persen jenis pekerjaan saat ini tidak ada dua dekade lalu. Ia juga memperingatkan bahwa sekitar setengah dari pekerjaan yang ada saat ini diperkirakan akan menjadi tidak relevan dalam sepuluh tahun ke depan.

“Dunia kerja terus berubah seiring perubahan teknologi. Tantangan terbesar kita saat ini adalah kesenjangan keterampilan digital. Saat ini, pekerja kita yang memiliki keterampilan digital baru mencapai 27 persen, jauh di bawah standar global yang berada di angka 60 hingga 70 persen,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai perubahan tersebut juga membuka peluang baru di berbagai sektor, seperti ekonomi hijau, platform digital, dan ekonomi perawatan. Untuk itu, Yassierli memperkenalkan konsep “Triple Readiness” sebagai strategi bagi lulusan untuk tetap relevan di pasar kerja.

Kesiapan pertama adalah technical skills readiness, yaitu penguasaan keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan, termasuk keterampilan digital tingkat lanjut dan kompetensi di sektor ekonomi hijau. Ia menekankan bahwa kemampuan dasar seperti penggunaan media sosial tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri.

Kesiapan kedua adalah human skills readiness. Yassierli menegaskan bahwa di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan, kemampuan seperti berpikir kritis, empati, kepemimpinan, dan kreativitas tetap menjadi faktor pembeda utama.

“AI tidak akan bekerja optimal tanpa sentuhan manusia. Human skills membuat pengguna memahami konteks, batasan, dan risiko AI,” katanya.

Sementara itu, kesiapan ketiga adalah market entry readiness, yang mencakup kemampuan memahami dinamika industri. Ia mendorong lulusan untuk memiliki portofolio, pengalaman magang, serta sertifikasi kompetensi sebagai bukti kemampuan yang konkret.

Dalam kesempatan tersebut, Yassierli juga menyoroti pentingnya penguasaan kecerdasan buatan. Ia menyebutkan bahwa hampir 70 persen pemimpin bisnis di Indonesia tidak akan merekrut kandidat tanpa kemampuan dasar AI. Permintaan terhadap pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI di Asia Tenggara juga meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Saat ini yang dicari industri adalah keterampilan, bukan sekadar asal sekolah. Kami melihat peningkatan signifikan jumlah lowongan kerja yang lebih mementingkan kompetensi nyata dibanding gelar administratif dalam satu dekade terakhir,” ujarnya.

Menutup orasinya, Yassierli menegaskan komitmen pemerintah dalam memperluas akses pengembangan kompetensi melalui puluhan balai pelatihan vokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia juga mengajak generasi muda untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan.

“Kuncinya adalah pola pikir berkembang. Jangan pernah merasa puas dengan ijazah yang ada. Jadilah pembelajar sepanjang hayat yang siap menghadapi perubahan,” katanya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....