Mengenal Ragam Makanan Fermentasi Nusantara

  • 01 Sep 2026 13:54 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam — Tempe dan tape memang menjadi dua makanan fermentasi yang sangat dikenal masyarakat Indonesia. Namun, di balik popularitas keduanya, masih terdapat berbagai pangan fermentasi tradisional yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

Pangan fermentasi tradisional umumnya dibuat dengan memanfaatkan bahan lokal yang tersedia di lingkungan masyarakat. Beberapa contohnya antara lain growol dan gatot dari Yogyakarta, tempoyak dari Sumatra, serta bekasam dan wadi yang berkembang di Kalimantan.

Salah satu pangan tradisional yang menarik untuk dikenali adalah growol dari Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Makanan ini berbahan dasar singkong yang melalui proses perendaman selama beberapa hari hingga mengalami fermentasi secara alami.

Pembuatan growol membutuhkan proses yang cukup panjang dan dilakukan secara telaten. Singkong biasanya direndam dalam air selama kurang lebih tiga hari dengan bantuan bakteri asam laktat yang berperan dalam proses fermentasi.

Keberadaan growol juga tercatat dalam Serat Centhini, karya sastra Jawa klasik. Catatan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa makanan berbahan singkong ini telah dikenal dalam kehidupan masyarakat Jawa sejak masa lalu.

Meski memiliki sejarah panjang, keberadaan growol kini menghadapi tantangan dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Kebiasaan menjadikan nasi sebagai makanan pokok membuat minat terhadap growol semakin berkurang.

Kalimantan juga memiliki tradisi pangan fermentasi yang tidak kalah menarik melalui bekasam dan wadi. Kedua makanan berbahan dasar ikan tersebut berkembang dalam kehidupan masyarakat Dayak dan Banjar.

Wadi menjadi salah satu contoh kearifan lokal dalam mengawetkan bahan pangan. Ikan difermentasi agar dapat bertahan lebih lama sehingga bisa menjadi persediaan makanan ketika hasil tangkapan sedang menurun.

Sementara itu, gatot memiliki latar belakang yang berkaitan dengan kondisi pangan masyarakat di Gunungkidul. Makanan berbahan singkong tersebut berkembang ketika masyarakat menghadapi gagal panen padi dan membutuhkan sumber pangan alternatif.

Singkong yang telah dikeringkan atau dikenal sebagai gaplek kemudian dimanfaatkan untuk membuat gatot melalui proses pengolahan dan fermentasi. Gatot biasanya disantap bersama gula merah, garam, serta kelapa parut.

Berbagai pangan fermentasi tradisional tersebut kini menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensinya. Growol, misalnya, semakin jarang ditemukan dan umumnya masih dipasarkan melalui pasar-pasar tradisional.

Proses produksi yang masih mengandalkan metode tradisional turut menjadi tantangan dalam pengembangan produk. Selain itu, keterbatasan penjaminan mutu membuat sejumlah pangan tradisional sulit bersaing dengan produk makanan modern.

Padahal, makanan fermentasi memiliki potensi untuk dikembangkan seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pangan sehat. Proses fermentasi dapat memengaruhi nilai gizi makanan dan menghasilkan mikroorganisme yang berpotensi mendukung kesehatan sistem pencernaan.

Growol, gatot, bekasam, dan wadi bukan sekadar makanan tradisional. Keberadaannya menjadi gambaran pengetahuan masyarakat dalam mengolah dan mempertahankan bahan pangan sesuai kondisi lingkungan.

Dari singkong fermentasi di Yogyakarta hingga ikan fermentasi di Kalimantan, kekayaan tersebut menunjukkan beragamnya pengetahuan pangan Nusantara. Upaya pelestarian penting dilakukan agar cita rasa, tradisi, dan pengetahuan yang diwariskan generasi sebelumnya tetap dikenal oleh generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....