Gustavo Alfaro Tidak Salahkan Wasit Usai Paraguay Tersingkir dari Piala Dunia

  • 06 Jul 2026 09:21 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pelatih tim nasional Paraguay, Gustavo Alfaro, memilih menahan diri untuk tidak memperdebatkan keputusan wasit yang memberikan penalti kepada Prancis dalam laga babak 16 besar Piala Dunia. Menurutnya, ia belum berada pada posisi yang tepat untuk menyimpulkan apakah keputusan tersebut keliru atau tidak.

Dilansir dari Reuters, Paraguay harus mengakhiri langkahnya di turnamen setelah kalah 0-1 dari Prancis. Gol semata wayang lahir dari titik putih setelah wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, mengubah keputusannya usai meninjau tayangan ulang melalui Video Assistant Referee (VAR).

Awalnya, Tantashev mengabaikan insiden ketika Desire Doue terjatuh setelah berduel dengan Diego Gomez. Namun, setelah menerima rekomendasi dari ruang VAR dan melihat ulang tayangan di monitor pinggir lapangan, ia memutuskan memberikan hadiah penalti kepada Prancis.

Menanggapi momen tersebut, Alfaro mengaku belum bisa memberikan penilaian objektif karena posisinya saat kejadian tidak memungkinkan untuk melihat insiden secara jelas. Ia mengatakan, "Saya melihatnya di layar VAR ketika mereka sedang memeriksanya. Saya berada di belakang wasit, jadi saya tidak bisa bersikap objektif."

Pelatih asal Argentina itu menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatannya, wasit sempat memiliki keyakinan awal tidak terjadi pelanggaran sebelum akhirnya mengubah keputusan setelah mendapat masukan dari VAR. Alfaro pun mengungkapkan, "Wasit memiliki kesan pertama. Dia mengatakan pemain itu menjatuhkan diri untuk menciptakan kontak. Kemudian VAR memastikan bahwa itu adalah penalti, menurut mereka."

Meski menerima hasil pertandingan, Alfaro memastikan dirinya tetap akan mempelajari kembali tayangan insiden tersebut secara lebih rinci. Menurutnya, gerakan Doue memang cukup sulit dinilai karena dilakukan dalam situasi yang sangat cepat. Ia mengatakan, "Saya akan melihatnya lebih detail lagi. Dari tayangan permainan, tentu saja dia sedang melayang di udara, dia pemain yang sangat terampil, dan mampu bergerak di ruang yang sangat sempit."

Terlepas dari kontroversi penalti, Alfaro menilai pencapaian Paraguay di Piala Dunia sudah melampaui ekspektasi. Sebelum menghadapi Prancis, ia memang beberapa kali menegaskan bahwa perjalanan timnya merupakan hasil yang luar biasa.

Prestasi tersebut juga mendapat apresiasi besar di dalam negeri. Presiden Paraguay, Santiago Peña, bahkan menetapkan hari Selasa sebagai hari libur nasional setelah Paraguay secara mengejutkan menyingkirkan Jerman melalui adu penalti pada babak 32 besar.

Namun, keberhasilan itu belum mampu menghapus rasa kecewa Alfaro karena timnya gagal melanjutkan perjalanan di turnamen. Ia mengaku tetap bangga dengan perjuangan anak asuhnya, tetapi mengakui kekalahan selalu meninggalkan luka. "Saya meninggalkan Piala Dunia dengan tenang karena kami benar-benar bermain. Saya sedih karena ingin melangkah lebih jauh, dan kekalahan tentu tidak pernah membuat siapa pun bahagia," ujarnya.

Di ruang ganti, Alfaro juga memberikan pesan kepada para pemain agar menjadikan kegagalan ini sebagai pelajaran untuk berkembang. Ia menegaskan, "Saya tidak suka kalah dalam hal apa pun. Dan seperti yang saya katakan kepada tim di ruang ganti, jika ingin menjadi pemenang, hal pertama yang harus dilakukan adalah belajar menerima kekalahan."

Masa depan Alfaro bersama Paraguay sendiri masih menjadi tanda tanya. Kontraknya akan berakhir pada penghujung tahun ini, sementara ia mengaku belum mengambil keputusan mengenai kelanjutan kariernya.

Meski demikian, pelatih berusia 63 tahun itu mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan Paraguay. Dengan nada yang masih dipenuhi rasa kecewa, ia berkata, "Hari ini saya memiliki luka yang masih terbuka. Saya masih berdarah. Saya benar-benar belum bisa berpikir jernih karena saat ini saya masih sangat terpukul. Saya rasa saya harus menunggu semuanya lebih tenang."

Alfaro menambahkan bahwa dirinya akan menentukan langkah berikutnya setelah emosinya mereda. "Segalanya harus kembali tenang, lalu kita lihat apa yang akan terjadi. Sejujurnya saya belum tahu apa yang akan saya lakukan dalam karier saya."

Di akhir pernyataannya, Alfaro menegaskan bahwa Paraguay telah menjadi rumah kedua baginya. Ia mengatakan, "Bagi saya, tidak ada tempat yang lebih baik daripada Paraguay. Negara ini telah membuka pintunya untuk saya, klub-klub juga membuka pintunya, hubungan saya dengan para pemain, dan rasa terima kasih yang saya miliki kepada semua orang di sini."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....