Indonesia Bidik Pasar Ekspor Baru di Kanada dan Timur Tengah
- 09 Mar 2026 14:46 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan, saat ini pemerintah tengah mempercepat penyelesaian sejumlah perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif dengan beberapa negara mitra dagang. Langkah ini dilakukan untuk membuka peluang pasar baru bagi produk-produk Indonesia sekaligus memperkuat posisi perdagangan nasional di tingkat global.
Salah satu yang telah rampung adalah perjanjian kemitraan ekonomi dengan Canada. Perjanjian tersebut diharapkan dapat membuka akses lebih luas bagi produk-produk Indonesia untuk masuk ke pasar Amerika Utara.
Selain itu, Indonesia juga telah menjalin kerja sama ekonomi dengan United Arab Emirates yang membuka peluang besar bagi ekspor produk nasional ke kawasan Middle East.
“Kalau ada pelaku usaha yang ingin mengekspor produknya ke Kanada atau negara-negara Timur Tengah, peluangnya sudah semakin terbuka melalui perjanjian dagang yang kita bangun,” ujarnya, saat kunjungan ke Mal Pelayan Publik, Senin, 9 Maret 2026.
Wamen melanjutkan, pemerintah juga memperluas kerja sama perdagangan dengan negara-negara yang tergabung dalam Eurasian Economic Union yang meliputi sejumlah negara seperti Russia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi pasar yang cukup besar bagi berbagai produk Indonesia.
Menurut Roro, sejumlah negara di kawasan tersebut menunjukkan minat terhadap berbagai produk Indonesia, termasuk produk halal dan komoditas unggulan nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah melakukan pendekatan perdagangan dengan negara-negara Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC). Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi besar karena populasi muslim yang tinggi serta meningkatnya permintaan terhadap produk halal.
Selain membuka pasar baru, pemerintah juga berupaya mengamankan pasar ekspor yang telah ada, termasuk untuk komoditas strategis seperti minyak sawit. Salah satu negara yang menjadi perhatian adalah Pakistan, yang merupakan salah satu pasar penting bagi ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia.
Roro mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 90 persen impor minyak sawit Pakistan berasal dari Indonesia, mengungguli negara pesaing seperti Malaysia.
“Ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap produk Indonesia. Karena itu pemerintah terus melakukan diplomasi perdagangan untuk memastikan pasar tersebut tetap terjaga,” katanya.
Ia menambahkan, kunjungan pejabat pemerintah ke berbagai negara juga menjadi bagian dari strategi diplomasi ekonomi untuk memperkuat hubungan perdagangan sekaligus memperkenalkan potensi produk Indonesia kepada mitra dagang.
Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam berbagai forum internasional maupun kunjungan bilateral dapat meningkatkan kepercayaan negara mitra terhadap produk Indonesia.
“Diplomasi perdagangan ini penting untuk membuka peluang baru sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap produk-produk Indonesia di pasar global,” ujarnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap pelaku usaha Indonesia dapat memanfaatkan peluang pasar yang semakin terbuka dan meningkatkan ekspor nasional ke berbagai negara di dunia.