Capcay Kuliner Peranakan Warisan Akulturasi Budaya Nusantara

  • 27 Apr 2026 08:08 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam – Capcay merupakan salah satu hidangan yang sangat populer di Indonesia, khususnya dalam tradisi kuliner Tionghoa Peranakan. Di balik kelezatannya, capcay menyimpan sejarah panjang yang mencerminkan proses akulturasi budaya antara Tiongkok dan berbagai wilayah di Asia, termasuk Nusantara.

Secara etimologis, istilah capcay berasal dari dialek Hokkian, yakni “chap chhai” yang berarti “aneka sayuran” atau “sepuluh macam sayur”. Makna tersebut tidak selalu merujuk pada jumlah pasti sepuluh, melainkan menggambarkan keragaman bahan yang digunakan dalam satu hidangan. Dalam praktiknya, capcay dapat terdiri dari berbagai kombinasi sayuran seperti kol, wortel, sawi, kembang kol, serta tambahan protein seperti ayam, udang, atau bakso.

Dalam literatur kuliner, capcay kerap disandingkan dengan hidangan chop suey yang berkembang di Amerika Serikat. Keduanya memiliki kemiripan dalam konsep, yakni mengolah berbagai bahan menjadi satu sajian tumisan. Namun demikian, capcay yang dikenal di Indonesia lebih dekat dengan tradisi masakan Tiongkok Selatan, terutama dari komunitas perantau yang berasal dari Fujian dan Guangdong.

Masuknya capcay ke Indonesia tidak terlepas dari gelombang migrasi masyarakat Tionghoa sejak abad ke-19. Para perantau membawa tradisi memasak yang kemudian beradaptasi dengan bahan lokal. Proses ini melahirkan variasi capcay khas Indonesia, baik dalam bentuk kuah maupun goreng, dengan cita rasa yang lebih sesuai dengan lidah masyarakat setempat.

Dalam perkembangannya, capcay tidak hanya menjadi bagian dari kuliner rumah tangga, tetapi juga hadir dalam berbagai perayaan dan acara sosial. Hidangan ini dianggap praktis, bergizi, dan fleksibel karena dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan.

Dari perspektif gizi, capcay memiliki nilai nutrisi yang relatif tinggi karena kaya akan serat, vitamin, dan mineral dari sayuran. Penambahan protein menjadikan hidangan ini seimbang secara komposisi, sehingga kerap direkomendasikan sebagai menu sehat.

Dengan demikian, capcay tidak sekadar makanan, melainkan representasi dari dinamika budaya dan sejarah migrasi. Keberadaannya di Indonesia menunjukkan bagaimana kuliner mampu menjadi medium integrasi sosial sekaligus memperkaya identitas gastronomi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....