Pungli Menyasar Turis Asing di Pelabuhan Batam, Ekosistem Pariwisata Tercoreng
- 26 Mar 2026 09:37 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Beberapa wisatawan mancanegara melaporkan pengalaman pahit saat memasuki Batam melalui Pelabuhan Batam Centre. Mereka mengaku terkena denda hingga S$100 karena pindah antrean, dan sebagian bahkan diancam deportasi dengan alasan visa yang tidak jelas.
Dilansir dari laman https://mothership.sg/2026/03/batam-ferry-terminal-alleged-fees, korban menyebut, mereka dibawa ke “ruang rahasia”, diintimidasi, dan ponsel disita. Nilai dugaan pungutan liar bervariasi, ada yang sampai membayar S$250 atau sekitar Rp2,9 juta demi bisa melanjutkan perjalanan ke Batam.
"The officers shouted, confiscated my phone, intimidated, and demanded S$100 penalty per person," kata korban berinisial AC yang dikutip dari laman, mothership.sg.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPD ASITA Kepulauan Riau, Eva Betty. Menurutnya, jika dugaan pungli oleh oknum Imigrasi Batam benar, hal ini sangat disayangkan. Praktik ini bisa mencoreng nama baik Imigrasi Batam dan membuat wisatawan takut ke Batam. Akibatnya, kunjungan wisatawan bisa menurun drastis dan berdampak negatif bagi pariwisata lokal.
Eva Betty menekankan pentingnya tindakan tegas dari pihak Imigrasi Batam. Ia berharap Kepala Imigrasi memberikan pernyataan resmi bahwa oknum yang bersangkutan sudah ditindak dan diberikan sanksi, atau telah dibereskan.
"Kami berharap segera ditindak lanjuti dan dituntaskan oleh Kepala imigrasi Batan dan memberikan pernyataan bahwa oknum-oknum yang bersangkutan ini sudah ditindak dan diberikan sanksi. Atau sudah membereskan dan membersihkan oknum-oknum nakal dan wisman bisa berwisata kembali kebatam dengan sangat nyaman dan tanpa gangguan pungli dan lainya," jelasnya dalam pesan singkat, Kamis, 26 Maret 2026.
Eva Betty menambahkan, Wisatawan harus bisa kembali berkunjung ke Batam dengan nyaman, aman, dan bebas dari gangguan pungli.
Hal senada juga diungkapkan oleh, Ketua ASPABRI, Johanes Purba, menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, jika dugaan ini benar, praktik tersebut merusak kepercayaan wisatawan dan menimbulkan risiko besar bagi industri pariwisata lokal.
“Wisatawan sangat sensitif terhadap kenyamanan dan keamanan. Hal kecil bisa berdampak besar, terutama jika sampai ada dugaan pungli atau intimidasi,” ujarnya.
ASPABRI menegaskan kesiapannya mendukung upaya perbaikan dan penegakan aturan di pintu masuk Batam. Organisasi ini menekankan pentingnya transparansi agar Batam tetap dikenal sebagai destinasi yang aman, ramah, dan layak dikunjungi.
Hingga berita ini diunggah, RRI masih menunggu keterangan resmi dari pihak terkait atas persoalan ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....