Kenapa Diusia 30-an Kita Makin Akrab dengan Minyak Angin, Koyo dan Istilah Jompo?

  • 30 Sep 2026 14:03 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Memasuki usia 30-an ternyata membawa sejumlah perubahan yang tidak selalu tercantum dalam buku panduan kehidupan. Salah satunya adalah hubungan yang semakin dekat dengan minyak angin, koyo, balsem hingga berbagai produk yang dulu identik dengan orang tua.

Dulu, begadang sampai dini hari mungkin terasa biasa. Sekarang, tidur terlalu larut bisa membuat tubuh seperti mengirimkan surat keberatan keesokan paginya.

Bangun tidur dengan leher pegal, pinggang terasa tidak nyaman atau badan lebih mudah lelah menjadi pengalaman yang mulai akrab bagi sebagian orang. Tidak heran jika candaan tentang “menuju jompo” semakin sering muncul di kalangan usia 30-an.

Begadang mulai terasa mahal

Ketika masih muda, tidur larut malam mungkin hanya menghasilkan rasa kantuk keesokan harinya. Memasuki usia 30-an, efeknya bisa terasa lebih panjang.

Kurang tidur dapat membuat tubuh terasa lelah dan sulit berkonsentrasi. Akibatnya, keinginan untuk tidur lebih awal mulai terasa jauh lebih menarik dibandingkan ajakan nongkrong sampai tengah malam.

Kalau dulu akhir pekan digunakan untuk keluar rumah, sekarang tidur cukup selama beberapa jam tambahan bisa terasa seperti hadiah.

Duduk terlalu lama mulai ada konsekuensinya

Pekerjaan yang mengharuskan duduk berjam-jam di depan komputer juga dapat membuat tubuh terasa kaku.

Leher, bahu dan punggung bisa terasa tidak nyaman setelah terlalu lama berada dalam posisi yang sama. Dari sinilah koyo atau minyak angin kadang berubah status dari barang cadangan menjadi penghuni tetap di tas atau laci meja.

Bukan berarti usia 30 otomatis membuat tubuh menjadi “jompo”. Kebiasaan sehari-hari, aktivitas fisik, kualitas tidur dan kondisi kesehatan juga ikut berpengaruh.

Olahraga mulai terasa penting

Di usia yang lebih muda, olahraga terkadang dilakukan karena ingin menjaga kebugaran atau sekadar mengikuti tren. Memasuki usia 30-an, olahraga bisa terasa seperti investasi agar tubuh tetap nyaman digunakan.

Menariknya, tantangannya bukan hanya memulai olahraga, tetapi juga menghadapi rasa pegal setelahnya.

Ada momen ketika seseorang baru melakukan olahraga ringan, tetapi keesokan harinya berjalan sedikit lebih pelan sambil bertanya-tanya, “Kenapa kemarin saya sok atlet?”

Minyak angin naik kelas

Minyak angin yang dulu mungkin dianggap barang milik orang tua perlahan mendapatkan tempat tersendiri.

Masuk tas, laci kantor, mobil bahkan kamar tidur. Begitu badan terasa kurang nyaman, tangan otomatis mencari botol kecil tersebut.

Koyo pun demikian. Barang yang dahulu terlihat biasa saja kini bisa menjadi “peralatan darurat” setelah terlalu lama duduk, salah posisi tidur atau melakukan aktivitas yang tidak biasa.

Sebenarnya bukan soal menjadi tua

Perubahan yang dirasakan pada usia 30-an tidak berarti seseorang tiba-tiba menjadi tua. Tubuh memang mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, sementara kebiasaan hidup dan beban aktivitas juga ikut berubah.

Karena itu, menjaga pola tidur, tetap aktif bergerak, mengonsumsi makanan bergizi dan memberikan waktu istirahat yang cukup tetap penting.

Kalau sesekali masih membutuhkan minyak angin atau koyo, anggap saja sebagai salah satu tanda bahwa tubuh sedang meminta perhatian.

Lagipula, memasuki usia 30-an bukan berarti hidup berubah menjadi kehidupan para lansia. Hanya saja, sekarang kita mulai memahami mengapa orang tua dulu begitu bahagia ketika menemukan posisi tidur yang nyaman.

Dan ya, mungkin sekarang kita juga mulai mengerti kenapa minyak angin selalu ada di rumah.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....