Menelusuri Jejak Bakpia dari Tiongkok ke Yogyakarta

  • 03 Jun 2026 13:00 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam – Bakpia dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta yang sangat populer di Indonesia. Teksturnya yang lembut dengan beragam isian membuat makanan ini digemari oleh berbagai kalangan. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa bakpia sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang dan berasal dari budaya Tionghoa sebelum akhirnya bertransformasi menjadi kuliner khas Nusantara.

Secara historis, bakpia merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia. Makanan ini dibawa oleh para perantau Tionghoa yang datang ke Nusantara pada masa perdagangan berabad-abad lalu. Di negara asalnya, makanan serupa dikenal dengan nama "Tou Luk Pia" atau "Tau Luk Pia", yang berarti kue berisi pasta kacang hijau.

Nama bakpia sendiri berasal dari dialek Hokkien. Kata "bak" berarti daging, sedangkan "pia" berarti kue atau pastry. Pada awal kemunculannya di Tiongkok, bakpia memang berisi daging babi yang dibungkus kulit tepung dan dipanggang hingga matang. Karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, isian tersebut kemudian mengalami penyesuaian dan diganti dengan bahan yang lebih dapat diterima masyarakat lokal, seperti kacang hijau.

Perubahan isian tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat bakpia berkembang pesat di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Sejak awal abad ke-20, para keturunan Tionghoa yang menetap di kawasan Pathuk, Yogyakarta, mulai memproduksi bakpia secara rumahan. Dari sinilah lahir bakpia yang dikenal masyarakat saat ini.

Awalnya, bakpia hanya memiliki satu varian rasa, yaitu kacang hijau. Namun seiring perkembangan zaman dan meningkatnya permintaan pasar, produsen mulai menghadirkan berbagai inovasi rasa seperti cokelat, keju, durian, kacang merah, kopi, pandan, hingga aneka varian modern lainnya. Meski demikian, rasa kacang hijau tetap menjadi favorit dan dianggap sebagai cita rasa autentik bakpia.

Kawasan Pathuk di Yogyakarta kemudian tumbuh menjadi sentra produksi bakpia yang terkenal hingga mancanegara. Nama "Bakpia Pathuk" bahkan telah menjadi identitas tersendiri yang melekat kuat pada industri oleh-oleh Kota Gudeg tersebut. Ribuan wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta hampir selalu membawa pulang bakpia sebagai buah tangan.

Selain menjadi simbol kuliner, bakpia juga mencerminkan keberhasilan proses akulturasi budaya di Indonesia. Makanan yang awalnya berasal dari tradisi Tionghoa tersebut mampu beradaptasi dengan nilai, budaya, dan selera masyarakat lokal tanpa kehilangan identitas sejarahnya.

Saat ini, bakpia tidak hanya diproduksi di Yogyakarta, tetapi juga telah berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Meski banyak variasi bermunculan, sejarah panjang dan asal usul namanya tetap menjadi bagian penting yang menjadikan bakpia lebih dari sekadar makanan ringan.

Bakpia adalah contoh bagaimana sebuah kuliner dapat menjadi jembatan budaya. Dari kue tradisional Tionghoa yang dibawa para perantau hingga menjadi ikon wisata Yogyakarta, perjalanan bakpia menunjukkan bahwa keberagaman budaya dapat melahirkan warisan kuliner yang kaya dan terus lestari dari generasi ke generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....