Kopi Susu Mulai Punya Lawan?
- 17 Sep 2026 15:23 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Kopi susu masih menjadi salah satu pilihan minuman yang paling populer di Indonesia. Namun, ketika masuk ke kafe hari ini, pilihan minuman tidak lagi berhenti pada americano, latte atau kopi susu gula aren. Matcha, hojicha, chocolate, sparkling tea hingga berbagai minuman berbasis buah semakin banyak muncul di daftar menu, terutama untuk menyasar konsumen yang ingin menikmati minuman tanpa kopi.
Data Jakpat dalam laporan Indonesia Beverage Consumption yang dirilis Juni 2026 menunjukkan kopi masih menjadi minuman berperisa yang paling banyak dikonsumsi responden Indonesia. Survei terhadap 1.238 responden tersebut mencatat 72 persen responden mengonsumsi minuman berbasis kopi dalam enam bulan terakhir. Namun, teh hanya terpaut tipis dengan 71 persen, sementara susu mencapai 65 persen, jus 51 persen, dan matcha 31 persen. Data ini menunjukkan bahwa kopi memang masih kuat, tetapi konsumen Indonesia juga memiliki ruang yang besar untuk kategori minuman lainnya.
Yang menarik adalah posisi matcha di kalangan konsumen muda. Berdasarkan laporan Jakpat yang sama, konsumsi matcha dalam enam bulan terakhir tercatat pada 34 persen responden Gen Z dan 32 persen milenial, sementara pada Gen X angkanya 17 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa matcha memiliki daya tarik yang lebih kuat pada kelompok konsumen muda. Matcha juga tidak lagi hanya hadir sebagai teh tradisional, tetapi berkembang menjadi matcha latte, minuman dingin, dessert, pastry hingga berbagai kreasi yang dikombinasikan dengan susu dan rasa lainnya.
Setelah matcha, hojicha mulai mendapatkan perhatian sebagai pilihan baru di dunia minuman. Hojicha merupakan teh hijau Jepang yang melalui proses pemanggangan sehingga menghasilkan karakter rasa yang lebih roasted, nutty dan sedikit menyerupai aroma kopi. Tren kuliner internasional pada 2026 juga menempatkan hojicha sebagai salah satu bahan yang mulai banyak digunakan pada menu minuman dan dessert. Food & Wine mencatat hojicha semakin banyak muncul dalam menu cheesecake, es krim dan parfait, sementara karakter rasanya yang roasted membuatnya mudah dipadukan dengan cokelat, buah hingga espresso.
Perkembangan hojicha menjadi menarik karena karakter rasanya menawarkan sesuatu yang berbeda dari matcha. Jika matcha identik dengan rasa hijau yang lebih vegetal dan sedikit pahit, hojicha memiliki rasa panggang yang lebih hangat dan nutty. Sejumlah laporan tren minuman 2026 juga melihat hojicha sebagai salah satu alternatif bagi konsumen yang menyukai karakter rasa kopi tetapi menginginkan pengalaman minum teh. Namun, perkembangan ini lebih tepat disebut sebagai diversifikasi pilihan daripada tanda bahwa konsumen mulai meninggalkan kopi.
Di sisi lain, cokelat tetap menjadi pilihan penting bagi konsumen yang tidak ingin mengonsumsi kopi maupun teh. Menu chocolate drink kini semakin beragam, mulai dari dark chocolate, chocolate milk, sea salt chocolate hingga kombinasi cokelat dengan berbagai topping. Begitu pula sparkling tea yang menawarkan pengalaman berbeda melalui perpaduan teh dan karbonasi. Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri minuman semakin mengandalkan eksplorasi rasa dan pengalaman, bukan hanya satu bahan utama.
Kopi sendiri masih memiliki pasar yang sangat kuat. Studi Tetra Pak dan Innova Market Insights pada 2025 terhadap 1.500 konsumen Indonesia menunjukkan bahwa rasa menjadi alasan utama konsumsi kopi siap minum dengan angka 64 persen. Selain rasa, 62 persen responden menyebut relaksasi sebagai alasan konsumsi, sedangkan 50 persen mengaitkannya dengan perasaan bahagia. Studi tersebut juga memproyeksikan nilai pasar kopi siap minum Indonesia mencapai 11,58 miliar dolar AS pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan gabungan sekitar 3,5 persen hingga 2029.
Artinya, kemunculan matcha, hojicha dan minuman non-coffee tidak serta-merta berarti kopi susu sedang kehilangan peminat. Justru yang berubah adalah cara konsumen memilih minuman. Kafe kini tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan kafein, tetapi juga tempat untuk nongkrong, bekerja, bertemu teman, menikmati waktu sendiri dan mencoba sesuatu yang sedang ramai dibicarakan.
Media sosial ikut mempercepat perubahan tersebut. Minuman dengan warna, tekstur, foam, topping atau penyajian yang menarik lebih mudah muncul dalam konten TikTok dan Instagram. Ketika sebuah minuman mulai sering terlihat di media sosial, konsumen mendapatkan rasa penasaran sebelum akhirnya mencoba sendiri. Dari sinilah tren dapat bergerak dari satu kafe ke kafe lain dan kemudian mendorong pelaku usaha memasukkan produk serupa ke dalam menu.
Ada pula perubahan dalam cara konsumen melihat sebuah minuman. Kopi susu mungkin dipilih karena sudah menjadi kebiasaan, sementara matcha bisa dipilih karena rasa dan tampilannya, hojicha karena karakter roasted-nya, chocolate karena memberikan sensasi manis dan comforting, sedangkan sparkling tea menawarkan pengalaman yang lebih segar. Dengan kata lain, konsumen tidak selalu mencari minuman yang sama setiap hari karena pilihan mereka dapat berubah berdasarkan suasana hati, aktivitas maupun tren.
Fenomena tersebut akhirnya membuat persaingan minuman menjadi semakin luas. Kopi masih memimpin berdasarkan data konsumsi Jakpat, tetapi kategori non-coffee terus mendapatkan ruang, khususnya di kalangan konsumen muda. Jadi, pertanyaannya bukan lagi apakah kopi susu akan digantikan oleh matcha atau hojicha, melainkan seberapa banyak pilihan baru yang bisa hidup berdampingan dalam satu kebiasaan ngopi masyarakat Indonesia.
Dengan semakin banyaknya pilihan, satu hal terlihat jelas: budaya nongkrong di kafe kini tidak selalu identik dengan secangkir kopi. Ada yang datang untuk kopi susu, ada yang memilih matcha, mencoba hojicha, memesan chocolate atau bahkan mencari sparkling tea. Kopi masih punya tempat yang kuat, tetapi “lawan” di meja kafe sekarang memang semakin banyak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....