Australia Temukan Kasus H5N1 Perdana pada Burung Laut Asli Nasional

  • 11 Jul 2026 09:22 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Australia mengonfirmasi kasus pertama virus flu burung H5N1 pada burung laut asli negara itu, menandai babak baru penyebaran penyakit setelah virus tersebut mencapai daratan Australia pada Juni 2026. Kasus tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena untuk pertama kalinya infeksi ditemukan pada spesies burung laut lokal, bukan hanya pada burung migran yang melintasi wilayah Australia.

Menteri Pertanian Australia Julie Collins mengatakan hasil pengujian laboratorium oleh badan sains nasional Australia memastikan virus H5N1 terdeteksi pada seekor greater crested tern yang ditemukan di kota pesisir Robe, Australia Selatan. Sebelumnya, seluruh kasus H5N1 yang ditemukan di Australia hanya terjadi pada burung laut migran yang diduga membawa virus dari jalur migrasi internasional.

Dengan tambahan temuan tersebut, jumlah total kasus H5N1 yang telah dikonfirmasi di Australia meningkat menjadi 12. Pada hari yang sama, otoritas juga mengonfirmasi dua infeksi baru di Australia Selatan dan satu kasus lainnya di Australia Barat. Meski demikian, pemerintah menegaskan belum ada indikasi penyebaran virus ke peternakan unggas maupun sektor pertanian secara lebih luas.

Julie Collins menyebut perkembangan ini memang mengkhawatirkan, tetapi tidak sepenuhnya di luar perkiraan para ahli. Menurutnya, para ilmuwan masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui jalur penularan yang menyebabkan burung laut asli Australia tersebut terinfeksi. Dugaan sementara menunjukkan burung itu berbagi habitat pesisir dengan burung migran yang sebelumnya telah dinyatakan positif H5N1.

Virus H5N1 dikenal sebagai salah satu jenis flu burung yang sangat patogen dan dapat menyebabkan kematian tinggi pada unggas liar maupun unggas ternak. Dalam beberapa tahun terakhir, virus ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia dan memicu kematian massal burung liar serta mamalia laut di sejumlah negara. Karena itu, sistem pengawasan satwa liar dan biosekuriti menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.

Australia sendiri menjadi benua terakhir yang mencatat kasus H5N1 di wilayah daratannya pada Juni 2026. Sebelumnya, virus tersebut telah terdeteksi pada akhir 2025 di Pulau Heard, wilayah sub-Antartika Australia yang berjarak sekitar 4.100 kilometer dari daratan utama. Sejak saat itu, pemerintah memperketat pemantauan terhadap burung migran dan populasi satwa liar di berbagai kawasan pesisir.

Otoritas Australia menegaskan akan terus meningkatkan pengawasan, memperluas pengujian laboratorium, serta mengimbau masyarakat untuk tidak menyentuh burung liar yang sakit atau mati tanpa perlindungan. Langkah cepat dalam deteksi dini dan koordinasi antara pemerintah, ilmuwan, serta sektor peternakan diharapkan mampu mencegah penyebaran H5N1 ke industri unggas sekaligus menjaga kesehatan masyarakat dan kelestarian ekosistem satwa liar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....