Ebola Tewaskan Warga di Provinsi Baru Kongo, Waspadai Penularan Meluas

  • 14 Agt 2026 06:27 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari Reuters Otoritas kesehatan Republik Demokratik Kongo (DRC) melaporkan kematian akibat Ebola di Provinsi Bas-Uele, wilayah yang sebelumnya belum tercatat memiliki kasus dalam wabah yang sedang berlangsung. Penemuan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi penularan yang lebih luas karena pasien diketahui melakukan kontak dengan sejumlah orang sebelum dan setelah mengalami gejala berat.

Kasus tersebut melibatkan seorang pengemudi ojek yang melakukan perjalanan dari Provinsi Haut-Uele menuju Bas-Uele. Kepala Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo, Jean-Jacques Muyembe, mengatakan pasien meninggal di ibu kota Bas-Uele, Buta, setelah mengalami gejala pendarahan yang konsisten dengan Ebola. Hasil pemeriksaan laboratorium kemudian mengonfirmasi pasien positif Ebola setelah meninggal dunia.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena pasien sempat mendatangi beberapa fasilitas kesehatan sebelum meninggal. Selain itu, sejumlah pengemudi ojek juga berupaya mengambil jenazah korban sebelum polisi turun tangan. Situasi tersebut membuat otoritas kesehatan mewaspadai kemungkinan adanya orang yang terpapar dan selanjutnya perlu menjalani pemantauan serta penelusuran kontak.

Haut-Uele merupakan salah satu dari lima provinsi yang sebelumnya terdampak wabah. Data pemerintah terbaru yang dikutip Reuters mencatat provinsi tersebut telah memiliki 113 kasus terkonfirmasi. Sementara itu, Bas-Uele belum secara resmi dimasukkan sebagai provinsi terdampak hingga ditemukan bukti adanya penularan lokal.

Wabah Ebola yang berlangsung saat ini merupakan wabah ke-17 di DRC dan disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya menyatakan wabah tersebut sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional atau PHEIC. WHO juga mencatat penyebaran penyakit berlangsung dalam situasi yang kompleks, termasuk mobilitas penduduk, aktivitas perdagangan lintas wilayah, kondisi keamanan, dan keterbatasan akses di sejumlah daerah.

Menurut data pemerintah yang dirilis Rabu, hingga 12 Agustus 2026 wabah tersebut telah menyebabkan 4.566 kasus dan 2.128 kematian. Jumlah kasus itu menjadikan wabah Ebola kali ini sebagai yang terbesar kedua dalam catatan sejarah, setelah wabah Afrika Barat pada 2014–2016. Angka tersebut juga menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi otoritas kesehatan dalam menghentikan rantai penularan.

Perluasan pemantauan ke Bas-Uele menjadi penting untuk memastikan apakah kasus tersebut merupakan infeksi yang dibawa dari wilayah terdampak atau telah terjadi penularan lokal. WHO menyebut penguatan surveilans, pelacakan kontak, kesiapan fasilitas kesehatan, pengendalian infeksi, serta keterlibatan masyarakat sebagai komponen penting dalam respons wabah. Upaya cepat dan terkoordinasi diharapkan dapat mencegah munculnya klaster baru dan membatasi penyebaran Ebola ke wilayah lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....