Autisme Dapat Dikenali Sejak Dini
- 27 Apr 2026 14:57 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara anak berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta berperilaku. Disebut sebagai “spektrum” karena setiap anak memiliki gejala dan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Bagi sebagian keluarga, memahami kondisi ini sering kali menjadi langkah awal yang penuh pertanyaan sekaligus harapan.
Secara global, World Health Organization memperkirakan sekitar 1 dari 100 anak mengalami autisme. Sementara itu, data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan angka yang lebih tinggi, yakni sekitar 1 dari 36 anak di Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada sekitar 2,4 juta anak dengan autisme. Namun, jumlah ini diyakini belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena masih banyak anak yang belum terdiagnosis.
Hingga kini, penyebab pasti autisme belum diketahui. Para ahli meyakini kondisi ini terjadi karena kombinasi berbagai faktor, seperti genetik, perbedaan perkembangan otak, hingga faktor lingkungan selama kehamilan atau persalinan. Yang penting untuk dipahami, autisme bukan disebabkan oleh pola asuh orang tua dan tidak ada kaitannya dengan vaksin.
Tanda-tanda autisme sebenarnya dapat dikenali sejak dini. Pada usia di bawah satu tahun, anak mungkin jarang melakukan kontak mata, tidak merespons saat dipanggil, atau minim ekspresi. Memasuki usia satu hingga dua tahun, anak bisa mengalami keterlambatan bicara, tidak menunjuk benda yang diinginkan, atau tampak kurang tertarik berinteraksi. Sementara pada usia di atas dua tahun, gejala dapat berupa kehilangan kemampuan bicara, mengulang kata secara terus-menerus, hingga melakukan gerakan berulang dan menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap suara atau sentuhan.
Sayangnya, di Indonesia, banyak anak baru terdiagnosis setelah usia tiga hingga empat tahun. Keterlambatan ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman orang tua, anggapan bahwa anak hanya “telat bicara”, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga adanya stigma sosial. Padahal, deteksi dan intervensi sejak dini sangat berperan penting dalam perkembangan anak.
Autisme memang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya karena merupakan bagian dari perkembangan otak. Namun, bukan berarti anak dengan autisme tidak bisa berkembang. Dengan penanganan yang tepat dan dilakukan sejak dini, banyak anak mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, menjadi lebih mandiri, bahkan bersekolah dan beraktivitas seperti anak lainnya.
Berbagai terapi dapat membantu mengoptimalkan potensi anak, mulai dari terapi wicara untuk melatih komunikasi, terapi perilaku seperti Applied Behavior Analysis (ABA), terapi okupasi untuk aktivitas sehari-hari, hingga terapi sensorik untuk membantu anak mengelola rangsangan dari lingkungan. Selain itu, pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan anak juga menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang mereka.
Pada akhirnya, memahami autisme bukan hanya soal mengenali gejala, tetapi juga tentang membuka ruang empati. Setiap anak memiliki cara unik dalam melihat dunia, dan dengan dukungan yang tepat, mereka tetap memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan menjalani kehidupan yang bermakna.
Sumber
Awal Bross Hospital
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....