Serangan Tim Pemakaman Ebola di Afrika Picu Kekhawatiran Penularan Baru

  • 04 Jun 2026 17:58 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari Reuters Republik Demokratik Kongo kembali menghadapi tantangan serius dalam upaya penanggulangan wabah Ebola setelah terjadinya serangan terhadap tim pemakaman khusus Ebola di Provinsi Kivu Selatan. Insiden yang terjadi di Kota Katana, sekitar 30 kilometer di utara Bukavu, memaksa petugas meninggalkan peti jenazah yang seharusnya ditangani sesuai prosedur kesehatan ketat. Kementerian Kesehatan Kongo menyatakan kejadian tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran virus karena jenazah kemudian ditangani oleh warga setempat.

Tim pemakaman yang menjadi sasaran merupakan kelompok petugas terlatih yang bertugas melakukan pemakaman aman dan bermartabat bagi korban Ebola. Penanganan jenazah korban Ebola membutuhkan prosedur khusus karena tubuh korban masih dapat menularkan virus setelah meninggal dunia. Hingga kini, otoritas kesehatan belum menjelaskan secara rinci penyebab terjadinya penyerangan terhadap petugas tersebut.

Peristiwa ini mencerminkan masih kuatnya ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap upaya penanganan Ebola di wilayah timur Kongo. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah petugas kesehatan dan tim respons wabah menghadapi penolakan dari keluarga korban maupun warga yang meragukan penyebab kematian pasien. Kondisi ini menjadi hambatan besar bagi pemerintah dan organisasi kesehatan dalam memutus rantai penyebaran penyakit.

Serangan serupa juga dilaporkan terjadi di Kota Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, pada hari yang sama. Sejumlah warga menyerang tim respons Ebola yang sedang bertugas di area pemakaman sehingga sedikitnya empat orang mengalami luka-luka. Rangkaian insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa resistensi masyarakat dapat memperburuk situasi wabah yang saat ini terus berkembang.

Sejak wabah Ebola terbaru diumumkan pada 15 Mei lalu, Kongo telah mencatat 363 kasus terkonfirmasi dengan 62 kematian. Wabah kali ini merupakan wabah Ebola ke-17 yang pernah terjadi di negara tersebut. Dalam laporan terbaru, otoritas kesehatan mengonfirmasi tambahan 19 kasus baru, termasuk dua kematian, dengan penyebaran yang kini menjangkau 17 dari 36 zona kesehatan di Provinsi Ituri.

Selain Ituri, kasus Ebola juga ditemukan di tujuh zona kesehatan di Provinsi Kivu Utara dan satu zona kesehatan di Kivu Selatan. Wabah ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, salah satu varian virus Ebola yang pernah memicu wabah di Afrika Timur dan Tengah. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau jenazah yang terinfeksi, sehingga penanganan kasus dan proses pemakaman menjadi faktor penting dalam pengendalian wabah.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah Kongo melaporkan sejumlah perkembangan positif. Sebanyak 32 orang yang sempat menjadi kontak erat pasien di wilayah Rwampara, Ituri, telah menyelesaikan masa pemantauan selama 21 hari dan dinyatakan bebas dari Ebola. Sementara itu, seorang pasien yang berhasil pulih di Kota Goma, Provinsi Kivu Utara, telah dipersiapkan untuk kembali ke keluarganya. Keberhasilan pemulihan pasien dan pemantauan kontak erat menunjukkan bahwa langkah-langkah kesehatan masyarakat tetap memberikan harapan dalam upaya mengendalikan wabah Ebola yang masih berlangsung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....