Danantara Diproyeksikan Menjadi Raksasa Baru Pengelola Aset Negara
- 01 Jun 2026 12:08 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) diproyeksikan menjadi raksasa baru pengelola aset negara. Namun, untuk memastikan rantai hilirisasi berjalan paripurna dan berdampak langsung pada roda ekonomi kawasan strategis seperti Kota Batam. Wacana pembentukan Badan Pengelola Ekspor Sumber Daya Alam (SDA) dinilai menjadi kepingan puzzle krusial yang melengkapi ekosistem tata niaga kekayaan alam Indonesia.
Langkah pemerintah membentuk Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) atau superholding patut diapresiasi. Danantara bertugas mengonsolidasikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar, termasuk di sektor ekstraktif seperti MIND ID dan Pertamina. Fokus utamanya adalah optimalisasi aset secara korporasi, pencarian pendanaan global, dan peningkatan nilai investasi negara, yang berpotensi membuka keran aliran modal baru untuk sektor industri pengolahan di Batam.
Kendati demikian, Danantara tidak dirancang untuk mengurusi regulasi arus barang di pelabuhan. Di sinilah wacana pembentukan Badan Pengelola Ekspor SDA menemukan relevansinya, terutama bagi Batam yang mengandalkan keunggulan infrastruktur pelabuhan internasional dan status kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone/FTZ).
Jika direalisasikan, Badan Pengelola Ekspor SDA akan mengambil peran yang belum tersentuh oleh Danantara maupun Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Fokus badan baru ini mencakup tiga hal fundamental yang akan langsung dirasakan oleh iklim usaha di Batam:
Pengawalan DMO (Domestic Market Obligation): Memastikan pasokan bahan mentah untuk industri pengolahan domestik terpenuhi sebelum izin ekspor diterbitkan. Hal ini menjamin pabrik-pabrik di kawasan industri Batam tidak akan kekurangan pasokan bahan baku dari daerah penghasil.
Pengawasan Fisik Terpadu: Memangkas birokrasi perizinan lintas kementerian menjadi satu pintu, sekaligus meminimalisir praktik ekspor ilegal. Ekosistem satu pintu ini akan mempercepat arus bongkar muat logistik dan menekan biaya operasional di pelabuhan-pelabuhan Batam.
Kepatuhan Devisa: Menjamin Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari penjualan kekayaan alam tersebut kembali dan mengendap di sistem keuangan Indonesia untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Nilai tukar yang stabil sangat krusial bagi industri di Batam yang padat aktivitas ekspor-impor.
Kolaborasi antara Danantara dan Badan Pengelola Ekspor SDA diyakini dapat menciptakan sistem tata kelola yang tangguh. Danantara bertugas melipatgandakan nilai aset dan mendatangkan investasi untuk pembangunan pabrik dan smelter, sementara Badan Pengelola Ekspor SDA menjaga pasokan bahan bakunya dan mengawal kepatuhan devisanya.
Melalui sinergi kedua institusi ini, target Indonesia untuk menjadi kekuatan industri bernilai tambah tinggi akan semakin cepat terwujud. Di saat yang bersamaan, posisi Batam akan semakin kokoh sebagai lokomotif ekonomi nasional, sejalan dengan peningkatan indikator ekonomi daerah dan percepatan pembangunan infrastruktur penunjang di kota ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....