Singapura Perkuat Deteksi Dini Penyakit Ginjal Kronis

  • 09 Mei 2026 18:25 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari The Straits Times Lebih dari 200.000 warga Singapura terdeteksi memiliki tanda gangguan fungsi ginjal dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Temuan ini menjadi perhatian serius pemerintah karena penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) dapat berkembang secara perlahan tanpa gejala jelas hingga memasuki tahap lanjut.

Berdasarkan hasil National Population Health Survey (NPHS) yang dirilis Kementerian Kesehatan (MOH) pada Oktober 2025, prevalensi CKD pada warga usia 18–74 tahun meningkat menjadi 13,9 persen pada periode 2023–2024. Angka tersebut hampir 60 persen lebih tinggi dibandingkan 8,7 persen pada periode 2019–2020, setelah disesuaikan dengan perbedaan usia responden.

CKD merupakan kondisi kerusakan ginjal jangka panjang yang menyebabkan penurunan kemampuan penyaringan secara bertahap dan tidak dapat dipulihkan. Penyakit ini umumnya dipicu faktor risiko seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Dalam kondisi tertentu, CKD dapat berkembang hingga tahap akhir yang memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus dan beban layanan dialisis, MOH telah memperluas program penanganan CKD melalui pendekatan kesehatan preventif. Sejak 2017, program Holistic Approach in Lowering and Tracking Chronic Kidney Disease (HALT-CKD) diterapkan di fasilitas kesehatan publik guna memperlambat progresivitas penyakit.

Upaya tersebut kemudian diperluas ke sektor layanan kesehatan swasta melalui program Healthier SG, yang melibatkan sekitar 1.000 klinik dan dokter umum (GP). Hingga Februari 2026, terdapat sekitar 1.100 klinik Healthier SG yang berpartisipasi dalam pemantauan dan perawatan pasien CKD, dengan pedoman perawatan khusus yang mulai diterapkan sejak Januari 2025 untuk menyamakan standar layanan.

Data menunjukkan lebih dari 110.000 pasien CKD telah terdaftar dalam program HALT-CKD di fasilitas kesehatan publik hingga Maret 2024. Lebih dari 80 persen di antaranya telah mendapatkan obat pelindung ginjal, termasuk terapi modern yang terbukti membantu memperlambat penurunan fungsi ginjal. Pemantauan juga dilakukan terhadap kontrol gula darah, tekanan darah, kebiasaan merokok, serta kondisi penyerta lainnya.

Survei NPHS juga mengungkap bahwa prevalensi CKD paling tinggi ditemukan pada individu yang memiliki diabetes dan hipertensi sekaligus, yaitu 47,4 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya memiliki diabetes (34,4 persen), hanya hipertensi (21,4 persen), maupun yang tidak memiliki kedua kondisi tersebut (6,3 persen). Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan rutin, terutama bagi kelompok berisiko.

Sejumlah pihak kesehatan menekankan bahwa CKD sering berkembang tanpa gejala hingga stadium lanjut. Karena itu, pemeriksaan tahunan ginjal bagi penderita diabetes dan hipertensi menjadi bagian dari kebijakan kesehatan nasional. Pemerintah juga terus mendorong gaya hidup sehat, pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, serta pengendalian faktor risiko guna mencegah peningkatan kasus yang berpotensi membebani sistem kesehatan, termasuk kebutuhan dialisis di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....