Presiden Tegaskan Diplomasi Luar Negeri Berdampak Nyata

  • 04 Feb 2026 21:12 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam: Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah mantan Menteri dan Wakil Menteri Luar Negeri RI, akademisi hubungan internasional, serta pimpinan Komisi I DPR RI untuk berdiskusi mengenai arah dan situasi politik luar negeri Indonesia. Pertemuan tersebut berlangsung di Istana Merdeka pada Rabu, 4 Februari 2026, sebagai bagian dari upaya konsolidasi pemikiran strategis kebijakan luar negeri Indonesia.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo tidak hanya memaparkan langkah-langkah diplomasi yang telah ditempuh, tetapi juga membuka ruang dialog dengan para tokoh untuk mendengar masukan serta menjawab berbagai pertanyaan. Presiden menegaskan bahwa setiap diplomasi luar negeri yang dilakukan pemerintahannya selalu diarahkan pada pencapaian konkret yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh bangsa Indonesia.

Beberapa capaian penting selama satu tahun terakhir disampaikan sebagai bukti nyata pendekatan diplomasi yang berorientasi hasil. Indonesia resmi bergabung dengan BRICS, sebuah blok negara dengan kekuatan ekonomi besar dunia seperti Brasil, Rusia, Tiongkok, dan India. Selain itu, Indonesia berhasil memperoleh penetapan tarif dagang 0 persen di 27 negara Uni Eropa, yang dinilai akan memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk nasional.

Di bidang pelayanan keagamaan, Presiden menyampaikan kesepakatan pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi. Fasilitas ini akan menjadi kawasan khusus bagi jemaah haji Indonesia, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan, pelayanan, dan perlindungan bagi jemaah. Pada isu global, Indonesia juga turut mencatat sejarah dengan ikut menandatangani perjanjian perdamaian Palestina yang diinisiasi Amerika Serikat. Pascapenandatanganan perjanjian tersebut, tingkat konflik dan jumlah korban dilaporkan menurun secara signifikan.

Terkait keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace, Presiden menjelaskan bahwa keanggotaan bersifat tidak tetap sehingga Indonesia dapat menarik diri sewaktu-waktu sesuai dengan kepentingan nasional. Mengenai dana sebesar USD 1 miliar yang sering disorot, Presiden menegaskan bahwa dana tersebut dialokasikan untuk rekonstruksi Gaza dan tidak bersifat wajib. Saat ini Indonesia bergabung bersama tujuh negara besar dengan mayoritas penduduk beragama Islam, yaitu Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Pakistan.

Negara-negara anggota memiliki pilihan untuk berkontribusi dana atau tidak. Kontribusi dana akan menjadikan keanggotaan bersifat tetap, sementara tanpa kontribusi, keanggotaan berlaku selama tiga tahun. Presiden menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum melakukan pembayaran. Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace diposisikan sebagai langkah konkret untuk terlibat langsung dalam upaya pengurangan konflik di Palestina, bukan sekadar partisipasi simbolik dalam forum-forum diplomatik.

Melalui pertemuan ini, Presiden Prabowo menekankan pentingnya diplomasi yang pragmatis, berdampak, dan tetap berpijak pada kepentingan nasional serta nilai kemanusiaan. Dialog dengan para tokoh diharapkan memperkuat konsensus nasional dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....