RRI.CO.ID, Batam - Magic mushroom bukanlah jamur konsumsi biasa seperti jamur tiram atau jamur kancing. Jamur ini mengandung psilocybin yang diubah tubuh menjadi psilocin, yaitu zat yang memengaruhi sistem serotonin di otak. Serotonin sendiri berperan dalam mengatur suasana hati, tidur, emosi, dan cara seseorang mempersepsikan lingkungan di sekitarnya.
Karena memengaruhi kerja otak, efek magic mushroom dapat berbeda pada setiap orang. Jumlah yang sama belum tentu menimbulkan efek yang sama. Kondisi tubuh, suasana hati, lingkungan, dan kesehatan mental juga dapat memengaruhi pengalaman seseorang setelah mengonsumsinya.
Di Indonesia, psilocybin termasuk Narkotika Golongan I sehingga penggunaannya diatur secara ketat berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Oleh karena itu, magic mushroom yang mengandung psilocybin tidak dapat dianggap sebagai jamur yang bebas dikonsumsi dan penggunaannya di luar ketentuan yang berlaku dapat menimbulkan konsekuensi hukum.
Kandungan psilocybin dalam magic mushroom saat ini sedang diteliti karena memiliki potensi untuk membantu penanganan beberapa kondisi kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa psilocybin berpotensi memberikan manfaat pada orang dengan depresi, kecemasan, dan beberapa kondisi psikologis lainnya.
Dalam penelitian medis, psilocybin diberikan dengan dosis yang telah ditentukan dan melalui proses skrining sebelum terapi. Penggunaannya juga dilakukan dalam lingkungan yang terkontrol dengan pendampingan tenaga profesional untuk memantau kondisi dan respons pasien selama terapi.
Meski memiliki potensi manfaat, hasil penelitian tersebut tidak berarti magic mushroom aman untuk dikonsumsi sendiri. Penggunaan tanpa pengawasan dapat menimbulkan halusinasi, kecemasan, perubahan perilaku, dan efek lain yang sulit diprediksi. Oleh karena itu, jangan menggunakan magic mushroom sebagai pengobatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
| Baca juga: Kandungan Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan |
Beberapa efek yang dapat muncul setelah mengonsumsi magic mushroom meliputi :
1. Memicu halusinasi dan kebingungan
Efek magic mushroom bisa memengaruhi persepsi, pikiran, dan emosi. Perubahan tersebut dapat membuat seseorang mengalami halusinasi, perubahan suasana hati, hingga kesulitan membedakan kenyataan dengan apa yang dirasakan.
Jika terjadi dalam situasi yang tidak aman, perubahan persepsi dan kesadaran tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang melakukan tindakan yang berbahaya, sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan atau cedera.
2. Menyebabkan panik dan paranoia
Magic mushroom dapat menyebabkan perubahan emosi yang cukup intens. Pada sebagian orang, efeknya dapat berupa kecemasan berat, rasa takut, atau paranoia, terutama ketika pengalaman yang muncul terasa tidak terkendali.
Kondisi ini sering disebut sebagai bad trip dan dapat membuat seseorang merasa sangat tertekan selama efek zat masih berlangsung.
3. Meningkatkan risiko perilaku berbahaya
Perubahan kesadaran dan kemampuan menilai situasi selama efek magic mushroom dapat menyebabkan seseorang mengambil keputusan yang tidak biasa dilakukan dalam kondisi normal. Misalnya, seseorang dapat berjalan atau berada di tempat berbahaya, mengemudi, atau melakukan tindakan lain tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi.
Oleh karena itu, gangguan persepsi selama berada di bawah pengaruh magic mushroom dapat meningkatkan risiko terjadinya perilaku berbahaya, kecelakaan, atau cedera.
4. Memperburuk kondisi kesehatan mental tertentu
Penggunaan magic mushroom dapat menimbulkan risiko yang lebih besar pada orang dengan kondisi kesehatan mental tertentu atau yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mental berat. Efek psikedelik dapat memperburuk gejala, seperti kecemasan berat, paranoia, atau gangguan persepsi, terutama pada orang yang rentan. BBOleh karena itu, magic mushroom tidak sebaiknya digunakan sebagai upaya untuk mengatasi depresi, kecemasan, atau masalah kesehatan mental lainnya tanpa pengawasan dan penanganan dari tenaga medis yang kompeten.